Royal School

Royal School
Chapter 33:Plan for tomorrow


__ADS_3

Ai akhirnya tiba dengan membawa sebuah makanan berupa Fried chicken beserta nasinya ditangannya.


“Hello semuamya.”Kata Ai.


Tak ada yang merespon kecuali Miyu.


“Hello Ai.”Kata Miyu.


“Hei kalian kenapa? Kok pada diam saja.”Kata Ai.


“Dimana Gin dan Catherine?” Kata Ai.


“mereka sedang ada urusan.”Kata Shuichi.


“Oh begitu ya.”Kata Ai.


“Oh iya, aku bawakan ini untuk kalian.”Kata Ai.


“Haha, tadi aku buang air besarnya di kamar mandi sebuah restoran. Jadi sekalian aku beli ayam ini saja deh”Kata Ai.


Mereka tetap tak merespon. Miyu menarik tangannya Ai lalu membawanya pergi ke sebuah tempat.


“Eh Miyu, kenapa sih?” Kata Ai.


“Rie menghilang.”Kata Miyu.


“Hah menghilang?” Kata Ai.


“Iya, dia diculik seseorang.”Kata Miyu.


“Siapa yang menculiknya?” Kata Ai.


“Sepertinya ini dari ulah kelas C.”Kata Miyu.


“Darimana kalian tahu?” Kata Ai.


“Di TKP, kami menemukan sebuah amplop yang berisi sebuah surat. Suratnya berisi kelas kita lebih baik menyerah saja jika ingin Rie selamat.” Kata Miyu.


“Beraninya mereka.”Kata Ai.


“Baiklah, kau bantu aku untuk mencairkan suasana ya Ai.”Kata Miyu.


“Baiklah.”Kata Ai. Miyu dan Ai kembali ke mereka.


“Baiklah ayo makan yuk.”Kata Ai.


“Kau saja, aku tak nafsu makan.”Kata Shinmaru.


“Kau duluan saja, pipiku masih sakit.”Kata Shuichi.


“Aku nunggu yang lain saja deh.”Kata Kyoko.


“Yah, masa kami berdua saja yang makan.”Kata Miyu.


“Aku tak mau makan hingga Rie ku kembali.”Kata Shinmaru.


“wajahku masih sakit karena dipukul oleh Shinmaru dan Ai tadi.”Kata Shuichi.


“Ah aku tak bisa makan jika suasananya seperti ini.”Kata Kyoko.


“Sepertinya lebih baik kita menyerah saja deh.”Kata Shinmaru.


“Kita juga tak akan bisa menang kan? Jadi lebih baik menyerah saja.”Kata Shinmaru.


“Oi Shinmaru, kita bisa saja menyerah. Tapi ingat, murid murid yang lain juga akan menderita jika kita menyerah.”Kata Ai.


“Biarkan saja, lagi pula apakah murid yang lain akan peduli pada kita. Peduli kepada Jim saja tak ada.”Kata Shinmaru.


“Sudahlah, seharusnya kita memikirkan cara untuk menang besok.”Kata Ai.


“Bagaimana kita bisa menang jika tak ada bukti di TKP sama sekali.”Kata Shinmaru.


“Bukan tidak ada bukti, tapi kita belum menemukannya.”Kata Ai.


“Apapun kejahatannya, pasti ada sebuah bukti.”Kata Ai.


Gin dan Catherine sudah tiba di apartemen.


“Hello, Bagaimana dengan Rie?” Kata Gin.


“Entahlah, kami belum menemukan apa apa tadi.”Kata Shinmaru.


“Apakah kau sudah menelepon temannya?”Kata Gin.


“Belum sih.”Kata Shinmaru.

__ADS_1


“Baiklah aku akan coba menelepon.”Kata Shinmaru.


Shinmaru membuka Hp Rie.


Tak ada satu nomor kontak pun di hpnya Rie, kecuali Ayah dan ibunya saja.


“Oh iya ya, aku lupa jika Rie itu bekas orang yang penyendiri.”Kata Shinmaru di dalam hatinya.


“Bagaimana?” Kata Gin.


“Tak ada nomor telepon satupun. Sepertinya hpnya direset oleh si pelaku.”Kata Shinmaru.


“Kalau begitu kita lapor IRSSO saja.”Kata Catherine.


“Jangan, jika kita laporkan ke IRSSO, mereka bisa tau bahwa ada anak kelas F yang membantu kelas ZZZ. Mungkin bisa saja nantinya mereka juga kena imbasnya.”Kata Shuichi.


“Iya benar kata Shuichi.”Kata Ai.


“Oh iya Gin, tadi memang ada tugas negara apa?” Kata Miyu.


“Tadi aku dipanggil Pak Kagemaru.”Kata Gin.


“Terus apa katanya?”Kata Miyu.


“Dia tak bisa hadir nanti.”Kata Gin.


“Tapi kata dia itu tak masalah sih, karena aku ditunjuk sebagai penggantinya dia.”Kata Gin.


“Dan dia memberitahuku mekanisme penghakimannya.”Kata Gin. “


Penghakimannya itu sama seperti dengan sebuah rapat kekeluargaan, dimana para pelapor dan terlapor saling bertatap muka langsung.”Kata Gin.


“Bertatap muka langsung ya?”Kata Miyu. .


“pelapor disuruh berbicara dan menunjukkan bukti dan saksinya terlebih dahulu. Setelah itu baru terlapor yang menunjukkan bukti kalau dia tak bersalah.”Kata Gin.


“Berarti hakimnya itu dari IRSSO ya?” Kata Catherine.


“Ya betul sekali.”Kata Gin.


