Royal School

Royal School
Chapter 41:Old regrets


__ADS_3

Miyu sampai di sebuah stand minuman.


“Permisi, jus strawberrynya masih ada?” Kata Miyu.


“Oh masih neng, emang mau berapa belinya?” Kata Penjual itu.


“Satu aja bang,” Kata Miyu.


“Oh oke, tunggu bentar ya neng,” Kata Penjual itu.


Penjual itu membuatkan jus strawberry itu. Setelah jadi, penjual itu memberikan minuman itu kepada Miyu.


“Ini neng,” Kata Penjual itu.


Miyu membayar minuman itu.


“Makasih ya bang,” Kata Miyu.


“Iya sama-sama neng,” Kata Penjual itu.


Miyu pergi meninggalkan stand itu.


Dia duduk di sebuah kursi panjang sambil melihat kolam air mancur. Ia merenungi kesalahannya sambil minum jus strawberry itu.


“Ah rupanya kau ada disini ya,” Kata seseorang.


Rupanya itu adalah Ai.


“Sudahlah kau jangan merasa seperti itu,”Kata Ai.


Miyu pun berdiri.


“Kau mau kemana?” Kata Ai.


“Sudah kubilang, tinggalkan aku sendiri!!!!” kata Miyu.


“Kesendirian tak akan bisa mengobati segalanya,” Kata Ai.


“Mereka akhirnya akan membutuhkan pertolongan orang lain juga,” Kata Ai.


“dulu aku juga seperti itu. sampai akhirnya aku sadar bahwa hidup juga membutuhkan orang lain,” Kata Ai.


“Kita tak akan bisa hidup sendiri. Karena manusia adalah makhluk yang saling bergantung kepada makhluk lain atau manusia yamg lain.”Kata Ai.


“Ada waktunya untuk merenugi itu sendiri, tapi jangan terlalu merenungi hingga mengganggu pikiranmu itu,” Kata Ai.


“Lalu kenapa kau mau menyelesaikan masalah itu sendiri?” Kata Miyu.


“Masalah apa Miyu?” Kata Ai.


“Kau pura-pura tak tau apa kau pura-pura bodoh Ai!!!!” Kata Miyu sambil ngebentak Ai.


“Apa maksudmu Miyu?” Kata Ai.


“kenapa Kau menutupi kebenaran itu dan menangani masalah itu sendirian Ai!!!” kata Miyu.


“Aku tak mengerti maksudmu Ai.


“Kenapa kau menutupi fakta soal kebenaran di peristiwa pemakaman kakaknya Machi, Ai!!!!!” Kata Miyu.


“Kau menutupi fakta bahwa orang itu mengincarku untuk menghancurkan mu, Ai,”Kata Miyu.

__ADS_1


“Dan kau menutupi itu karena kau tak mau teman temanmu mencampuri urusanmu, iya kan?” Kata Miyu.


“Kau tak mau teman-temanmu ikut campur. Karena kau pikir mereka tak ada hubungannya dengam ini. Tapi kau salah Ai!!!!! Mereka sudah terseret saat pembunuh itu mau membunuhku Ai!!!!!!!” kata Miyu.


“Darimana kau tau hal itu Miyu?” Kata Ai.


“Aku mendengar itu sendiri, saat kau mengobrol diatas bersama Shuichi,”Kata Miyu.


Ai pun terdiam, lalu ia tertawa.


“Oh jadi begitu ya, pantas saja Shuichi seperti itu,” Kata Ai.


“Baiklah aku akan jelaskan kepadamu,” Kata Ai.


“Aku tak mau teman temanku mencampuri urusanku karena aku tak peduli dengan urusan itu,” Kata Ai.


“Kau tak peduli jika teman-teman mu mati seperti itu Ai?” Kata Miyu.


“Tidak, maksudku aku tak terlalu mengurus masalah itu karena si pelaku utama atau dalangnya mungkin sudah mati,” Kata Ai.


“Hah?” Kata Miyu.


“Ya pelaku itu tidak lain sih wali kelas C itu,” Kata Ai.


“Kau tau dari mana?” Kata Miyu.


“Ya kan sebelum itu kita pumya masalah dengan wali kelas itu kan?” Kata Ai.


“Bukan kami, tapi kau sendiri Ai,” Kata Miyu.


“Hehe, bisa juga dibilang begitu,” Kata Ai. “Iya juga sih, deduksimu itu cukup logis,” Kata Miyu.


“Tapi aku dengar bahwa orang itu tetap perjaka sampai tua, jadi dia belum berkeluarga,” Kata Miyu.


“Ah baguslah kalau begitu,” Kata Ai.


“Kau parah sekali Ai. Orang yang belum menikah sampai tua kau malah bersyukur,” Kata Miyu.


“Aku bersyukur karena tak ada orang yang membalas dendam nanti,” Kata Ai.


“Ah intinya, kau jangan merasa seperti itu. Semua orang punya kelemahan san kelebihannya masing masing. Terkadang orang lain ingin selalu melihat kelebihan kita, tapi ada kalanya juga kita tak bisa memenuhi ekspetasi orang-orang itu,” Kata Ai.


“Iya, iya. Aku sudah merasa baikan sekarang,” Kata Miyu.


“Baiklah ayo duduk dulu dan mengobrol disini Ai,” Kata Miyu.


“Baiklah,” Kata Miyu.


