
"Masih berapa lama lagi ? Saya harus segera pergi dari sini sekarang karena pertandingannya akan segera di mulai" Rinai bersikeras ingin segera pergi .
"Sekitar 2 jam lagi baru kamu boleh pergi dari sini"
"Saya tidak bisa menunggu selama itu" Rinai bangun dari tempat tidurnya . Melepas kabel - kabel dan selang infus yang masih menempel di tubuhnya.
"RINAI apa yang kamu lakukan , nanti kamu bisa......" Seorang perempuan berpakaian dokter berusaha mencegah Rinai agar tidak melanjutkan hal yang mungkin bisa membahayakannya.
"Saya akan baik - baik saja percayalah" Rinai bersikeras untuk tetap pergi.
"Baiklah kalau mau tetap bersikeras tapi setelah semua urusanmu selesai kamu harus berjanji akan langsung segera kembali kesini dan melanjutkan pengobatan” pinta seorang wanita berpakaian dokter .
" Oke" Rinai tersenyum seperti biasa memperlihatkan 2 lesung pipi. Rinai berjalan dengan langkah terburu - buru keluar dari rumah sakit dan segera menuju kampus .
"Tolong agak lebih cepat pak" pesan Rinai pada pengemudi taxi.
__ADS_1
"Baik " atas permintaan Rinai , supir taxi menambah sedikit kecepatannya, melajukan kendaraannya di atas jalanan beraspal di antara lalu lalang kendaraan lain.
Rinai merapihkan lengan baju sweater yang dia kenakan untuk menutupi plester di pergelangan tangannya. Rinai tidak ingin Rei tahu kebenaran tentang dirinya yang dia tutupi selama ini.
Pertandingan sudah hampir selesai masih tersisa 17 menit waktu pertandingan . Skor sementara saat ini club basket yang di ketua Rei masih memimpin dari club basket Jakarta dengan skor sementara 38 : 36 .
Rinai berjalan di antara para suporter lain dan ikut duduk di salah satu bangku penonton bersama penonton lain.
“Astaga Nai , Lo kemana saja dari tadi kami mencarinya kemana – mana terutama Rei dia sangat khawatir bahkan beberapa menit sebelum pertandingan dia masih sempat – sempatnya mencarinya tanpa henti” Anisa berbicara tanpa jeda .
“Oke baiklah yang terpenting Lo sudah ada di sini sekarang” .
Teriakan yel yel dukungan begitu santer terdengar saat salah satu pemain basket menggiring bola . Rei melihat Rinai duduk bersama penonton lain di salah satu bangku penonton. Bola di rebut dari tangan Ale ,dan lawan berhasil mencetak 2 point tambahan . Keadaan skor menjadi imbang.
Ridho mengoper bola pada Ale dan Ale mengoper pada Rei mendekati detik terakhir Rei melempar bola ke arah ring dan terjun bebas memasuki ring . Teriakan peluit wasit mengakhiri pertandingan kali ini. Rei berhasil membawa kembali team basketnya menjadi pemenang.
__ADS_1
Suara tepukan dan yel - yel kembali santer terdengar . Rei beranjak keluar dari lapangan dan berjalan menuju deretan para suporter . Rei berdiri tepat di hadapan Rinai .
"Ikut gue " Rei menarik lengan tangan Rinai dan berjalan menuju sekretariat basket . Rei menggenggam tangan Rinai sedikit kasar tepat di bagian bekas jarum . Rinai mengikuti langkah Rei tanpa berkata sedikitpun. Rinai paham betul kenapa Rei bersikap seperti saat ini.
"Lo dari mana saja tadi?" Rei mulai membuka pembicaraan. Rei tahu dengan pasti ada sesuatu yang disembunyikan Rinai saat ini.
"Gue... habis ketemu teman lama tadi" Rinai mencoba berkilah.
"Yakin teman lama?" Rei tidak begitu saja percaya dan melepaskan pandangannya dari Rinai sedikitpun. Rei tahu dengan baik kapan Rinai bicara jujur dan kapan saat Rinai sedang berbohong. Rinai menganggukan kepalanya yakin.
__ADS_1