Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 1 - Teman Lama


__ADS_3

Aku berdiri di sini


Di keheningan senja


Yang kian meremang


Diantara desah semilir angin


Yang membuatku tersisih


Dan semakin jauh dari jangkaumu


Burung camar yang melayang


Menepis buih di pantai


Butiran pasir yang tersibak ombak


Iramanya yang kadang menyentak


Bagai genderang menabuh pilu


Rindu yang tak mungkin bertaut


Walau kadang resah


Berusaha membuka tabir tanya


Pada jelaga kegelisahan hati


Yang menari pada perigi naluri


Gita rindu yang bersemayam


Terangkai indah membingkai rasa


Dari bahasa kalbu yang tak terurai


Kala semua kian samar


Kasih telaga hati ini mampu menampung rasa dalam kebisuan


Akan makna cinta yang terangkum


Menanti saat menjabarkan kata-kata


Mungkin kelopak asmara merekah


Kala rindu datang menerpa


Tapi pupus kala senja menghilang


Binar mata ini hanya sendiri


Akankah lepas dari genggaman


Mana mungkin terus berharap


Riak prahara telah bergulung dan pecah

__ADS_1


Mengigil diguyur keraguan


Denting waktu menjadi menakutkan


Karena cinta menjadi pertanyaan


Dan alasan untuk pembenaran


Hingga ragu untuk melangkah


Kala semua kian samar


Sebuah kejujuran yang kerap meragukan


Apa yang mesti aku lakukan


Saat gejolak rindu menyengat hati


Sedang bintang tak lagi bersinar


Dan bercengkrama hanya karena iba


Buku berwarna jingga terbuka lebar. Tangan lentik yang terus menuliskan bait-bait sendu kini menjadi saksi bisu tentang perasaannya. Di malam yang gelap penuh dengan bintang-bintang. Mika tersenyum menatap buku yang sudah lusuh.


Benda persegi di sampingnya berbunyi melantunkan lagu kesukaannya. Ia hanya mengabaikan itu semua. Takut terjadi apa-apa yang telah ia rasakan. Mungkin perasaan yang gundah atau sebaliknya.


Suara benda pipih persegi itu membuat Mika meradang kesal, karena saat ini ia membutuhkan ketenangan bukan untuk diganggu. Terutama masalah yang tak kunjung usai pada kehidupannya saat ini.


Ia terus memandangi bulan yang saat ini tengah menyapanya, merasakan aroma malam yang menyejukkan hati. Malam selalu sepi sampai sepertinya yang sepi tiada arti, sebatas angan bisa jadi. Ataupun hanya sebatas duka.


Panggilan itu lagi yang membuat Mika semakin ingin menghempaskan ponsel-nya yang sudah berdering sejak tadi, ia melihat ada panggilan masuk dari sahabatnya yang telah lama ia tidak jumpai.


“Halo!!"


Tidak ada jawaban dari sebrang sana.


Lamat-lamat terdengar suara deham. "Assalamualaikum, Mika sayang yuhuuuu....” teriak perempuan dari seberang sana membuat Mika menjauhkan HP beberapa senti. Telinganya sudah mendengung sakit akibat suara toa dari sahabat lamanya.


“Wa’alaikumsalam, ada apa, Nai? Nelfon malam-malam begini nggak ada kerjaan?” tanya Mika ingin menjaili sahabatnya.


“Aish ... Sewot amat Neng. Gue cuma pengen nelpon lo masa nggak boleh. Pelit amat sama pulsa!” ngegas Naisha di sebrang sana.


“Gue serius nih. Ada apa?”


Yang di tanya malah cekikikan di sebrang sana, Mika yang mendengar itu semakin sewot akan tingkah Naisha yang membuat ia naik darah tinggi. “Ada apa, hah?” Mika kembali mengulang pertanyaan.


Lagi dan lagi Naisha hanya tertawa terbahak-bahak di sebrang sana akibat berhasil membuat Mika marah. Kepenatan Mika semakin bertambah dan si tersangka adalah sahabatnya sendiri.


“Ka....”


Belum sempat Naisha ingin memberitahu sesuatu lewat telepon Mika langsung mematikan ponselnya. Ia tidak suka kalau Naisha hanya membuat ia semakin marah.


Mika sekarang tidak memperdulikan panggilan di ponselnya. Sekarang yang sangat dibutuhkan hanya tidur cantik daripada harus berdebat sama Naisha.


***


"MIKAAA!!! BANGUN...!!"


"OOOY ... MIKA CEPET BANGUN....!!!"

__ADS_1


Teriakan Naisha sangat sukses membangunkan Mika yang masih mengulet malas di bawah selimutnya.


"Ganggu aja lo!!" Dengusan kasar Mika kesal. Ia melirik jam dinding kamarnya. Ternyata masih pukul lima pagi.


"Mau ngapain sih lo ke rumah pagi buta gini? Mau numpang makan? Sana, panggil Mbok Inem!" ujar Mika asal seraya menggosok-gosok matanya.


“Enak aja!" Naisha menggamit pipi Mika. "Ish ... Lo pasti lupa. Kita 'kan udah janjian mau jogging bareng. Lo siap-siap gih,” sungut Naisha keki.


