RINDU RINAI UNTUK HUJAN

RINDU RINAI UNTUK HUJAN
Tantangan


__ADS_3

"MBULL TUNGGU!!" Rinai berlari,tangannya meraih roti dari atas piring yang memang telah disiapkan untuknya.


"Nai, minum dulu susunya"


Rinai kembali berbalik badan dan menghabiskan segelas susu di hadapannya.


"Makasih Tante, nai berangkat dulu. Mbul tunggu Guee!!" Rinai langsung beranjak mengejar Rei yang telah mendahuluinya.


Mamah Rei hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah Rinai yang terburu-buru mengejar Rei.


"Mbull tunggu" Rinai berlari keluar mengejar langkah cepat Rei.


"Nama gue Rain" Rei mendelik pada gadis mungil dihadapannya.


"O...ke" Rinai tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang pasti sudah minus gigi ompong.


Keduanya masuk ke dalam mobil jeep putih. Karena mulai hari ini Rinai sudah mulai kuliah di kampus yang sama, fakultas,jurusan,dan angkatan tahun yang juga sama.


Singkat cerita di kampusnya yang lama Rinai selalu terlibat dalam tawuran dan perkelahian antar mahasiswa. Rinai hampir tidak pernah absen dari ke ikut sertaanya, meski tubuh Rinai lebih mungil dibandingkan tubuh para cowok-cowok di kampusnya namun Rinai belum pernah kalah oleh kaum yang bergender pria. Sabuk hitam karate sudah Rinai peroleh semenjak usianya masih 9 tahun,tidak heran jika dia pandai membela diri. Rinai memiliki empat orang kakak dan semuanya adalah laki - laki. Pendidikan bela diri sudah Rinai tekuni sejak usianya masih 4 tahun.


Rei memarkirkan kendaraannya di area parkiran kampus.


"Inget ya selama dikampus jangan pernah panggil Gue Mbul, mengerti" Rei memperingatkan Rinai sebelum keluar dari dalam mobil.


Rei berjalan meninggalkan Rinai di belakang.


"Mb..eh REI.. Tunggu Gue" Rinai bergegas mengejar, mencoba mengimbangi langkah jenjang kaki Rei.


"Rei!!" Panggil Wina yang berjalan menghampirinya. Rei dan Rinai menghentikan langkahnya, menoleh melihat wina semakin mendekat dengan beberapa buku tebal di tangan.


"Biang masalah datang lagi" gerutu Rei pelan. Rei menarik tangan Rinai agar lebih mendekat padanya.

__ADS_1


Deg....


Rinai merasa seketika dan untuk sesaat jantungnya berhenti berdetak.


"Bantu Gue" bisik Rei pelan.


Wina semakin mendekat dan terkejut ketika melihat Rei cowok yang dia sukai selama ini telah menggandeng tangan cewek yang baru saja di lihatnya. Rinai tersenyum ramah,namun wina terlihat begitu kesal kepadanya.


"Ada apa win?" Lo manggil Gue?" tanya Rei.


"Gu..Gueee..." Wina melirik tangan Rei yang masih menggenggam tangan cewek di sampingnya.


"Oh iya kenalin ini Rinai pacar gue dia baru saja pindah ke kampus kita, sayang kenalin dia wina teman kampusku cuma beda jurusan"


"Rinai" ucapnya ramah menjulurkan tangannya namun wina tidak menerima uluran tangannya dan memilih untuk beranjak dari hadapan mereka berdua. Setelah dirasa cukup jauh Rei melepaskan genggamannya dari rinai.


"Heh.. Kenapa tadi lo bilang kalau gue ini pacar lo??" Tanya Rinai mendadak ingin tahu.


"Sebentar lagi kelas di mulai" Rei menepuk-nepuk kepala Rinai pelan lalu beranjak meninggalkan Rinai.


Hampir semua mata tertuju pada sosok Rinai yang datang bersamaan dengan Rei, sungguh pemandangan langka si cuek Rei bisa sedekat itu dengan cewek setelah sekian lama.


"Pagi semua!" Sapa Rinai memperlihatkan deretan gigi putih dan lesung pipinya.


"Anak pindahan??" tanya boni mendadak kepo.


"Iya, perkenalkan nama Gue Rinai,Gue pindahan dari jakarta" Rinai melihat ke sekeliling mencari bangku kosong yang bisa dia huni untuk jangka panjang.


