Royal School

Royal School
Chapter 50:After being discharged from the hospital


__ADS_3

Akhirnya mereka selesai juga membereskan barang bawaan nya.


“Ah akhirnya selesai juga,” Kata Ai.


“Iya, akhirnya selesai juga,” Kata Miyu..


“Terimakasih ya Pak Kagemaru, Shinmaru, dan,Rie karena sudah membantu kami dari kemarin,” Kata Miyu.


“Iya sama sama Miyu,” Kata Pak Kagemaru.


“Sudahlah kenapa kau harus berterima kasih kepada dia Miyu, kan dia juga yang membuatmu seperti ini,” Kata Shinmaru.


“Hei Shinmaru, kau jangan berbicara seperti itu,” Kata Rie.


“Ya tapi faktanya memang seperti itu,” Kata Shinmaru.


“Tapi jangan langsung di depan orangnya juga dong,” Kata Rie.


“Ah, ucapanmu membuatku sakit hati,” Kata Pak Kagemaru.


“Tapi entah kenapa sakit hati ini terasa enak sekali,” Kata Pak Kagemaru.


“Maafkan temanku ini pak, memang dia itu tak sopan,” Kata Rie.


“Tidak, dia itu jujur kok,” Kata Pak Kagemaru.


“Aku suka orang jujur sepertimu Shinmaru,” Kata Pak Kagemaru.


“Jujur itu tak pernah salah, yang salahnya adalah seseorang yang tak mau menerima fakta itu,” Kata Pak Kagemaru.


“Orang yang tak mau menerima fakta itu akan terus menghindari kenyataan yang ada,” Kata Pak Kagemaru.


“Fakta itu memang kejam, tapi kita harus menerimanya seperti kita memegang sebuah pedang,” Kata Pak Kagemaru.


“Jika kita ikhlas menerimanya maka sama seperti memegang pegangan pedang, tetapi jika kita tak ikhlas menerima fakta itu maka kita sama saja memegang ujung bilah pedang itu,” Kata Pak Kagemaru.


“Dia akan selalu lari dan lari untuk menghindari fakta itu, bahkan ia sampai menutup mulut orang lain agar tak membicarakan fakta tersebut,” Kata Pak Kagemaru.


“Dan juga aku suka orang yang terus terang sepertimu, Shinmaru. Jarang orang yang langsung terus terang sepertimu,” Kata Pak Kagemaru.


“Ya walaupun ucapan mu itu lumayan pedas sih,” Kata Pak Kagemaru.


“Tapi apa gunanya jika membangun sebuah hubungan pertemanan tapi kau tak percaya sama temanmu sendiri?” Kata Pak Kagemaru.


“Bukannya hubungan itu dibangun atas rasa saling percaya ya?” Kata Pak Kagemaru.


“Kalau begitu kenapa seseorang masih berbicara tentang temannya dibelakang? Bukannya itu juga termasuk ketidakpercayaan kepada temannya?” Kata Pak Kagemaru.


“Jika ada masalah dengan seseorang, kau harus jujur dan membicarakannya. Walaupun itu menyebabkan konsekuensi yang buruk untukmu,” Kata Pak Kagemaru.


“Baiklah daripada aku berbicara terus lebih baik kita langsung berangkat saja,” Kata Pak Kagemaru.


“Ya!!!” kata Ai, Miyu, Shinmaru dan Rie. Mereka pun keluar dari rumah sakit.


“Ah pak Kagemaru, Apakah besok aku boleh izin?” Kata Miyu.


“Izin? Izin kenapa?” Kata Pak Kagemaru.


“Aku hari ini ingin menjaga Kyoko semalaman hingga besok,” Kata Miyu.


“Menjaganya? Kau tak perlu melakukan itu,” Kata Pak Kagemaru.


“Karena dia juga sudah keluar kok,” Kata Pak Kagemaru.


“Nah itu dia mereka,” Kata Pak Kagemaru sambil menunjuk sesuatu. Disana ada Kyoko, Shuichi, Gin, dan Catherine.


“Pak Kagemaru, bapak kemana saja?” Kata Gin. “Ah maaf, mereka lama karena bapak,” Kata Pak Kagemaru.


“Baiklah ayo kita langsung berangkat ke apartemen saja,” Kata Pak Kagemaru.


Mereka pergi ke apartemen mereka.


Akhirnya mereka sampai di apartemen.


“Baiklah bapak langsung pergi ya, karena bapak masih ada urusan,” Kata Pak Kagemaru.


“Kami berdua juga pergi ya, karena kami cuman izin sebentar saja,” Kata Gin.


“Begitu ya,” Kata Shuichi.


“Baiklah terimakasih ya untuk kalian berdua, dan juga pak Kagemaru,” Kata Miyu.


“Kami bersyukur punya teman dan wali kelas seperti kalian,” Kata Miyu.


“Ah aku hanya melakukan tugasku sebagai wali kelas saja kok,” Kata Pak Kagemaru.


“Baiklah kami permisi,” Kata Gin.


Gin dan Catherine pergi.


