
Rei ,Ale , ridho , Miko dan Anisa mereka semua berkumpul di depan ruang tunggu menunggu kabar selanjutnya dari dokter . Terlihat jelas kecemasan di wajah Rei saat ini .
“ Reii.. gimana kondisi Rinai sekarang , di mana Rinai??” Mama Rei yang baru saja tiba ikut mencemaskan kondisi Rinai saat ini .
“Rinai masih di dalam Mah , dari tadi dokter maupun perawat belum ada yang keluar dari ruangan”
“Rinai pasti akan baik – baik saja, dia itu anak yang kuat percaya deh sama Mama” ucapnya menenangkan kecemasan Rei .
Sudah lebih dari satu jam dokter maupun perawat belum juga ada yang keluar dari balik pintu tempat di mana Rinai berada saat ini .
Pintu yang semula tertutup begitu rapat kini terbuka seorang dokter keluar dari balik pintu dengan wajah begitu muram .
"Bagaimana kondisi Rinai saat ini dok?" Tanya Mamah cemas .
“Iya bagaimana Rinai , dia pasti akan baik – baik sajakan dok?” tanya Rei cemas .
"Jantungnya melemah , untuk saat ini dia masih memiliki tekad yang luar biasa untuk dapat bertahan dari Kelainan jantung yang dia idap sejak lahir . Dengan tekadnya untuk sembuh itulah yang membuatnya bisa bertahan hingga sejauh ini " Dr.Mila menjelaskan .
__ADS_1
Rei tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya . Cewek seperiang dan seceria Rinai, teman masa kecilnya yang selalu ceroboh dan bertindak semaunya itu menderita kelainan jantung bawaan dan menanggung rasa sakitnya seorang diri tanpa ada orang luar yang tahu akan kondisinya yang sesungguhnya.
“Apa boleh saya masuk dok saya ingin bersama Rinai, saya mohon” pinta Rei memohon.
“Baiklah tapi hanya 2 orang saja yang boleh masuk” Dr Mila mengizinkan.
“Terima kasih”tanpa buang waktu Rei segera masuk ke dalam ruang perawatan bersama Mamanya .
Rei melihat Rinai yang terbaring di atas tempat tidur dengan selang infus, oxigen dan beberapa kabel elektroda terpasang di tubuhnya.
"Dasar bodoh" runtuk Rei , terlihat kecemasan dan ketakutan luar biasa di wajah Rei , bahkan tak sedetikpun Rei beranjak dari tempat duduknya. Rei tidak mengalihkan pandangannya dari Rinai yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Mendengar kabar buruk mengenai kondisi Rinai , kedua orang tua dan kedua kakak Rinai segera datang ke rumah sakit , kecemasan dan ke khawatiran tampak jelas terlihat . Tidak sedikitpun Rei meninggalkan Rinai, tangannya terus menggenggam erat tangan Rinai berharap Rinai akan segera sadar dan membuka mata kembali . Sesekali Mila datang untuk melihat perkembangan kondisi Rinai .
"Nai, Lo ingat dulu waktu kita kecil Lo bilang kalau Lo akan membagi permen lolypop kesukaan Lo dengan Gue hingga kita dewasa . Lo ingat waktu itu Gue bilang kalau Gue nggak suka lolypop karena bisa merusak gigi tetapi Lo tetap memaksa agar Gue mau habiskan permen yang Lo berikan "
__ADS_1
"Dulu Lo sudah berjanji , sekarang Gue minta Lo untuk tepatin Lo . Janji untuk terus bersama Gue dan membagi setiap lolypop yang Lo punya dengan Gue". Tanpa sadar untuk pertama kalinya Rei meneteskan air mata di depan Rinai yang masih tidak sadarkan diri .
" Gue mau Lo buka mata dan lihat Gue, ingat Lo pernah kalahin Gue di pertandingan basket sebagai taruhannya Lo boleh minta apapun dari Gue bahkan sampai saat ini Lo belum minta apapun dari Gue please buka mata Lo Nai Gue akan lakukan apapun yg Lo minta asalkan Lo buka mata Lo " ucap Rei terbata.
Mamah menepuk pundak Rei lembut.
"Nai akan baik-baik saja , dia anak yang kuat percayalah" Mamah Rinai menyemangati Rei .
" Iya Tante Nai itu sangat kuat dia pasti akan mampu melewati semua ini " Rei tersenyum getir.
To be continued...
Don't be silent readers guys and don't forget to click favorite , comment, and share .
__ADS_1