
Sore harinya, Mika sedang jalan-jalan di sekitar kompleks yang berada tidak jauh dari rumahnya menjadi destinasinya. Suara tawa ria anak-anak kecil yang tengah bermain di taman mendampingi kegiatan santai Mika. Terlihat ia memilih duduk di bangku taman menghadap ke danau kecil membuat mata siapa saja takjub menikmati mahakarya sang pencipta. Ya, itu adalah tempat favorit Mika untuk melenyapkan sepi.
"Kak... Tendang bolanya dong!" suara seorang anak kecil mengenyahkan lamunan Mika.
Setelah mencicipi sadar dengan permohonan anak itu, ia segera memungut bola yang berada di bawah bangku tempat duduknya. Lantas ia menendang bola dengan semangat ke arah mereka. Seutas senyum tercetak jelas di wajahnya. Tawa dan senyum mereka membuat dirinya mereka tidak pernah sendirian.
Tangan Mika merogoh kantong celana jeans longgarnya dan mengambil ponsel. Jari-jari lentiknya mulai menari dengan lincah di atas layar sentuh.
You
Nai, lo bisa jemput gue ke rumah?
Mak Lampir Kampret
Ke sini aja sendiri lo yang butuh kok gue yang susah
You
Songong banget sih lo
Mak Lampir Kampret
Bodo amat...
Daku menunggumu tuan putri
You
Oke deh gue naik ojol tapi lo yang bayar, ya!!
Read
Mika sudah bersiap-siap beberapa menit lalu. Sebuah motor ojol pesanannya sudah sampai di depan rumah. Kemacetan ibukota tidak menyurutkan kegigihan Mika sampai ke rumah sahabatnya. Ia datang menyeret koper mini yang biasa dibawa saat sedang berlibur ke luar kota.
"Eh, lo ngapain bawa koper segala? Mau ngajakin kabur bareng gue?"
__ADS_1
Mika hanya bungkam. Ia merunduk kalau sudah begini, Naisha sangat mengetahui jika sobatnya itu kini tengah dirundung masalah. Mika bukan lah orang lazim yang mudah menceritakan segala permasalahannya. Malah ia adalah seorang yang introvert. Namun kini, Naisha mendeteksi beribu kesedihan tersimpan dalam wajah manis sahabatnya.
"Yuk! Kita curcol di kamar gue ya," bujuk Naisha. Sejenak kemudian, mereka berdua beralih dari sofa dan pergi mengarah ke kamar Naisha. "Lo pasti capek, 'kan? Jadi ini biar gue yang bawa!" Naisha mengambil koper mini Mika dari tangannya.
Mika mengikuti Naisha. Ia berjalan mengekor untuk pergi ke lantai dua, tempat kamar Naisha berada. Mereka baru saja memasuki kamar minimalist bercat biru tua itu. Di dinding tergantung beberapa foto dengan rapi. Dari mulai masa kecil Naisha hingga sekarang bingkai itu menyimpan kenangan yang terlihat jelas di mata.
Setiap Weekand, Naisha selalu membagi waktunya untuk membersihkan pigura-pigura itu dari debu. Naisha tidak ingin kenangan bahagia itu ternodai oleh setitik debu, jika sampai itu terjadi maka ia sama saja tidak menghargai benda itu yang sudah memberikan kenangan manis.
Mika membaringkan tubuhnya di kasur empuk milik Naisha yang dilapisi bedcover bergambar gunung, bintang, dan bulan. Ya, Naisha sangat suka pemandangan alam. Karena dari kecil, ia selalu diajak Ayahnya menjelajahi hutan ataupun pegunungan. Mungkin itulah awal mula dia menyukai itu.
"Lo itu kenapa sih, Ka?" Naisha memulai percakapan.
Mika hanya membisu.
"Apa ini soal nyokap lo?" tebak Naisha.
Mika mengangguk lesu. Diambilnya boneka yang berada di sampingnya. Pelukan erat-erat pada benda itu tanda kesedihan hatinya. Kemudian Naisha membantu Mika bangkit. Mau tidak mau, Mika mengikutinya dan duduk.
Naisha mengelus halus pundak Mika. Ia berharap kesedihan dan masalah yang merundungi sobatnya akan lenyap dalam sekejap, dan kebahagiaan bersemi di hidupnya kembali. "Tinggal di sini selama lo mau aja," ujar Naisha.
Sejenak mereka terhanyut dalam suasana hangat yang ada di dalam kamar Naisha. Kesempatan seperti inilah yang dicari Mika kala dirinya berada dalam masalah, terutama sebulan ini.