“Ya sepertinya bapak juga harus pergi,” Kata Pak Kagemaru. Pak Kagemaru pun pergi.


Setelah pak Kagemaru pergi, mereka berberes di kamar masing masing dan Rie membantu Shinmaru untuk berberes.


Ai akhirnya selesai berberes beres.


Dia pun keluar dan turun menuju ruang tamu. Dia pun duduk di salah satu sofa.


“Ah enaknya setelah ini ngapain ya?” Kata Ai. “Mungkin menunggu yang lain itu adalah solusi yang bagus,”Kata Ai.

__ADS_1


“Ah tapi, Mungkin mereka masih lama ya? ” Kata Ai. Yaudah deh, aku ke atap saja dulu,” Kata Ai.


Ai pun pergi ke atap.


Sebelum ia membuka pintu atap, sudah ada seseorang disana.


Sepertinya itu suara Yoonseo.


“Sial!!!!” kata Yoonseo.


“Kenapa poinku juga dikurangin sih? Padahal aku tak melakukan apa apa,” Kata Yoonseo.


“aku cuman bilang pendapatku saja, kenapa aku juga disalahkan sih?” Kata Yoonseo.


“Ini semua gara-gara Silvia, aku jadi seperti ini”Kata Yoonseo.


“Aku harus memberinya pelajaran,” Kata Yoonseo.


“Sepertinya ini akan bertambah buruk jika tidak dihentikan,” Kata Ai di dalam hatinya.


“Dan aku akan menghabisinya di sekolah ini,” Kata Yoonseo.


“Sudah kuduga,” Kata Ai di dalam hatinya.


Yoonseo sepertinya sadar bahwa ada orang yang menguping ucapannya.


“Siapa yang di dalam sana, KELUARLAH!!!!” kata Yoonseo.


Ai pun keluar dengan santainya.


“Ah jadi ketahuan deh,” Kata Ai. “Jadi kau ya, Ai Ushinawareta,”Kata Yoonseo.


“Ya ini benar-benar aku,” Kata Ai.


“Kukira kau belum keluar dari rumah sakit, karena oranh yang sepertimu itu bisa dirawat berbulan bulan,” Kata Yoonseo.


“Ah ini mungkin aku cuman beruntung saja untuk kali ini,” Kata Ai.


“Beruntung ya? Mungkin maksudmu....”Kata Yoonseo.


“Berbuntung dan menuju kematianmu Ai!!!!” kata Yoonseo.


Yoonseo mengeluarkan sebuah belati dan berlari menuju Ai.


Yoonseo menikam Ai, tetapi berhasil ditahan oleh Ai.


“Hampir saja,” Kata Ai.


Ai tanpa basa basi langsung menendang perut Yoonseo.


“Kenapa kau ingin membunuhnya?” Kata Ai. Yoonseo pun bangkit.


Yoonseo melemparkan belatinya ke Ai. Untungnya Ai berhasil menghindar.


“Kenapa kau juga menyerangku?” Kata Ai.


“Celah yang kecil juga bisa menenggelamkan sebuah kapal yang besar jika itu dibiarkan saja,” Kata Yoonseo.


“Ah kau maksud aku ini adalah celah lubang itu ya?” Kata Ai.


“Iya, betul sekali,” Kata Yoonseo.


“Itu sebabnya, aku harus membunuhmu!!!!” kata Yoonseo.


Yoonseo mengeluarkan satu belati lagi dan berlari ke arah Ai.


“Sial dia punya dua belati,” Kata Ai di dalam hatinya.


“Matilah kau Ai!!!!” kata Yoonseo.


Yoonseo menikam Ai. Tapi tiba-tiba ada sebuah pisau yang datang menuju arah Yoonseo.


Yoonseo langsung menebas nya. “Si-Siapa yang melemparmya?” Kata Yoonseo.


“Baiklah ini saatnya,” Kata Ai di dalam hatinya. Ai menendang Yoonseo hingga terpental.


“Maaf ya, aku bukannya ingin menendang wanita. Tapi aku cuman membela diriku saja kok,” Kata Ai.


“Sialan kau.....”Kata Yoonseo.


“Yoonseo aku punya satu pertanyaan untukmu,” Kata Ai.


“Jika kau sudah selesai membunuh Silvia, bagaimana perasaanmu?” Kata Ai.


“Ya pasti aku akan senang lah,” Kata Yoonseo. “Senang? Aku tak yakin kau akan seperti itu,” Kata Ai.


“Yang aku tahu, kau pasti akan merasa ketakutan dan gelisah dan memikirkan bagaimana cara menyembunyikan mayat dan barang buktinya,” Kata Ai.


“Kan aku bisa memakai metode racun untuk membunuhnya, jadi tak perlu menyembunyikan mayatnya,” Kata Yoonseo.


“Begitu ya,” Kata Ai.


“Walaupun begitu, kau juga akan merasa resah dan gelisah karena kau sudah membunuh dia,” Kata Ai.


“Kau akan selalu dihantui rasa takut, karena memikirkan bagaimana caranya agar kasus itu tak terbongkar ke publik,” Kata Ai.


