RINDU RINAI UNTUK HUJAN

RINDU RINAI UNTUK HUJAN
Penculikan bag 5


__ADS_3

“Mah Rinai, Baim pinjam dulu” Baim mencekal tas ransel Rinai dan menyeretnya paksa.


“ENGGAKKKK!!!!!! Tan tolong Rinai , Rinai enggak mau ikut Baimmmm !!!! Tannn!!!! Tenteeeee..... ” Tangan Rinai berusaha menggapai tangan Mama Baim berusaha sekuat tenaga menolak ajakan Baim.


Dengan susah payah Baim berhasil menyeret Rinai masuk ke dalam ruangan seluas 10 x 12 meter yang di dalamnya lengkap dengan beberapa perlengkapan olah raga. Di salah satu dinding terpasang cermin besar seukuran dinding. Baim berjalan menuju sebuah laci di sudut ruangan dan mengeluarkan baju karate berwarna putih 2 stel lengkap dengan sabuk berwana hitam.


“Sudah lama kita tidak lenturkan otot bersama , nih pakai” Baim melemparkan satu stel baju karate ke tangan Rinai.


“Di sudut sana ada kamar mandi Lo bisa ganti di dalam sana” jari telunjuk Baim menunjuk ke salah satu sudut ruangan .


“Gue enggak mau pake Lo aja sana” Rinai mengembalikan baju karate di tangannya pada Baim  lalu mencoba keluar dari ruangan .


“Eeiitsss mau kemana , cepat pakai pilihan Lo cuma dua . Lo pakai sendiri atau Gue yang pakaiin tuh baju” baim menurunkan pandangannya tepat di dada Rinai .


Menyadari jika dadanya menjadi pusat pandangan mata Baim buru – buru Rinai mengambil kembali baju karate dari tangan Baim dan menutupi daerah dadanya mendekapnya erat .


“Gue pake sendiriiiii!!!!! Dasar CABULLL STRESSS!!!!!” Rinai lari ngibrit masuk ke dalam toilet .


Rinai paling tahu betul watak Baim kayak gimana sablengnya kalau sudah ada kemauan kudu harus wajib hukumnya di turuti kalau tidak di ikuti kemauannya habis sudahh tamat riwayatnya. Dengan sangat terpaksa Rinai mengganti baju yang dia kenakan dengan stelan baju karate yang di berikan Baim padanya.


“Cepat keluar , ganti baju saja pake lama , apa perlu Gue dobrak tuh pintu” Baim berlagak sok diktator padahal mah aslinya enggak buktinya dia masih berusaha menahan tawanya , cuma isengnya itu yang enggak ketulungan kalau sudah di depan Rinai  sudah bawaan orok katanya sih begitu.


Faktanya hingga detik ini Rinai masih saja takut pada Baim , padahal Rinai adalah orang yang paling cukup di segani saat masih berkuliah di Jakarta dan sudah banyak orang yang Rinai lumpuhkan entah itu pada saat pertandingan beladiri atau pada saat tawuran antar mahasiswa. Bahkan Rinai menjadi ketua dari banyak mahasiswa pembuat onar yang hobinya tawuran . Tapi mendadak nyali Rinai menciut jika berhadapan dengan Baim .

__ADS_1


Awalnya Rinai mengenal Baim secara tidak sengaja , saat itu sedang terjadi tawuran masal antar Genk usia Baim saat itu masih sangatlah muda yaitu  16 tahun meski di usianya yang segitu Baim merupakan pentolan genk yang cukup berpengaruh di Jakarta . Baim terluka cukup parah dalam aksi tawuran dan kebetulan Rinai baru saja pulang sekolah sendirian, tanpa sengaja Rinai menemukan Baim tergeletak di semak – semak taman di depan rumahnya . Rinai yang kala itu masih berusia 12 tahun terkejut dengan penampakan Baim tergeletak di antara semak – semak depan rumah  Rinai berlari masuk ke dalam rumah dengan berteriak kencang .


“MAMAAA ADA MAYATTTTTT BERDARAH!!!!! MAMAAAAA!!!” teriak Rinai ketakutan .


“Nai ... Nai ada apa kamu berteriak sampai  ketakutan begitu?? Ada mayat ? Mayat siapa ? Dimana?” Mama Rinai segera datang menghampiri anaknya.


“ itu Mahh di depan rumah ada mayat!!”


“Iya ...iyaaa.. kamu tenang dulu ya ayo tunjukan dimana kamu lihat mayatnya?” Rinai berlari kecil dengan menggandeng tangan Mamanya.


“Itu Mahh” tunjuk Rinai pada Baim yang tak sadarkan diri .


“astaga , cepat panggil Papa suruh ke sini cepat”


Tanpa berlama – lama Rinai segera masuk rumah dan mencari Papanya di ruang kerja lalu membawa Papanya ke depan rumah .


Selama seminggu Baim tak sadarkan diri dan tinggal bersama di rumah keluarga Rinai .


“Kamu sudah bangun???” Tanya Rinai begitu melihat Baim membuka matanya .


“Ummm”


“Nama kamu siapa ? Tanya Rinai polos

__ADS_1


“Baim, Baim Rayendra”


“Namaku Rinai” Rinai tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya.


“Rinai mulai sekarang kamu akan akan aku ajari karate, kamu mau??”


“Karate??? Ohhh yang bisa mecahin genteng pake tangan itu ya ??” tanya Rinai polos .


“Iya kamu mau?”


“Iya, iya aku mau” Rinai memperlihatkan sederet gigi putihnya .


Terhitung semenjak Baim sembuh total, ketenangan Rinai terusik masa – masa indahnya terenggut sudah ketika Baim mulai mengajarinya bela diri . Berbagai Pelatihan keras Rinai ikuti hingga terkadang Baim membawa serta Rinai saat bentrokan. Baim yang semula ibarat malaikat dalam sekejap berubah seperti iblis tak kenal kata ampun. Jika Rinai menolak maka Baim akan melipat gandakan latihan untuk Rinai, bahkan tak jarang Rinai cidera saat latihan, Rinai sudah mencoba berulang kali untuk kabur dari Baim namun Baim terlalu sulit untuk di enyahkan. Terkadang Rinai menyesal kenapa dulu dia mau jadi murid seorang Baim .


 


To be continued...


Jangan lupa comment , fav dan share yang banyak ^^


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2