
Melihat Rei saat ini Rinai merasa seperti ada jarak yang begitu memisahkan di antara dirinya dan Rei . Rinai meraih tas miliknya dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Di depan pintu ruangan, Baim sudah berdiri seakan menunggunya. Rinai pergi bersama Baim keluar dari rumah sakit. Selama perjalanan pulang tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Rinai . Baim mengantarkan Rinai pulang hingga di depan gerbang rumah .
“Nai, lo bisa tinggal di rumah gue dulu jika lo mau seperti dulu” Baim mencoba menghentikan langkah kaki Rinai , namun Rinai tak berkata sepatah katapun lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Baim di depan gerbang begitu saja .
Tidak seperti biasanya baru pukul 20:05 lampu di kamar Rinai sudah di padamkan. Terdengar suara pintu di ketuk beberapa kali dari luar kamar.
“Nai, apa lo sudah tidur?” Rei menjulurkan tangannya untuk membuka pintu kamar di lihatnya kamar Rinai sudah dalam ke adaan gelap, Rei melangkah masuk dan berdiri tepat di samping tempat tidur Rinai . Rei bergeming beberapa saat lalu membungkukkan sedikit badannya membelai puncak kepala Rinai lembut .
“maafin gue Nai” Rei merapikan selimut Rinai yang sedikit tersingkap sebelum beranjak meninggalkan kamar Rinai .
Semenjak kembalinya Sherlly di dalam kehidupan Rei, jarak antara Rei dan Rinai kembali menjauh. Baim sering terlihat berseliweran di sekitar Rinai, hampir setiap hari Baim datang menjemput Rinai untuk berangkat bersama ke kampus . Entah itu di rumah atau saat di kampus, Rinai selalu berusaha menghindari Rei .
Baik Ale, Ridho, Miko bahkan Anisa tidak bisa berbuat banyak untuk mengurangi jarak antara Rinai dan Rei yang semakin hari semakin menjauh satu sama lain. Selepas pulang kuliah kini Rei rutin datang ke rumah sakit dan menghabiskan waktunya bersama Sherlly.
****
“Loh Nai mau kemana kok bawa koper segala?” tanya Mama Rei ketika melihat Rinai berjalan menghampirinya dengan menyeret koper besar di tangan kanan.
“Rinai mau pamit Tante , Rinai mau pulang ke Jakarta dulu, kangen Mamah sudah lama tidak ketemu”
“Terus rencana berapa hari kamu di sana?”
“Belum tau Tante”
“Lalu kuliah kamu bagaimana?”
“Kalau itu Rinai sudah minta izin cuti sementara kok Tan”
__ADS_1
“kamu tidak mau menunggu sampe Rei pulang dulu Nai?”
“Enggak Tan , jadwal keretanya berangkat 2 jam lagi takut enggak ke buru, tapi Rinai sudah bilang kok kalau mau pulang hari ini, ahh itu sepertinya jemputan Nai sudah datang, Rinai pamit Tante”
“Iya hati-hati di jalan , salam ya buat papa dan mamah”
Dengan berat hati Rinai pergi meninggalkan rumah yang penuh kenangannya bersama Rei, kenangan manis yang mungkin tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya .
"Sampai jumpa Rei, gue akan pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke sini ataupun ke dalam ke hidupan Lo, gue berharap Lo akan selalu bahagia meski bukan dengan gue”
“Nai, ayo” Baim membukakan pintu mobil untuk Rinai .
“iya” .
"Hari ini untuk ke 3x nya gue meninggalkan Rei namun tidak bersama kenangannya, gue benar – benar kalah oleh keadaan yang begitu rumit dan sekarang gue harus pergi, kembali ke tempat di mana seharusnya gue berada”.
****
Mendengar teriakan Ridho Rei langsung berdiri dari tempat duduknya. Rei menyadari jika sudah pasti ada hal genting yang ingin Ridho katakan padanya . tanpa menunda lagi Rei segera membereskan buku miliknya bersiap untuk meninggalkan kelas .
“Sikap macam apa ini”
“Maaf pak,ini sangat penting da-ru-rat urgent”Ridho berusaha menjelaskan dengan singkat .
Rei melesat menghampiri Ridho dan keluar kelas tanpa memperdulikan apapun.
“Rinai Rei dia sudah berangkat ke stasiun”
“stasiun ? maksud lo?”
__ADS_1
“Tadi nyokap lo telfon gue karena ponsel lo susah di hubungi, nyokap lo bilang Rinai sudah berangkat ke stasiun 15 menit yang lalu bersama temannya”.
“Apa lo bilang Rinai pergi?”
“Iya Rei nyokap lo bilang begitu”
“Thanks Dho” Rei berlari menuju parkiran tempat dia memarkirkan mobilnya . Tanpa buang waktu Rei menginjak pedal gas, melajukan kendaraannya menuju stasiun kereta api.
Di antara kerumunan banyak orang Rei berlari mencari keberadaan Rinai di sekitar peron KA, bahkan berulang kali Rei mencoba untuk menghubungi ponsel Rinai namun selalu di luar jangkauan.
“Rinaiiiii!!!!” pandangan Rei kini tertuju pada satu arah yaitu Rinai yang sedang berdiri dengan memegangi koper miliknya. Rinai menoleh ketika mendengar namanya di panggil dengan lantang .
“Rei...?? apa yang lo....”
“Ikut gue” Rei menarik tangan Rinai dan menyeret koper Rinai berjalan menuju pintu keluar.
“Lepasin tangan gue Rei , gue enggak mau pergi dengan lo” Rinai menghentikan langkahnya.
“Kereta gue sebentar lagi datang, lo lebih baik pulang sekarang karena gue tidak akan pernah kembali” Rinai melepaskan tangan Rei dari tangannya dan dari koper miliknya, Rinai berjalan berbalik arah kembali ke tempat semula ketika dia menunggu kereta.
“Nai please jangan pergi” sekali lagi Rei menggenggam pergelangan tangan Rinai mencegahnya untuk pergi.
“Please Rei , gue enggak sanggup lihat lo bersama cewek lain. Jadi tolong biarkan gue pergi” .
“Gue Cuma butuh lo Nai , gue cinta sama lo”.
“Sherly lebih butuh lo sekarang” ucapan Rinai membuat Rei bergeming dan mematung rasa bersalah membuatnya tak berdaya namun rasa cintanya pada Rinai tidak bisa membiarkan Rinai pergi jauh darinya.
__ADS_1