RINDU RINAI UNTUK HUJAN

RINDU RINAI UNTUK HUJAN
Penculikan bag 7


__ADS_3

Untuk ke tiga kalinya Rinai mengibarkan sapu tangan putihnya tanda menyerah , tubuhnya terkulai di atas lantai tak sanggup lagi melakukan perlawanan, nafas terengah dan kedua tangan terlentang bebas di atas lantai . Sementara Baim masih berdiri dengan gagah serta sebuah senyuman tipis menghiasi wajah menatap Rinai .


Rinai berguling ke sisi kiri berusaha untuk duduk . Tangan kanannya masuk ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah lollipop berwarna merah jambu. Duduk bersila di atas lantai Rinai membuka plastik pembungkus lollipop miliknya.


Baim melangkah mendekat lalu membungkukan badan di depan Rinai , sebuah jitakan melayang begitu cepat tepat menggenai jidat Rinai. Hingga membuatnya meringis kesakitan.


“Adawww.....sakit bambauaaanggg!!!!” Rinai manyun mengelus bagian kepala yang terkena jitakan tangan Baim .


“Apa lihat – lihat sana Lo jauh – jauh hushhh hushhh hussss” tangan Rinai teracung di depan wajah Baim .


Dalam sekejap mata lollipop di tangan Rinai pindah ke dalam mulut Baim .


“Manis juga pantesan Lo suka, kapan – kapan bagi Gue lagi” Baim mengedipkan sebelah mata dan terkikik.


“Lol-li-pop terakhir Gue” mata Rinai menyipit dengan bibir manyun 5 centimeter . Hanya mampu melihat sisa lollipop terakhirnya bertengger di mulut Baim .


“Pelit sekali, kalau mau nih ambil tapi pake bibir ”ucapnya dengan sedikit memonyongkan bibirnya .


“BAIMMMM RAYENDRAAAAA DASAR SINTING!!!!!” teriak Rinai membuat Baim kembali terbahak melihat ekspresi wajah Rinai saat ini.


“ Sudah sore Lo mau Gue antar pulang atau...”


“Ohhh ya ampuun”Rinai memotong pembicaraan Baim dan menepuk jidat lumayan keras begitu kembali sadar dan mengingat bagaimana cara kepergiannya tadi dari kampus dengan cara yang tidak biasa.


Rinai segera bangkit dari tempat duduknya berlari menghampiri tas miliknya yang tergeletak di atas meja tidak jauh dari tempatnya saat ini.

__ADS_1


Jari tangan auto menghidupkan kembali smartphone miliknya yang sempat di non aktifkan Baim sebelum kepergiannya tadi .


Begitu banyak pesan masuk, dan beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dari Anisa, Ale, Rhido dan paling banyak terutama dari Rei . Isi semua pesan hampir sama yaitu menanyakan keberadaannya saat ini.


Ponsel Rinai kembali berdering terlihat jelas bertuliskan ~Rei calling.....~


“Hallo Nai Lo di mana sekarang? Lo baik – baik saja kan? , Share lokasi Lo. Gue jemput sekarang” Rei terus berbicara tanpa henti tak memberi Rinai kesempatan untuk bicara.


“Rei ... hey ... Gue baik – baik saja, jangan khawatir, Gue share lokasi Gue sekarang” Rinai mencoba menenangkan.


“Lo tunggu Gue ingat jangan kemana – mana mengerti” Rei memperingatkan.


“Iya” Rinai menutup sambungan telepon.


“Telepon dari siapa?” Baim sedikit ingin tahu.


Baim terkekeh melihat mimik muka Rinai yang masih saja cemberut dengan bibir monyong 5 centimeter .


Tak begitu lama tidak sampai satu jam Rei datang dengan mobil Jeep putihnya . Jemari Rei menekan tombol bel 2x dan menunggu hingga pintu terbuka untuknya.


“ Sore , maaf apakah Rinai ada di sini?, Saya Rei mau menjemput Rinai sekarang”.


“Ohh Rinai iya dia ada di dalam mari silahkan masuk  dan duduk dulu nanti Tante panggilkan Rinai”


“Iya Tante terima kasih”.

__ADS_1


Mama Baim berlalu menuju ruang latihan Baim tempat Rinai berada saat ini.


“Nai , ada yang jemput tuh di depan”


“Itu pasti Rei” Rinai tersenyum lebar segera meraih tas ransel miliknya dan terburu – buru kabur  dari ruang latihan.


“Itu anak kebiasaan banget” Baim geleng-geleng kepala melihat Rinai begitu terburu – buru keluar dari ruang latihan.


Rei langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Rinai berlari ke arahnya, dengan masih mengenakan setelan baju karate lengkap, Rei mengalihkan pandangannya pada Baim yang berjalan di belakang Rinai dengan mengenakan setelan karate yang sama seperti yang di kenakan Rinai saat ini.


“Tante Nai pamit pulang dulu”


“Loh sudah mau pulang ya ? Enggak mau makan malam dulu di sini?”


“Iya Tan, mungkin lain kali saja , soalnya orang rumah pasti khawatir nyariin kalau Nai pulang terlambat” Rinai tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.


“Kami permisi dulu dan terima kasih sudah menjaga Rinai” Rei berpamitan.


“Kok ke Mama pamitan ke Gue enggak?” Baim memasang mimik muka sedih .


“OGAAHHH..” Rinai mendekat kebelakang tubuh Rei dan menjulurkan lidahnya pada Baim, hingga membuatnya terkikik menahan tawa.


“Pamit dulu bro” Rei tersenyum pada Baim sebelum keduanya beranjak pergi .


 

__ADS_1


To be continued....


Yoshhhh!!!! terima kasih yang sudah masih setia mengikuti kelanjutan dari Rindu Rinai untuk Hujan . Sampai sini dulu bagaimana pendapat kalian readers kalau suka jangan lupa click fav, coment yang banyak dan share juga . Agar author semakin giat untuk segera upload episode berikutnya. 😘


__ADS_2