
“Please Rei , gue enggak sanggup lihat lo bersama cewek lain. Jadi tolong biarkan gue pergi” .
“Gue cuma butuh lo Nai , gue cinta sama lo”.
“Sherly lebih butuh lo sekarang” ucapan Rinai membuat Rei bergeming dan mematung rasa bersalah membuatnya tak berdaya namun rasa cintanya pada Rinai tidak bisa membiarkan Rinai pergi jauh darinya.
Kereta api tiba Rinai berjalan menuju gerbong dan masuk ke dalam kereta meninggalkan Rei yang masih mematung menatap kepergian Rinai .
“Sudah gue bilang Rinai sendirilah yang akan meninggalkan lo”ucap Baim di telinga Rei lalu berjalan masuk ke dalam gerbong kereta mengikuti Rinai .
Langkah gontai Rei berjalan melalui pintu keluar . kini tak ada lagi yang bisa dia lakukan , Rinai sudah pergi meninggalkan dirinya tak ada lagi yang tersisa .
****
Satu bulan kemudian....
Genap satu bulan sudah sejak kepergian Rinai , tak ada satu haripun terlewat tanpa mengingat Rinai , si setiap detik, menit ,jam dan harinya dalam benak Rei hanya ada Rinai , Rinai dan Rinai meskipun Rei selalu bersama Sherrly namun hatinya selalu bersama kenangan Rinai .
“Rei ... Rei ... “ panggil Sherlly berulang kali.
“Ehh iya ada apa?”
“kamu melamun lagi , sudah jam 2 tuh bukannya kamu masih ada mata kuliah terakhir” Sherlly meningkatkan.
Rei melihat jarum jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 14:05.
“kalau begitu aku pergi dulu” Rei berpamitan lalu beranjak pergi .
Beberapa saat setelah Rei pergi Sherlly bangun dari kursi roda yang di duduki.
“Lelah juga seharian duduk di kursi roda, gue sudah melakukan yang lo inginkan dengan menjauhkan Rei dari Rinai sesuai perjanjian kita sebelumnya lo akan minta bokap lo untuk bantu masalah keuangan keluarga gue” Sherlly berbalik badan dan mendapati Rei berdiri tepat di hadapanya. Handphone di tangan Sherlly terjatuh begitu saja membentur lantai.
“Rei....” Sherlly terkejut melihat Rei yang kini melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Gue hanya mau mengambil diklat gue yang ketinggalan”
“Rei gue..”
“Gue sudah mendengar semuanya , sorry gue harus pergi sekarang”.
Setelah mengambil diklat miliknya dari atas meja Rei bergegas meninggalkan rumah Sherrly.
Di hari yang sama Rei memutuskan untuk segera menyusul Rinai di Jakarta.
“Tunggu gue Rinai” tampak begitu jelas senyum kebahagiaan di wajah Rei yang tak sabar untuk segera bertemu dengan Rinai secepatnya. Hanya butuh 2 jam hingga Rei sampai di Jakarta .
Andri kakak dari Rinai yang memang cukup dekat dengan Rei datang ke stasiun hanya untuk menjemput Rei .
“Dimana Rinai Sekarang mas?”
“kamu ini baru juga ketemu yang di tanya langsung Rinai dimana”
Rei tersenyum tak dapat menyembunyikan kegembiraannya saat ini.
“Kenapa begitu mas?”
“kamu tau sendiri Rinai bagaimana saat ini dia mungkin sedang terlibat tawuran lagi, anak itu enggak pernah berubah”
“Bisa tolong antarkan ke tempat Rinai mas Andri?”
“Baiklah tapi dengan satu syarat”
“Apapun, katakan apa syaratnya?”
“Bawa Rinai kembali dalam ke adaan aman”
“Sesuai perintah mas Andri” Rei tersenyum.
__ADS_1
Andri melajukan kendaraannyanya di jalanan beraspal menuju tempat Rinai berada saat ini.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit Andri menghentikan laju mobilnya dan menepi di pinggir jalan.
“Rei , mas Cuma bisa antar kamu sampai sini. Kamu bisa cari Rinai tidak jauh dari sini”
“Terima kasih mas Andri untuk tumpangannya”
“Kalau ada apa-apa telfon mas saja”
“Baik mas, kalau begitu saya permisi dulu”
“Hati – hati Rei” .
Rei berjalan lurus ke depan setelah berjalan sejauh 160 meter benar saja kerusuhan terjadi antar mahasiswa. Sirine polisi terdengar nyaring semakin mendekat. Kerumunan massa mulai bubar mencoba menyelamatkan diri masing – masing dari kejaran aparat polisi ,begitu juga dengan Rinai, dia berlari mencari tempat persembunyian agar tidak tertangkap polisi.
Hingga sebuah tangan terulur dan menariknya dari balik tembok.
“Sstttttt...” Rei membekap mulut Rinai dengan tangannya .
“Rei....”
Keduanya saling bertatapan satu sama lain , Rei melepaskan bekapan tangannya dari mulut Rinai.
“Rei bagaimana bisa lo ada di sini?”
“Gue hanya kebetulan lewat dan mencari kucing garong yang lari dari gue, dan lihat lo di sini” kilah Rei .
“Cari ke segala arah dan sudut jangan sampai terlewatkan!!!!!” sebuah suara lantang terdengar memerintahkan para anggotanya untuk mencari para mahasiswa yang terlibat kerusuhan.
Rei menarik tangan Rinai dan bersembunyi di tempat yang di anggapnya cukup aman. Keduanya berdiri saling berhadapan di tempat yang cukup sempit dan tersembunyi dari luar .
Kedua mata saling menatap satu sama lain, tanpa sepatah katapun yang terucap . Rei mensejajarkan pandangannya lebih mendekat. Rei mengecup bibir Rinai dan di tatapnya kembali mata Rinai penuh kerinduan sebelum kembali ******* bibir Rinai lembut, kedua tangan Rinai menggelayut pada leher Rei semakin mengeratkan kaitan tangannya, membalas ciuman Rei tanpa berkeinginan untuk menghentikannya sama sekali.
__ADS_1
to be continued....
Jangan lupa like dan commentnya 😉 terima kasih buat para pembaca yang masih mengikuti Rindu Rinai untuk hujan