Miyu dan Ai duduk di kursi taman itu.


“Ah maaf ya, aku tak belikan minuman untukmu,” Kata Miyu.


“Tidak apa apa kok,” Kata Ai.


“Pemandangan air mancur ini sungguh indah ya,” Kata Miyu.


“Aku tak demikian sih, aku merasa ini seperti air biasa yang mengalir saja,” Kata Ai.


“Ya perfeksi tiap orang berbeda-beda sih. jadi aku tak bisa memaksamu juga kalau ini indah,”Kata Miyu.


“Tapi dibalik keindahan air mancur ini, ada sebuah ironi yang melekat di tempat ini,” Kata Ai.

__ADS_1


“ironi karena banyak seseorang yang ditolak pacarnya disini kah?” Kata Miyu.


“ya walaupun itu benar sih, tapi maksudku bukan itu,. Maksudku adalah para pekerja ini pastinya rela dibayar murah dan kerja di hari dimana mereka seharusnya kumpul bersama keluargamya,” Kata Ai.


“Iya aku setuju bahwa ironis nya itu sih, proyek sebagus ini dibuat diatas penderitaan orang lain, dibayar lebih murah pula,” Kata Miyu.


“Tapi kenapa ya, pekerjaan yamg menggunakan fisik itu gajinya lebih murah daripada kerja menggunakan mental dan pikiran?” Kata Ai.


“Ya karena penyakit fisik itu lebih mudah disembuhkan daripada penyakit mental,” Kata Miyu.


“Dan juga, orang yang pintar itu jarang, jadi gaji mereka itu lumayan besar,” Kata Miyu.


“Mungkin itu juga alasan kenapa orangtua kita menyekolahkan kita di sekolah favorit atau terkenal. Agar kita pintar,” Kata Miyu.


“Tapi kan fisik tak akan berjalan jika tak ada pikiran, dan pikiran tak akan bisa mengeksekusi sesuatu jika tak ada fisik,” Kata Ai.


“Keduamya sama sama penting kan? Jadi kenapa gaji mereka tak setara?” Kata Ai.


“Justru yang lebih keliatan bekerja kerasnya itu pekerja yang menggunakan fisik kan?” Kata Ai.


“Yang pekerja menggunakan otak itu kelihatan bersantai ria di ruangan ber ac,” Kata Ai.


“Rumput tetangga itu kelihatan lebih hijau daripada rumput kita. Padahal kita nggak tau kenyataannya kalau rumput itu sebenarnya di cat warna hijau agar terlihat lebih hijau,” Kata Miyu. “Oi oi, perasaan kedengaran nya bukan seperti itu deh,” Kata Ai di dalam hatinya.


“Kelihatan nya sih mereka duduk duduk santai di ruangan ber ac, tapi bisa saja mereka itu selalu ditekan oleh bosnya,” Kata Miyu.


“Lagipula, mencari sebuah ide itu lebih sulit. Bukan berarti mengeluarkan semua tenaga kita itu tak sulit ya, tapi masih agak sulitan mencari sebuah ide,” Kata Miyu.


“Ya tapi kedua pekerjaan itu memang benar benar berat, kita harus menghargai orang lain apapun pekerjaannya itu,” Kata Miyu.


“Itu menurut pendapatku sih, maaf kalau aku salah,” Kata Miyu.


“Ah tidak, argumen mu juga bagus kok,” Kata Ai.


“Tapi mereka semua hebat ya, bisa menghidupi keluarganya sendiri dan dirinya sendiri,” Kata Miyu.


“Sedangkan kita hanya selalu mengandalkan orang tua kita jika membeli sesuatu,” Kata Miyu.


“Ya, semuanya ada masanya,” Kata Ai.


“Ada saatnya kita membutuhkan orang lain untuk berdiri, dan ada saatnya untuk kita berdiri sendiri. Dan ada saatnya kita merasa bahwa berdiri sendiri dan juga ada saatnya kita merasa bahwa ingin kembali menjadi anak-anak,” Kata Ai.


“Tapi yang berlalu sudah berlalu, kita harus melanjutkan hidup walaupun ingin kembali ke belakang,”Kata Ai.


“Kau benar,” Kata Miyu.


“Jangan sepertiku Miyu, dulu aku beranggapan bahwa dunia ini tak perlu memiliki teman, tapi aku salah. Aku butuh teman untuk aku hidup. Hidup sendirian hanya membuatmu menangis didalam hatimu. Ketika kau sadar, kau akan menyesal kenapa kau lakukan hal itu dahulu. Dan kau meminta untuk kembali lagi ke masa lalumu untuk membenarkan semua itu,”Kata Ai di dalam hatinya.


“Ah jadi Miyu,” Kata Ai.


“Kau jangan sampai kehilangan temanmu ya, karena mungkin kau akan membutuhkan temanmu suatu saat nanti,” Kata Ai sambil menatap ke Miyu.


“Kalau itu sih aku sudah tau, Ai,” Kata Miyu.


“Tapi, terimakasih ya Ai, Kau sudah ingatkan aku tentang itu,” Kata Miyu sambil tersenyum kepada Ai.


Ai salting hingga muka dia memerah. “Ah iya sama-sama,”Kata Ai.


“Tapi, aku senang karena pilihan ku tak salah,” Kata Ai di dalam hatinya.


“Aku senang memiliki teman seperti kalian semua,” Kata Ai di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2