RINDU RINAI UNTUK HUJAN

RINDU RINAI UNTUK HUJAN
Kerusuhan


__ADS_3

Pagi menjelang...


Rinai bersiap - siap seperti biasa . Mamah dan Rei sudah menunggu untuk sarapan bersama , tampak terlihat Rinai menuruni anak tangga menuju ruang makan. Rei masih mengunyah sarapan  di mulutnya .


"Ayo sini Nai sarapan dulu"  ucap Mamah sedikit memaksa.


Rinai mencomot roti panggang dari atas piringnya, lalu menenggak habis susu hangat.


"Nai berangkat dulu Tante sudah hampir terlambat" ucap Rinai berpamitan , Rinai begitu terlihat tergesa - gesa keluar dari rumah.


"Nai kamu tidak bareng Rei !!! "


" Sudah telat Tante !!! Nai berangkat"


Mamah langsung mendelik menatap Rei , memberi kode agar Rei segera menyusul Rinai .


"Iya - iya Rei berangkat Mah" setelah menghabiskan minumannya Rei bergegas mengejar Rinai .


Rinai berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari rumah dan menunggu taxi lewat . Rei menepikan mobil nya di depan Rinai .


"Masuk!" Rei memberi perintah . Rinai menurut dan langsung masuk mobil.


Rei mulai melajukan mobilnya di jalan raya.


"Antar Gue ke stasiun " ucap Rinai datar.


" Apa?"


"Gue bilang antar Gue ke stasiun " Rinai mengulangi ucapannya.


" Mau kemana Lo?"


"Sudah antar Gue saja buruan" paksa Rinai .


"Baiklah" dengan sangat terpaksa Rei menuruti permintaan Rinai . Rei mengantar Rinai hingga di stasiun kereta terdekat . Begitu sampai di parkiran Rinai bergegas turun dari mobil .


"Thanks"


"Nai tunggu!!!"  Seru Rei .


Dengan langkah terburu - buru Rinai menuju loket pembayaran tiket.

__ADS_1


Begitu tiket sudah di genggaman tangan Rinai segera menuju peron menunggu kereta datang. Tak sampai 15 menit kereta datang, Rinai bergegas memasuki gerbong c dan mencari nomor kursi yang sama dengan di tiket .


Sirine tanda keberangkatan kereta berbunyi nyaring dan kereta mulai melaju di atas rel melakukan perjalanan menuju Jakarta.


****


 


Kerusuhan antar kampus tak dapat di hindarkan lagi. Para mahasiswa turun ke jalan dengan membawa bendera kampus , mengenakan jas almamater masing - masing , serta mengenakan headband dan handband dengan warna yang senada .


Berbagai seruan,teriakan saling lontar satu sama lain . Di jalan Jend. A. Yani antar kubu mahasiswa saling berhadapan . Rinai berdiri paling depan memimpin kelompoknya. Headband merah tampak melingkar di keningnya dan handband bertuliskan nama kampus yang dulu pernah dia masuki . Kaos putih dan jas almamater warna biru tampak cocok melekat di tubuhnya yang mungil .


Stick permen lollipop menyembul di antara bibirnya.


Sementara pihak lawan di pimpin oleh Evan , tubuhnya yang menjulang tinggi , kekar dan lumayan berotot, rambut gondrong sebahu, tampak jelas ukiran tato abstrak menghiasi leher kirinya dan beberapa tindikan mulai dari hidung, telinga dan bibir.


Mata Rinai dan Evan saling beradu tajam , suara riuh dan saling adu mulut terdengar dari barisan belakang . Semua orang menunggu waktu yang tepat untuk saling serang . Panji - Panji bendera kampus di kibar - kibarkan ke kiri dan ke kanan.


Suasana semakin tak kondusif salah satu mahasiswa berteriak dengan suara lantang .


"SERRRAAAANNGGGG!!"


Pihak lawan pun tidak mau kalah ikut menyerukan.