“Kau tau kan, publik itu terkadang lebih kejam jika menilai sesuatu yang negatif?” Kata Ai.


“Pada akhirnya kau akan terus bunuh dan membunuh untuk menghindari semua masalah itu,” Kata Ai.

__ADS_1


“Sama seperti gali lubang lalu menutupnya kembali,” Kata Ai.


“Kalau begitu, apa yang aku harus lakukan agar aku bisa puas!!!!!” kata Yoonseo.


Yoonseo mengambil belatinya dan berlari menuju Ai.


Yoonseo pun langsung menebasnya. Tapi tebasannya itu berhasil ditahan.


“Sadarilah semua kesalahanmu itu,”.


Rupanya Miyu lah yang menahan serangan belati itu. Miyu langsung menendang lehernya dan memukul kepalanya ke bawah.


“Miyu, sejak kapan kau....”Kata Ai.


“Ah, seharusnya kau tak perlu keluar santai seperti itu tadi Ai jika kau tak memiliki persiapan,” Kata Miyu.


“terlalu berhati hati itu bahaya juga kan?” Kata Ai.


“Iya sih,” Kata Miyu.


“Sejak kapan kau ada disini?” Kata Yoonseo.


“Sejak dari tadi, bahkan sebelum kau,” Kata Miyu.


“Begitu ya, baiklah aku akan menghabisi kalian berdua!!!!” kata Yoonseo.


“Ai, ambil belati yang dipintu itu agar kau bisa bertahan dari serangannya”Kata Miyu.


“Ya, aku tahu itu,” Kata Ai. “Aku akan menahannya dahulu”Kata Miyu.


“Menahan? Apakah kau bisa menahan seranganku ini!!!!!” kata Yoonseo.


Yoonseo berlari menuju Miyu lalu menyerangnya, tetapi serangan itu berhasil dihindari oleh Miyu.


“Dia bukan ingin menyerangku?” Kata Miyu di dalam hatinya.


“Matilah kau, AI!!!!” Kata Yoonseo sambil berlari menuju Ai.


“Ai!!!!!!!” Teriak Miyu. Yoonseo menyerang Ai.


“Kau pikir aku akan mati ditanganmu semudah itu,” Kata Ai.


Ai berhasil menahan serangan nya menggunakan belati yang dilempar Yoonseo tadi.


“Bunuh dan membalas dendam bukanlah sebuah perbuatan yang benar. bahkan kau mengatasnamakan keadilan pun, pembunuhan dan membalas dendam bukanlah suatu kesalahan yang bisa dibenarkan,” Kata Ai.


“Walaupun kau membayar orang sekalipun untuk membuktikan kau itu tak bersalah, kau tetap salah,” Kata Ai.


“Mungkin kau akan mengerti jika aku melukai mu hingga nyaris mati,” Kata Ai.


Ai langsung memberi sayatan ke tangan kiri ke Yoonseo. Yoonseo mengerang kesakitan.


“Bagaimana rasanya, bagaimana rasanya kau dilukai oleh orang lain? Sakit bukan?” Kata Ai.


“Itu cuman luka kecil doang, kau belum mendapatkan luka yang bisa membuatmu sekarat,” Kata Ai.


“Mungkin hukumanmu dipenjara lebih kejam dari ini,” Kata Ai.


“Apakah kau masih mau membunuh kami dan Silvia?” Kata Ai.


“Kau masih mau ya? Kalau begitu aku akan langsung memberikan luka yang fatal untukmu,” Kata Ai.


Ai ingin menyerang Yoonseo, tapi ditahan tangannya oleh Miyu.


“Sudah, Ai. Ini sudah cukup,” Kata Miyu.


“Baiklah,” Kata Ai. Miyu melepaskan tangannya. Yoonseo menangis menahan sakit.


“Kalau begitu.....” Kata Yoonseo.


“Apa yang harus ku lakukan?” Kata Yoonseo.


“Sadarlah bahwa kau itu juga salah,” Kata Ai.


“Kau jangan menyalahkan orang lain, karena memang kaulah yang salah,” Kata Ai.


“Kau anggap dirimu benar, lalu Silvia salah gitu?” Kata Ai.


“Jika kau berpikir seperti itu, maka kau itu payah,” Kata Ai.


“Ya mungkin menurutmu perlakuan itu tak ada salahnya, namun apakah orang berpikir demikian?” Kata Ai.


“Oleh karena itu, ucapan itu terkadang bisa menerkammu,” Kata Ai.


Yoonseo terus menangis dan tak mau berhenti.


“Miyu, apakah kau punya sesuatu untuk menghambat pendarahannya?” Kata Ai.


“Ya untung aku membawanya,” Kata Miyu. Miyu mengambil sebuah kain putih. Dia pun melapisinya dengan luka itu.


“Kain ini steril kan?” Kata Ai.


“Iya, ini steril,” Kata Miyu.


“Baiklah bawa dia ke kamarmu dan obati dia Miyu,”Kata Ai.


“Tanpa kau suruh aku juga tau itu Ai,” Kata Miyu.


Miyu Yoonseo dan Ai pergi ke kamarnya.

__ADS_1



__ADS_2