
Ponsel Rinai kembali berdering bertuliskan Dr. Mila calling .
"Kenapa tidak di angkat?" Rei mendelik penuh curiga.
"Ini baru mau Gue angkat , hello ya Mil?"
"Kamu harus segera kembali ke sini sekarang juga Nai " Mila meminta Rinai untuk kembali.
"Iya baiklah 45 menit lagi Gue sampai , iya baik , oke bye" Rinai menutup sambungan telfonnya .
"Siapa tadi yang telfon?" Selidik Rei.
"Mila temen Gue yang tadi Gue katakan . Urusan Gue masih belum selesai sama dia jadi Gue di minta untuk kembali kesana " Rinai menatap balik pada Rei .
"Oh iya selamat ya atas kemenangan kalian " Rinai tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Thanks "
" Lo bukannya harus bersama team basket Lo buat rayain kemenangan kalian , sebaiknya Lo kembali deh kasian yang lain Lo tinggal gitu saja "
"Lalu Lo sendiri ?" Rei mendelik.
"Gue harus ketempat Mila dulu sebentar, selesai dari sana Gue langsung pulang"
"Ya sudah ayo Gue antar ke tempat temen Lo" paksa Rei .
"Jangan!! Ehh maksud Gue Lo di sini saja lagian sahabat - sahabat Lo lebih butuh Lo sekarang , lagian Gue bisa naik taxi " Rinai mencari alasan agar Rei tidak memaksa untuk pergi dengannya .
"Jangan matiin ponsel Lo , satu lagi klo Gue telfon harus Lo angkat dalam 3 detik awas kalau sampai matikan ponsel lagi tamat riwayat Lo " ancam Rei meski sedikit ragu Rei tetap membiarkan Rinai pergi seorang diri.
__ADS_1
****
Rei dan team basket kampus merayakan kemenangannya tanpa kehadiran Rinai hal ini membuat beberapa orang senang terutama para fans fanatiknya dari Rei cs. Semenjak kehadiran Rinai para cowok populer selalu saja mengelilinginya bahkan mengagumi Rinai . Bahkan seorang Rain ( Rei ) sampai tergila - gila pada Rinai .
Tak ingin membuang kesempatan yang ada Wina dan Siska datang menghampiri Rei untuk mengucapkan selamat atas kemenangan team basketnya hari ini.
"Rei , selamat ya atas kemenangan Lo dan team Lo " ucap Wina .
"Thanks " jawab Rei datar . Saat Rei akan beranjak pergi tangan Wina lebih dulu mencegahnya .
"Rei please , mau sampai kapan sih Lo menghindar dari Gue seperti ini"
"Win Lo tahu betul , di antara kita sudah tidak ada apa - apa lagi dan saat ini Gue sudah punya Rinai . Jadi Lo jangan berharap lebih dari Gue" Rei melepaskan tangan Wina dari lengannya lalu beranjak meninggalkan Wina tanpa menoleh sedikitpun dan kembali bergabung bersama yang lain.
Selang infus dan beberapa kabel - kabel sudah kembali terpasang di tubuh Rinai meski sedikit sakit namun tak sedikitpun Rinai mengeluh .
Demi untuk Rinai Dr Mila sampai pindah tugas ke rumah sakit kota di mana Rinai berada saat ini. Kedekatan hubungan Mila dan keluarga Rinai begitu erat. Mila ingin membalas budi baik keluarga Rinai yang sudah berjasa mengurusnya dari kecil dan menyekolahkannya hingga menjadi seorang dokter . Sudah enam tahun ini Mila menjadi dokter pribadi Rinai dan sekaligus sepupu Rinai .
"Dok jangan melihat saya dengan ekspresi wajah seperti itu , sudah seperti ibu - ibu yang mau nagih hutang saja" Rinai mencoba untuk membuat Mila agar tidak khawatir.
" Jangan bercanda , sudah saya katakan kamu tidak usah terlalu formal kalau tidak ada orang lain di sini " Dr Mila menggelengkan kepala.
"Kamu itu harusnya di rawat intensif di rumah sakit besar di Jakarta di sana peralatannya sudah sangat lengkap dan lagi sudah saya peringatkan untuk tidak melakukan hal - hal yang bisa membuat kondisi kamu drop"
__ADS_1
"Iya iya saya sudah mendengarnya ratusan kali ya ampun "
" Sudah mendengar sebanyak itu tapi tidak pernah mau mendengarkan "
Suster datang dan membantu melepaskan semua jarum dan beberapa kabel yang menempel di tubuh Rinai.
"Saat ini masih di cari donor yang pas untukmu , sementara menunggu kamu jangan pernah dan kalau bisa jangan lakukan hal nekat lagi atau kamu bisa dalam bahaya" pesan Mila entah untuk yang keberapa kalinya.
"Iya saya mengerti baiklah dan terima kasih " Rinai tersenyum memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Ya sudah hati - hati di jalan, atau apa kamu mau di antar supir ?" tanya Mila .
"Tidak usah biar naik taxi saja kalau begitu saya pamit dulu" Rinai memeluk Mila sebelum beranjak pergi .
Rinai sampai rumah lebih dulu sebelum Rei sampai di rumah .
" Nai kamu sudah pulang ?" tanya Mamah ketika melihat Rinai memasuki rumah .
" Iya Tante Nai pulang, maaf tadi pagi Nai pergi tanpa pamit lebih dulu"
"Iya tidak apa - apa lain kali bilang sama Rei atau Tante agar kamu tidak khawatir , ya sudah kamu ganti baju habis itu makan "
"Iya Tante " Rinai mencium pipi Mamah Rei dan beranjak menuju kamar.
__ADS_1