Semuanya maju dan saling menyerang satu sama lain. Saling pukul, saling serang , adu jotos tak terelakan lagi. Diantara kerumunan Hanya Rinai yang paling bertubuh kecil meski begitu sudah lebih dari lima orang tak luput dari serangannya termasuk Evan . Tak begitu lama sirine patroli polisi terdengar semakin keras semua berusaha lari untuk menyelamatkan diri masing - masing.


Melihat Rinai mulai lengah salah satu lawan Rinai menyerangnya dengan sebuah batu hingga mengenai kening Rinai , darah segar menetes namun tak begitu di hiraukan Rinai seakan itu bukanlah apa-apa.


Fokus pikiran Rinai terbagi , melihat ke sekeliling ke kanan dan ke kiri mencari tempat yang aman untuk bersembunyi  dari polisi. Rinai berlari dan bersembunyi di balik tembok tidak jauh dari lokasi kejadian. Polisi datang dengan cepat beberapa di antaranya berhasil tertangkap . Polisi masih terus mengejar dan menyisir tempat - tempat di sekitar lokasi kejadian . Rinai tampak meringkuk di balik tembok dengan darah yang masih menetes dari keningnya.


Tanpa dia sadari tangan seseorang membekap mulutnya dari belakang . Rinai begitu sangat terkejut dalam pikirannya polisi berhasil menangkapnya . Namun saat menoleh sosok Rei sudah berdiri di belakangnya memberi isyarat untuk diam.


Rinai menganggukkan kepala tanda mengerti. Dari kejauhan terlihat polisi masih berkeliling mencari mahasiswa yang bersembunyi . Tangan Rei masih membekap mulut Rinai , sementara mata Rei celingukan melihat kondisi sekitar tanpa menyadari jika cewek di hadapannya mulai kehilangan detak jantungnya karena berdiri di jarak paling dekat dengan Rei, merasakan setiap hembusan nafas Rei. Tatapan mata Rinai tak bisa terlepas dari Rei .


Setelah kondisi di rasa sudah cukup aman dan polisi sudah mulai pergi dari TKP. Rei melepaskan bekapan tangannya dari Rinai .


"Sudah aman sekarang" ucap Rei tersenyum.


"Ah iya... aman" Rinai tersenyum memperlihatkan lesung di pipi.


"Astaga kening Lo!!!"  Rei baru menyadari jika Rinai terluka, lalu tangannya menyentuh kening Rinai yang berdarah hingga membuat Rinai mengerang  kesakitan .

__ADS_1


"Auwww sakit tahu" Rinai mengipas - ngipaskan tangan di depan dahi yang terluka .


Rei melepaskan headband dari kepala Rinai , lalu mengikatnya di dahi Rinai yang terluka agar darah tidak banyak keluar.


"Lo kenapa bisa ada di sini?" tanya Rinai mendelik.


"Nyari anak kucing garong yang minggat dan kebetulan ketemu Lo di sini" jawab Rei sambil memberikan ikatan terakhir di kening Rinai sedikit kencang.


Rinai memanyunkan bibirnya tidak puas dengan alasan yang di berikan Rei .


Rei menarik tangan Rinai dan beranjak dari lokasi persembunyian mencari klinik terdekat untuk mendapatkan pengobatan untuk Rinai.


Setelah dari klinik Rei memaksa Rinai untuk ikut pulang bersamanya saat itu juga, tak sedikitpun memberi Rinai alasan untuk dapat bertemu dengan teman - teman seperjuangan. Di dalam kereta Rinai merogoh saku celana untuk mengambil lolipop kesukaannya.


"Lo mau??" tanya Rinai


"Nggak" ucap Rei sedikit galak.


"Ya sudah kalau Lo nggak mau, buat Gue saja" Rinai menjulurkan lidah .


Waktu menunjukan pukul 19:20 rasa kantuk mulai tak tertahankan Rinai menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kereta, dengan mulut yang masih **** lolipop Rinai tertidur pulas.


 


To be continued...


Don't be silent readers guys  and don't forget to click favorite , comment, and share .


Buat tambah semangat author 😊 thanks you .


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2