
Brakk......
Mobil Firdaus menabrak pohon yang ada di pinggir jalan, keningnya berdarah mungkin terhantam setir. Orang yang berada di dekat itu berlari untuk menolong Firdaus dan membawanya ke rumah sakit, ia tidak kenapa-kenapa hanya kepalanya berdarah dan mobilnya yang rusak.
Tak lama kemudian, Firdaus sampai di rumah sakit di bantu oleh warga yang menolongnya di bawa ke ruang UGD.
"Apa perlu saya menghubungi keluarga bapak?" tanya seseorang lelaki melihat Firdaus sudah sadar meskipun ia sempat pingsan di perjalanan tadi.
"Tidak usah, Pak! Biar saya saja yang menghubunginya nanti," kata Firdaus tak ingin keluarga atau istrinya khawatir karena mendengar ia kecelakaan.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak!" Ujar warga tadi.
"Terimakasih ya, Pak! Sudah mau membawa saya ke rumah sakit," ujar Firdaus, ia masih berada di atas brankar rumah sakit dan kini dokter baru saja lalu menyuruh perawat untuk membersihkan darah di kening Firdaus lalu memasang silang infus.
Firdaus baru ingat mobilnya mungkin saja Masih di tempat kejadian, ia pun menghubungi seseorang dan menyuruh untuk mengurus mobilnya.
__ADS_1
Di tempat lain Melur sangat khawatir, pasalnya jam sudah menuju pukul 06:00 sore tapi Firdaus belum juga kembali. Melur mencoba menghubungi nomor Suaminya tapi tidak di angkat, perasaannya bertambah kalut. Sedari tadi ia terus menangis dan tidak keluar kamar.
"Kamu dimana, Mas? Tolong angkat ponselnya, aku mohon," Melur kembali menghubungi suaminya, tapi tak juga di angkat sehingga panggilan ketiga kalinya.
Di rumah sakit, kepalanya baru saja di perban karena tidak terlalu parah tapi dokter tak mengizinkan ia pulang masih pusing tapi ia tetap kekeh untuk pulang karena ia sudah lama keluar rumah.
"Dok, apa saya boleh pulang?" tanya Firdaus.
"Boleh jika bapak tidak ingin di rawat tapi besok bapak harus kembali ke rumah asik jika mengalami sakit kepala, agar kita periksa lebih Lanjut.
Tak lama kemudian, Taxi online tepat di depan pintu gerbang rumah sakit. Ia pun langsung naik untuk pulang ke rumah meski ia merasa sedikit pusing tapi ia tidak mau menginap di rumah sakit.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah, hanya butuh waktu tiga puluh menit. Saida mendengar deru suara mobil dari lantai atas dan melihat Firdaus pulang ia langsung turun ke bawah, tak peduli jika ia masih lemah . Saat ini yang ingin dia lakukan hanya untuk bertemu dengan suaminya.
"Mas, kamu sudah--!" ucapan Melur terhenti melihat kepala Firdaus yang di perban, sedangkan Firdaus tak peduli meskipun ia ingin tapi harus tegas agar Melur paham jika yang berada saat ini bersamanya adalah kekasihnya.
__ADS_1
Sadar jika Firdaus tidak ada lagi di depannya, ia pun segera menutup pintu rumah dan mengejar Firdaus yang sudah berjalan menaiki tangga.
"Apa yang terjadi dengan kamu, Mas? kamu kenapa?" Melur kembali memberondong Firdaus dengan segala pertanyaannya, tapi bukannya menjawab ia lebih memilih diam karena saat ini yang dia inginkan hanya beristirahat.
Firdaus menekan handle pintu lalu masuk ke kamar mereka, di susul oleh Melur yang kini berada di belakangnya.
"Mas, kamu kenapa diam! Kenapa kamu begini, apa kamu mengalami kecelakaan?" tanya Melur mencoba memegang kening suaminya tapi tangannya terhenti karena Firdaus menahannya.
"Tidak perlu, saya baik-baik saja!" Ujar Firdaus berjalan ke kamar mandi karena belum mandi.
"Tapi kenapa, Mas? Aku ini istrimu?" kata Melur.
"Lalu apa bedanya aku dengan Mu? Aku juga suami mu tapi apa kamu pernah memikirkan perasaan aku," Firdaus menatap ke lain arah. karena ia tak sanggup melihat air mata Melur yang sudah menetes, ia berjalan ke kamar mandi membiarkan Melur untuk merenungi kesalahannya.
Selesai Mandi, ia keluar dari sana dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Melur yang tidak tahan lagi menahan rasa sesak di dada langsung memeluk suaminya, Firdaus yang melihat itu semua hanya diam lebih tepatnya ia merasa syok karena Melur memeluknya dalam keadaan bertelanjang dada.
__ADS_1