"Duduk di sebelah gue sini masih kosong" ucap sebuah suara di deretan bangku belakang. Rinai melihat ke arah Rei yang sedang asik mengobrol dengan teman -teman cowoknya. Tidak ada pilihan lain Rinai berjalan menuju deretan bangku belakang karena cuma di situ tempat duduk yang masih kosong dan bisa dia tempati dalam waktu panjang. Rei menoleh ketika Rinai memilih untuk duduk di bangku belakang Dodo yang memiliki tubuh tinggi dan sedikit gemuk, Rei segera beranjak dari tempat duduknya.


"Duduk di tempat Gue sana, jangan disini" tanpa permisi Rei mengambil alih tempat duduk Rinai.

__ADS_1


Rei paham betul jika Rinai nekat duduk di belakang Dodo, bisa - bisa Rinai jadi seperti kurcaci diantara kerumunan para cowok, yang bisa dibilang semua berbadan lebih tinggi dan lebih besar darinya.


Dua mata kuliah sudah selesai Rinai merogoh saku kemejanya dan mengluarkan sebatang lolipop. Ini adalah hari pertamanya kuliah di tempat yang sama dengan Rei teman masa kecilnya. Baru beberapa jam saja Rinai sudah banyak memiliki teman terutama cowok. Sifatnya yang mudah bergaul dan beradaptasi di lingkungan baru membuatnya mudah akrab dengan siapapun, lesung pipi selalu terlihat ketika dia tersenyum dan tertawa. Diam - diam Rei selalu memperhatikan cewek mungil dan periang teman masa kecilnya yang dulu menghilang kini sudah kembali bersamanya.


Hujan turun sedikit deras terlihat Rei memainkan bola basket ditangannya seorang diri di lapangan kampus. Tetes air hujan sudah membasahi seluruh tubuh dan pakaian yang Rei kenakan. Rei memang gemar sekali bermain basket saat hujan turun . Wina selalu mengamati Rei dari jauh karena hanya dengan cara begitu Wina dapat memandang dan mengagumi sosok Rei .


Beberapa kali Rei mendribble bola lalu melemparkannya ke ring basket namun kali ini tembakannya meleset membentur dinding ring dan terjatuh memantul lalu menggelinding ke sisi lapangan hingga mengenai sepatu Rinai . **** sebuah lolipop  di mulutnya , Rinai mengambil bola basket di dekatnya , Rinai berjalan ke arah Rei , dan menerjang rintik hujan hingga membuat rambut serta pakaiannya basah hanya dalam hitungan kurang dari satu menit.


Rinai berjalan memasuki lapangan dengan tangan kanan mendribble bola basket, Rinai melewati Rei yang menatapnya dengan mata elang. Dalam sekali shoot bola berhasil masuk ke dalam ring . Bola memantul dengan keras  ke arah Rei berdiri saat ini. Dengan cepat Rei menangkap bola basket. Rinai tersenyum .


Rinai berjalan maju mengambil alih bola dari genggaman Rei .


Rinai mendongakkan kepala menatap wajah Rei yang basah karena hujan.


"Kalau Lo bisa kalahin Gue main basket gue akan menuruti apapun yang Lo perintahkan selama seminggu berturut - turut, tapi....." Rinai memberi jeda .


"Tapi kalau Gue yang menang Lo harus mengabulkan 1 permintaan Gue. Siapa yang paling cepat memasukan bola basket ke ring 3x dia lah pemenangnya" Rinai mengacungkan jari kelingking menunggu Rei menerima tantangan yang di berikan olehnya.


Rei menatap Rinai tidak menyangka jika cewek mungil yang tinggi badannya saja tidak melewati tinggi bahu Rei tapi malah berani menantangnya .


Semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama Rei sudah berkali - kali memenangkan pertandingan basket antar sekolah bahkan pertandingan antar provinsi Rei selalu menangkan dan di kampus Rei adalah merupakan ketua tim basket yang aktiv mengikuti pertandingan , tapi si mungil Rinai benar - benar nekat dengan memberikan tantangan yang sudah jadi makanan sehari - hari Rei (lawannya).


"Setuju" Rei mengaitkan jari kelingkingnya . Rinai tersenyum memperlihatkan lesung pipi dan sederet gigi putihnya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2