Suara ketukan di pintu kamar Naisha membuat kedua cewek itu mengembalikan posisi. Salah satu dari mereka memutuskan membuka pintu. "Eh, Mbok Sari! Ada apa, ya?" tanya Naisha.
"Anu ... Non. Mbok ke sini cuma mau bilang kalo ada teman Non di bawah namanya Alhan," sahut Mbok Sari.
Sekejap kemudian Mika dan Naisha pun turun ke bawah dan menemui Alhan. Malam itu Alhan hanya memakai kaos dan celana jeans membuat dirinya tampak maskulin.
"Hai, Al!" sapa Naisha dan Mika bersamaan.
"Hai, Nai. Eh, ada Mika juga, ya?" Alhan terkejut.
"Iya, Al. Gue lagi nginep di rumah Naisha. Malem-malem gini lo mau ngapain, Al?" sahut Mika.
"Dia ke sini karena gue yang minta. Kita sekarang makan ke warung Mang Sarimin, yuk! Di sana nasi gorengnya mantap loh." Naisha menyahuti sahabatnya. "Mau 'kan, gue ajak lo makan bareng gue sama Alhan? Gue traktir deh...." tambah Naisha.
__ADS_1
"Mau-mau aja, Nai," ujar Mika semangat.
***
Warung Cak Sarimin berada hanya 50 meter dari rumah Naisha. Itu sebabnya, mereka bertiga tidak perlu menggunakan transportasi hanya cukup berjalan kaki sudah sampai. Mereka pun tidak keberatan akan hal itu.
Naisha sedikit berteriak karena musik yang disetel Cak Sarimin suaranya sedikit keras. "Mang, pesen nasi goreng sama susu jahe tiga, ya!!!"
"Siap, Non!" sahut Cak Sarimin tidak kalah keras.
"Heh, suara lo cempreng juga, ya?" Alhan menyikut lengan Naisha yang berada di sampingnya.
"Iiihh apaan sih? Nih rasain!" sebuah cubitan keras mendarat di pinggang Alhan.
"Aawww!! Sakit tauu ... Sini lo!" Alhan bersiap-siap mengejar Naisha yang sudah kabur terlebih dulu.
Akhirnya, aksi kerja-kejaran layaknya Tom and Jerry pun dimulai. Mika hanya bisa menggeleng-geleng kepala, utung saja di sekitarnya tidak terlalu banyak orang. Sebab mereka akan aneh melihat sepasang remaja masih bermain kejar-kejaran sepantasnya anak TK.
Tidak lama akhirnya, pesanan mereka pun datang. Aroma semerbak dari tiga piring yang masyhur enak itu menyita perhatian dan meluapkan sejenak aksi kekanak-anakan mereka. Rasa lapar semakin terasa saat makanan itu tersaji di depan mata mereka.
Tanpa menunggu banyak waktu lagi, Alhan langsung melahap nasi gorengnya. Rasa penasaran sudah tidak bisa ditahan lagi mendengar banyak cerita dari Naisha tetang kelezatan nasi goreng Cak Sarimin. Sangat benar sekali, terlihat Alhan begitu menikmati nasi gorengnya. Sedangkan dua cewek cantik di sampingnya juga ikut menikmati makanannya.
***
Mika dan Naisha pun masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamar Naisha. Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 masih terlalu awal untuk mereka tidur. Jika salah satu dari mereka belum bisa tidur sudah pasti mereka telefon-telefonan sampai larut malam. Kadang kala juga sampai lewat tengah malam, tapi itu kebiasaan mereka dulu sebelum mereka duduk di bangku kelas 3 SMA.
"Oh, ya, Nai. Akhir-akhir ini gue lihat lo makin deket sama Alhan?" tanya Mika penuh selidiki.
"Biasa aja kok, Ka. Kita itu cuma sebatas sahabat aja nggak lebih." Naisha masih sibuk mencari dress plaid pattern navy untuk kuliah besok.
"Tapi yang gue liat kedekatan kalian beda, Nai."
Kali ini Naisha memandang Mika dengan tatapan mengejek. "Beda dari mananya sih? Semua masih sama di mata gue, Ka. Jangan-jangan lo cemburu ya?" ledek Naisha.
"Iihh, apaan sih!! Udah ... Udah!! Kok malah ngaco gini..." Mika salah tingkah. Diambilnya buku Naisha di meja belajar. Ia membuka lembaran asal dan langsung menutup wajahnya. Entah kenapa ditanya seperti itu, Mika langsung salah tingkah serta mati kutu sendiri.
__ADS_1