
Hujan turun dengan deras , Rinai duduk di kantin sendirian di mejanya , melahap bakso hangat dengan sambal ekstra pedas. Ale dan Ridho yang kebetulan lewat datang menghampiri Rinai dan duduk di sampingnya memesan bakso yang sama seperti yang Rinai makan saat ini.
"Nai " sapa Ale .
" Hai" Rinai membalas senyum Ale dan Ridho.
"Sendiri saja, Rei mana kok nggak kelihatan bareng?" tanya Ridho.
"Iya , Rei nggak tahu di mana cba telfon saja dia klo ada perlu penting" saran Rinai .
"Nai " panggil Ale sedikit ragu .
"Iya" kini pandangan Rinai tertuju pada Ale .
"Sebenarnya Lo dan Rei itu ada hubungan apa sih kalian pacaran ya?" tanya Ale setengah berbisik . Ridho ikut mendengarkan dengan seksama dan juga ingin tahu kebenaran hubungan antara Rei dan dirinya .
"Nggak" jawab Rinai datar dan kembali memasukan bakso ke dalam mulutnya.
"Maksud Lo ? " Ale semakin penasaran dan ingin lebih memastikan.
"Maaf ini pesanannya mas Ale " salah seorang pelayan menyajikan pesanan Ale dan Ridho di atas meja.
"Gue dan Rei cuma bersahabat " Rinai setengah berbisik .
"Kenapa memang tanya masalah itu?" Rinai menatap Ale dan Ridho bergantian.
"Nggak apa - apa cuma mau tahu saja " Ale tersenyum miris lalu melahap bakso pesanannya .
__ADS_1
Tidak begitu lama Rei datang dan langsung menenggak setengah minuman dari gelas Rinai tanpa izin seperti biasa.
"Minuman GU....e" belum sempat mencegah Rei sudah menghabiskan lebih dari setengah gelas minumannya.
Rei menarik kursi dan duduk di samping Ridho.
"Capek banget " Rei menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Deg....deg..... ( Rinai berdiri dari tempat duduknya).
"Gue harus ke toilet " Rinai terburu - buru pergi hingga melupakan tas miliknya yang masih tergeletak di kursi.
Rinai berlari ke arah gerbang kampus menghentikan taxi yang lewat.
"Tolong antar saya ke clinik Medika " keringat dingin hampir membasahi seluruh pakaian yg dikenakan saat ini.
"Rinai mengeluarkan ponsel dari saku celana dengan cepat jarinya menekan tombol menunggu hingga nada sambung berhenti berdering.
Mila dan beberapa perawat sudah bersiap untuk ke datangan Rinai . Baru saja taxi menepi di depan pintu IGD Mila segera bergegas mengeluarkan Rinai dari taxi dan membawanya segera untuk mendapat perawatan darurat.
Selang infus dan oxigen sudah terpasang di tubuh Rinai. Selama berjam-jam Rinai tak sadarkan diri. Mila terus memantau perkembangan Rinai tak sedikitpun Mila beranjak dari tempatnya saat ini.
" Sudah jam berapa sekarang?" Rinai membuka matanya dan bertanya pada mila yang duduk tak jauh dari tempatnya berbaring saat ini .
" Jam 10 pagi " Mila melihat jarum jam di pergelangan tangan kanannya.
"Loh mau kemana ? Kamu tidak boleh bangun dulu" Mila bangkit dari duduknya segera mencegah tangan Rinai yang akan melepas selang infus dan oxigen yang menempel di tubuhnya secara paksa.
__ADS_1
"Saya harus pulang , Rei pasti khawatir " Rinai bersikeras .
"Tidak boleh , Rinai tolong jangan lewati kesabaran saya . Kondisi kamu belum memungkinkan untuk pergi dari klinik saat ini kamu masih butuh perawatan" Mila mulai hilang kesabaran .
"Tapi Mil"
"Rinai tolong dengarkan saya kali ini, saya mohon" Mila memohon agar Rinai tak pergi .
" Baiklah kalau begitu tolong berikan ponsel saya, saya harus menelfon rumah"
Mila tersenyum dan mengambilkan ponsel Rinai dari atas meja.
Jari jempol Rinai mulai mencari nomor kontak Rei di layar handphone miliknya lalu menekan tombol calling menunggu panggilan di jawab oleh Rei .
"Hallo Rei "
"Rinai Lo kemana, kenapa semalaman tidak pulang . Sekarang Lo di mana " tanya Rei dengan nada tinggi.
"Sorry Gue kemarin nginap di rumah Mila saking asiknya sampe lupa kasih kabar" Rinai beralasan .
"Kirim alamatnya gue kesana sekarang juga".Rei sedikit memaksa.
" Hallo Rei , suaranya putus - putus hallo hallo....." Rinai segera mematikan ponsel miliknya.
__ADS_1