
Seharian Rei menunggu kabar dari Rinai . Setiap beberapa menit sekali Rei melihat ponsel miliknya mememastikan apakah Rinai sudah menghubunginya lagi atau belum. Ke khawatiran terlihat jelas di wajah Rei saat ini.
Pukul 21 : 45
Rinai kembali pulang ke rumah , langkah santai seperti biasa Rinai berjalan memasuki rumah . Rei yang dari tadi menunggu di sofa sambil menonton televisi segera bangkit dari duduknya ketika melihat Rinai sudah kembali kerumah.
"Lo baik - baik saja kan ? Lo nggak habis berkelahi lagi kan ? " Rei melihat dengan seksama memastikan jika Rinai dalam ke adaan baik - baik saja.
Rinai memperlihatkan senyuman khasnya lengkap dengan dua lesung pipi. "Gue nggak apa - apa" jawab Rinai .
"Yakin Lo nggak apa - apa?" Rei memastikan .
"Iya, Gue mau ke kamar dulu hoammmm ngantuk" Rinai bergegas beranjak meninggalkan Rei sebelum Rei bertanya macam - macam .
"Apa yang sebenarnya sedang Lo sembunyikan dari Gue Nai " Rei menatap punggung Rinai yang semakin menjauh.
****
"Rinai sudah berjalan ke tempatmu bersiap-siaplah" Siska menutup panggilan telfonnya .
"Baiklah Gue mengerti" Wina menyeringai licik.
__ADS_1
Baru saja Rinai memasuki ruang toilet cewek , Rinai di kagetkan dengan kondisi dahi Wina memar , serta pakaian yang basah kuyup.
"Wina, Lo..... ayo Gue antar ke ruang kesehatan" Rinai mengulurkan tangannya hendak meraih Wina . Namun Wina lebih dulu menepis uluran tangan Rinai .
"Lo...." Rinai terkejut dengan perlakuan sikap Wina yang menepis tangannya enggan menerima pertolongan dari nya.
" Rinai, cewek biang kerusuhan yang menghilang sekian lama dan tanpa jejak . Pentolan salah satu kampus di Jakarta sang BlACK ANGEL kini bersembunyi di kampus ini dan berdiri tepat di hadapan Gue" Wina berjalan mendekat ke sisi tembok .
"Dari mana Lo....???" Rinai sedikit terkejut karena hanya sedikit orang saja yang mengetahui rahasia dirinya yang sengaja dia sembunyikan selama ini dari banyak orang dan kini Wina telah mengetahui rahasia tentang dirinya .
"Dari mana Gue bisa tahu ? Itukan yang ingin Lo tanyakan " Wina tersenyum puas melihat ekspresi wajah terkejut Rinai saat ini.
Rinai masih tak habis pikir bagaimana Wina bisa tahu tentang masa lalunya.
" Mau Lo apa dari Gue?" Tanya Rinai santai mulai mengerti maksud perkataan Wina.
"Sebentar lagi Lo akan tahu sendiri mau gue apa dari Lo" Wina menunggu aba - aba dari Siska sebelum melanjutkan rencana besarnya. Tak begitu lama handphone Wina berdering beberapa detik . Wina mengerti apa yang harus di lakukan setelah ini.
"Apa salah Gue, kenapa Lo pukul Gue!!" Wina memegangi dahinya yang memar .
"Lo gila apa yang Lo....". Rinai terkejut melihat apa yang di lakukan oleh Wina dan di saat yang bersamaan Rei , Ale dan Ridho serta Siska datang melihat Wina terduduk di lantai dengan dahi memar dan pakaian yang juga basah.
Rei segera menghampiri Wina dan membantunya berdiri .
"Rinai !!!! Lo sudah keterlaluan" bentak Rei .
" Rei ini nggak seperti yang kalian lihat Gue nggak mengerti kenapa Wina tiba - tiba melukai dirinya sendiri tadi " Rinai berusaha menjelaskan .
" Gue tidak tahu tiba - tiba Rinai siram Gue dan dorong Gue tanpa sebab " Wina menjelaskan .
__ADS_1
"Dia berbohong " elak Rinai membela diri.
"Jelas - jelas Gue baru datang ke sini dan dia sudah dalam keadaan seperti itu ".
"Untuk apa Gue lukain diri Gue sendiri , kenapa Lo sejahat ini sama Gue apa salah Gue ke Lo Nai" Wina memasang raut wajah sedih. Wina memegangi dahinya dan berdiri sedikit gontai.
"Semua yang dia katakan itu bohong tolong percaya sama Gue Rei " sekali lagi Rinai mencoba meyakinkan Rei .
"Lo sungguh keterlaluanNai, Gue nggak sangka Lo bisa bertindak sejauh ini" Rei sedikit kecewa dengan Rinai .
"Tapi Gue.."
"Ayo win kita pergi dari sini " Rei membantu Wina berjalan meninggalkan Rinai ,Ale dan Ridho.
Rinai menatap ke arah Ale dan Ridho yang masih berdiri di ambang pintu masuk dan belum juga beranjak pergi.
"Le , dho kalian percaya sama Gue kan ? Kalau Wina sudah menjebak Gue" Rinai menatap kedua sahabatnya itu bergantian .
****
__ADS_1