
8 bulan 11 hari 20 jam 35 menit dan 50 detik sudah berlalu setelah kepergian Rinai untuk melanjutkan pengobatan dan selama itu juga tak ada satu hari pun Rei lewatkan tanpa memikirkan dan menunggu Rinai . Di setiap harinya Rei selalu meyakini jika suatu hari nanti Rinai pasti akan kembali kalau tidak hari ini mungkin besok , jika besok Rinai belum juga kembali mungkin lusa Rinai akan datang begitu seterusnya.
Di waktu senggangnya Ale , ridho , Miko dan Rei menyempatkan untuk bermain basket seperti biasa . Saling berebut bola lalu melempar hingga masuk ke dalam ke ring.
"REEIIIIIIII!!!!" Teriak suara yang tak begitu asing lagi di telinga . Semua menoleh melihat sosok Rinai yang berjalan ke arah lapangan basket , mengenakan stelan dress berwarna putih selutut rambut yang biasa di kuncir ekor kuda kini berubah terkepang secara apik dengan sebuah bando merah kecil sebagai pemanis. Sepasang lesung pipi dan senyuman Rinai melambaikan tangan ke arah para sahabatnya.
Rei bergeming dan mematung begitu melihat wajah yang selama ini sangat di rindukan dan selalu di nanti olehnya . Bola basket berwarna merah jatuh begitu saja dari genggaman ke dua tangan Rei , memantul pelan sebelum menggelinding jauh ke tepi lapangan.
Rinai tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya kedua mata saling berpandangan menatap satu sama lain dengan jarak yang tak begitu jauh hanya untuk melepas rasa rindu yang begitu menyesakkan selama ini.
Ale, Ridho, Miko segera berlari berhamburan begitu melihat Rinai datang .
"RINAI!!" Sapa ketiganya berbarengan.
__ADS_1
"Lo kapan datang?" Tanya Ridho.
" Gimana kondisi Lo ? apa sudah baikan?" Tanya Ale .
"Sama siapa kesini?" Tanya Miko ikut nimbrung.
"Kenapa tidak pernah kasih kabar ?" Begitu banyak hal yang ingin Ale tanyakan pada Rinai .
Ketiganya terus melontarkan begitu banyak pertanyaan bergantian tanpa memberi sedikitpun kesempatan bagi Rinai untuk menjawab .
Rinai mengalihkan pandangannya ke arah Rei yang berjalan santai menuju tempatnya berdiri saat ini.
"RINNNAAAIIIII" Anisa berhambur memeluk Rinai begitu mengetahui Rinai datang ke kampus .
__ADS_1
"Gue kangen Lo " ucap Rinai pada Anisa.
"Gue juga kangen Lo Nai , Gue nggak nyangka kalau hari ini bisa ketemu lagi di sini , Gue sangat khawatir karena selama ini Lo menghilang tanpa ngasih kabar sedikitpun" Anisa melepas rindu dan sedikit mengomel pada Rinai.
"Maafin Gue"
Nisa melepaskan pelukannya dari Rinai begitu melihat Rei sudah berdiri di samping Rinai yang hanya berjarak satu langkah saja dari Rinai .
Tanpa menunggu lebih lama lagi Rei menarik tangan Rinai dan memeluknya begitu erat di dalam dekapannya tanpa memperdulikan sekitar. Entah sudah berapa lama Rei melewati hari demi hari hanya untuk menunggu kabar dari Rinai . Setelah sekian lama tidak bertemu dan tidak pernah saling berkomunikasi satu sama lain dan kini Rei bisa memeluk Rinai dalam dekapannya , semua rindu, semua ke khawatiran dan penantiannya terbayar sudah saat Rinai kembali dan ada di hadapannya , bersamanya.
"Gue nggak bisa nafas kalau Lo terus peluk Gue seerat ini " bisik Rinai pelan.
" Maaf Gue reflek" Rei segera melepaskan pelukannya , merasa sedikit bersalah, Rei membelai lembut pipi Rinai . Memastikan kalau ini bukanlah mimpi , tersirat sebuah senyuman di bibir Rei .
__ADS_1