“Hakimnya itu cuman satu saja.”Kata Gin. “Eh kok cuman satu doang?”Kata Ai.


“Karena menurut mereka kasus ini bisa diatasi oleh satu hakim saja.”Kata Gin.


“Mereka menganggap remeh kita juga ya.”Kata Shinmaru.


“Baiklah bagaimana dengan besok?” Kata Ai.


“Entahlah. Aku juga bingung, kita saja tak memiliki bukti.”Kata Shuichi.


“kita bisa bertahan saja, tapi kita tak bisa menyerang.”Kata Gin. “Iya, itu berhasil jika opini kita cukup kuat.” Kata Shuichi.


“Kalau argumen mereka cukup kuat dan bisa meyakinkan semuanya, ya kita kalah.”Kata Shuichi.


“Kalau kita menang, itu mungkin sebuah keajaiban saja.”Kata Gin.


“Ya sudah ayo makan nasi kotaknya.”Kata Ai.


Mereka makan nasi kotak itu. Setelah makan nasi kotak itu, mereka pergi ke kamar mereka masing masing.


Waktu sudah sore, Ai keluar dari kamarnya. Disaat yang sama, Miyu juga keluar dari kamarnya.


“Wah, ternyata Ai.”Kata Miyu.


“Hello Miyu. Kau sedang melakukan apa?” Kata Ai.


“Ya, sebenarnya aku ingin pergi ke restoran nenek itu sih.”Kata Miyu.


“Wah kebetulan, aku juga mau pergi ke sana.”Kata Ai.


“Baiklah ayo kita pergi bersama kesana.”Kata Miyu.


“Boleh.”Kata Ai. Miyu dan Ai pergi ke sana. Sesampai nya disana, restoran nenek tutup.


“Yah, tutup.”Kata Miyu.


“Padahal aku ingin makanan yang murah.”Kata Miyu.


“Ai, saran resto dong.”Kata Miyu.


“Entahlah aku juga bingung.”Kata Ai.


“Baiklah kita pulang saja yuk.”Kata Miyu.


“Ya sudah deh.”Kata Ai.

__ADS_1


“Eh itu apa Ai.”Kata Miyu.


“Oh itu tukang nasi kebuli yang keliling.”Kata Ai.


“beli yuk.”Kata Miyu.


“Baiklah.”Kata Ai.


Mereka menghampiri tukang nasi kebuli itu.


“Bang pesen nasi kebuli nya dua.”Kata Ai.


“Baiklah sebentar ya.”Kata abang penjual nasi kebuli itu.


Dia mengambil nasi kebulinya lalu ia masukkan ke sebuah kotak.


“Dimsumnya sekalian nggak?” Kata abang penjual nasi kebuli itu. “Lah masa tukang nasi kebuli jualan dimsum?”Kata Ai.


“Yang jualan saya, suka suka saya dong jualnya apa.”Kata abang penjual nasi kebuli itu.


“iya juga sih.”Kata Ai.


“Mau nggak nih dimsumnya?” Kata penjual nasi kebuli itu.


“Boleh deh.”Kata Ai.


“Kau juga mau Miyu?” Kata Ai.


“Aku juga mau.”Kata Miyu.


“Baiklah, tunggu sebentar ya.”Kata Penjual itu.


Dia mengambil beberapa dimsum dan memasukkannya ke sebuah kotak makanan.


“Nah ini dia.”Kata Penjual itu.


Penjual itu memberikan bungkusan yang berisi makanan tersebut. Ai mengambilnya dan Ai membayarnya. Terimakasih banyak ya.” Kata penjual itu.


“Iya sama sama.”Kata Ai.


Ai dan Miyu pergi.


“Mau duduk dimana Miyu?” Kata Ai.


“Disana saja deh.”Kata Miyu sambil menunjuk ke sebuah kursi taman.


Mereka pun duduk. Mereka membuka kotak makanan itu.


“Wah baunya cukup enak.”Kata Miyu.


“Bau belum tentu menentukan rasa”Kata Ai.


“contohnya kulit lumpia yang baunya seperti....”Kata Ai.


“Sudahlah Ai. Kita gak usah ngomongin begituan saat makan.”Kata Miyu.


“Baiklah ayo kita makan.”Kata Ai.


Mereka berdua pun makan.


“Wah, rasanya lumayan juga.”Kata Miyu. “Benar.”Kata Ai.


Akhirnya makanan mereka pun habis.


“Hei Miyu.”Kata Ai.


“Apa Ai?” Kata Miyu.


“Mengapa kau kemarin mabuk mabukan?”Kata Ai.


“Ah itu mungkin aku sedang khilaf saja.”Kata Miyu.


“Aku juga baru tau kalau seorang Miyu juga bisa berada di fase itu.”Kata Ai.


“Ya,semua orang pasti akan mengalami yang namanya kepahitan hidup, walaupun dia adalah orang yang selalu bahagia dan periang, dia juga pasti akan mengalami fase paling terendah dalam hidup.”Kata Miyu.


“Kau juga pernah mengalami fase terendah dalam hidup kan Ai?” Kata Miyu.


“Ya, pastinya.”Kata Ai.


“Terimakasih ya Ai, kau tak berbicara ke siapapun soal itu.” Kata Miyu.


“Ya tapi mereka jadi salah paham soal hubungan kita.”Kata Ai.


“Iya sih, tapi nggak apa apa lah.” Kata Miyu.

__ADS_1


“Baiklah ayo pulang, Miyu.”Kata Ai. “Eh, tunggu sebentar.”Kata Miyu.


Mereka pun pulang dan pergi ke kamar mereka masing masing.


__ADS_2