
"Lo sudah atur semua untuk acara besok ? " Tanya Rei di ujung telepon .
" Semua sudah beres sesuai dengan yang Lo minta" ucap suara di telepon .
" Thanks bro " Rei mematikan sambungan telepon.
Suara bising knalpot motor santer terdengar hingga ke dalam rumah . Rei mengintip dari balik kaca jendela di lihatnya lagi - lagi Rinai di antar pulang oleh Ale .
Rinai melirik jam di pergelangan tangan kirinya terlihat waktu sudah menunjukan pukul 20 : 03 Rinai melangkah membuka pintu . Terlihat Rei sedang asik menonton bola di depan televisi seorang diri, kebetulan selama dua hari ini Mamah pergi ke tempat Nenek karena kondisi kesehatan Nenek sedang kurang baik.Tanpa menyapa Rinai melewati Rei begitu saja berlalu menuju kamar.
Hujan turun semakin deras, kilatan cahaya di iringi suara gemuruh semakin santer terdengar. Rinai bergegas menutup gorden di kamar di saat yang bersamaan listrik padam semua menjadi gelap gulita . Rinai berjalan dengan tangan meraba sekitar untuk mencari pintu keluar . Rinai berjalan perlahan menuruni anak tangga satu - persatu hanya mengandalkan ingatan denah rumah Rinai berjalan di kegelapan tanpa cahaya sedikitpun menuju dapur untuk mengambil lilin yang tersimpan di laci dapur .
Baru saja akan memasuki dapur , Rinai dikagetkan oleh Rei yang baru saja akan keluar dari dapur dengan sebatang lilin di tangan.
"Astaga!" Rinai terkejut.
" Cuma ada sisa satu lilin dirumah" Rei berjalan melewati Rinai begitu saja .
"Lalu Gue gimana?" Rinai menatap punggung Rei yang berjalan melaluinya begitu saja.
__ADS_1
Namun tak sedikitpun menjawab dan Rei terus saja berjalan meninggalkan Rinai tanpa menoleh sedikitpun menuju ruang tengah .
"Rei....tunggu Gue" Rinai mengikuti langkah kaki jenjang Rei .
Hanya menggunakan sebatang lilin sebagai satu - satunya sumber penerangan yang ada, Rinai dan Rei duduk di sofa panjang saling berjauhan satu sama lain.
"Gue" ucap Rinai dan Rei berbarengan saling menatap satu sama lain.
"Ada yang Gue" sekali lagi serentak .
" Lo dulu" Rinai memberikan kesempatan pada Rei untuk bicara lebih dulu .
" Lo masih marah sama Gue?" Tanya Rinai sedikit waswas.
Rei mendelik mendengar pertanyaan dari Rinai .
" Apa yang harus Gue lakuin agar Lo percaya kalau apa yang Lo lihat tidak seperti apa yang Lo kira selama ini " sekali lagi Rinai mencoba meyakinkan Rei jika dia tidak bersalah.
" Seminggu ini Lo terlihat sering jalan bareng Ale . Lo suka sama Ale ?" tanya Rei mengalihkan pembicaraan berharap Rinai bersedia menjawab pertanyaannya, namun di sisi lain Rei belum siap mendengar jawaban dari Rinai .
__ADS_1
Hening....
"Besok pagi Lo berangkat bareng Gue" Rei berdiri dari tempat duduknya dan mengambil lilin dari atas meja lalu membawanya .
"Loh kok di bawa, Rei tunggu Gue !" Rinai mengikuti langkah Rei hingga di depan pintu kamar .
Rinai maupun Rei menghentikan langkahnya . Rei berbalik badan lalu memberikan lilin yang cuma ada satu-satunya ke tangan Rinai .
"Lo bawa saja , Gue mau tidur sudah malam" Rei beranjak meninggalkan Rinai yang masih terpaku menatapnya berlalu dari pandangan .
To be continued...
Don't be silent readers guys and don't forget to click favorite , comment, and share sebanyak mungkin
Buat tambah semangat author 😊 thanks you .
__ADS_1