Mika diam, ia sedang mencerna kalimat yang diucapkan sahabatnya. "Oh iya, gue lupa," Ia terkekeh seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Naisha cengar-cengir melirik ke arah Mika. Memperlihatkan lesung pipit menawan miliknya. Mika yang mengantuk tidak peduli dengan Naisha dan menguap berkali-kali.


"Cepetan cuci muka sana." Naisha menarik lengan Mika dan mendorongnya ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia tidak ingin rencana batal lagi, sudah empat kali rencana jogging batal hanya karena Mika sulit bangun pagi.


“Gue belum ganti baju. Lo keluar sana!” pekik Mika seraya menutup pintu kamar mandinya.


Naisha menurut kata Mika yang ia langsung berlari ke ruang tamu rumah sahabatnya. Mika dan Naisha. Bagaikan langit dan bumi. Saling melengkapi dalam kebersamaan dan persahabatan walaupun memiliki kepribadian yang berbeda. Selama enam tahun mereka sudah terikat dalam ikatan indah yang disebut persahabatan.


Mika mengenalnya masa kelas 1 SMP. Mereka dipertemukan dalam kelas yang sama. Naisha adalah anak yang pemalu dan pendiam. Namun kehadiran Mika membuat ia berubah menjadi anak yang percaya diri. Meskipun kedua jomblowati ini bersahabat dekat, tapi mereka berbeda dalam perawakan. Naisha berkulit sawo matang, bertubuh mungil, berambut lurus dan hitam. Sedangkan Mika berpostur lebih tinggi daripada Naisha, berkulit kuning langsat, berambut pirang pendek sebahu.


***


"Tuh anak mana sih? Malah ngilang!"


Dengan memakai tank top abu-abu dibalut sweater cream, serta celana jeans selutut dan sepatu kets-nya sudah siap untuk jogging. Namun, Mika tidak menemukan keberadaan Naisha di rumahnya seperti yang dikatakannya tadi.


Mika segera ke luar rumah. Dan benar saja, tidak jauh dari rumahnya, Naisha sedang bercakap-cakap dengan cowok seusianya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mika langsung menghampiri keduanya.


"Hai, Ka. Masih inget gue nggak?" Cowok itu pun mengeluarkan suaranya.


Mika tidak menjawab. Matanya memincing, meperhatikan cowok yang berdiri di depannya itu dari wajah hingga ke ujung kaki. Entah kenapa Mika tidak kunjung mengenalinya.


"Ini gue Alhan, Ka." Lelaki yang mengaku bernama Alhan menjawab kebingungan Mika.


"Alhan? Em ... Alhan sahabat Naisha?" tanya Mika memastikan.


"Yaps, lo bener, Ka. Dia udah pulang dari Singapura jadi tambah ganteng," sahut Naisha.


"Heh!" Mika menyikut kasar lengan Naisha.


"Apaan sih, Ka! Emang benar 'kan, Alhan tambah ganteng?"


Alhan terkekeh dengan pujian Naisha. "Ah, bisa aja lo, Nai."


"Lo lagi liburan, Al?" tanya Mika.


"Gue udah menetap di sini lagi, Ka. Gue kangen sama Indonesia, apalagi Jakarta. Rumah gue deket kok sama rumah lo, di belakang kompleks lo. Gue juga satu kampus sama kalian. Yah, sekelas lagi sama Naisha." Tawa renyah Alhan terdengar di keheningan pagi ini.


Penglihatan Naisha memang tidak salah. Alhan jauh lebih tampan dibanding dulu. Tubuhnya dulu kurus kerempeng sekarang sudah terlihat gagah. Gigi gingsulnya sudah tidak ada lagi dan terlihat lebih rapi. Padahal Naisha lebih suka dengan giginya yang lama. Posturnya lebih matang dan dewasa. Hanya saja, Alhan tidaklah sempurna seperti pangeran-pangeran di negeri dongeng.


Alhan juga manusia yang memiliki kekurangan, yaitu ia sangat phobia pada serangga dari ordo Blattodea atau yang sering dikenal kecoak. Sama halnya dengan Mika. Tidak jijik atau benci, tapi mereka berdua sama-sama takut pada hama yang kurang lebih terdiri dari 3.500 spesies dalam 6 famili itu.


Pernah sewaktu kelas 3 SMP dulu, Alhan yang cupu dikerjai oleh teman-teman sekelasnya. Kotak bekalnya diisi dengan kecoak hingga memekik ketakutan dan sejak saat itu ia tidak memakai kotak bekal itu lagi. Mika hanya merinding ngeri kala mendengar cerita itu dari Naisha, karena pada waktu itu Mika tidak sekelas dengan mereka.


Naisha dan Alhan adalah teman sejak kelas 3 SD sampai sekarang. Kendati tidak sedekat dengan Naisha, acap kali Mika membuat orang lain akrab dengan dirinya. Kini, mereka pun terlihat seperti teman lama meskipun Alhan pergi selama 4 tahun ke Singapura.


Dua insan tak lama dipertemukan itu tengah asyik mengobrol dan bernostalgia, semenjak beberapa detik lalu Naisha merasa tidak di anggap kehadirannya oleh mereka. Sungguh ia tak sanggup lagi memandang interaksi antar teman lama yang terpampang di depannya. Naisha memutuskan segera angkat kaki dari sana, pernahkah kalian merasa ingin dilibatkan dalam percakapan tapi malah tak diacuhkan?


__ADS_1


__ADS_2