
Alhan tiba-tiba teringat diary Mika. Ia kembali mengamati buku itu kemudian membuka lembaran terakhir yang belum dibacanya. Alhan semakin penasaran membayangkan nama yang tertulis dalam curahan hatinya. Padahal, bukunya belum ia buka dan baca. Memang benar, feeling-nya sebagai orang yang sudah mengalami jatuh cinta akan mudah menebak perasaan sayang orang lain.
Ia mempertimbangkan buku yang sekarang berada di genggamannya. Ia membuka dengan perlahan, kadar penasarannya sudah tidak bisa di bendung lagi.
Gue bener-bener harus jaga jarak dari kalian berdua. Selama ini gue udah nahan rasa sakit ini, Nai... gue sayang banget sama lo. Gue jatuh hati sama lo sejak dulu kita deket. Gue jatuh cinta sama lo!!!
Tangan Alhan bergetar hebat. Buku diary Mika seketika jatuh. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan dibaca. Mika mencintai Naisha. NAISHA!! Ataukah Alhan salah membaca? Pasti saja tidak jelas-jelas di sana tertulis nama calon istrinya.
Ya Tuhan... Ternyata Mika?
Alhan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tidak mungkin Mika seperti yang ada dibenaknya yaitu lesbian.
"INI NGGAK MUNGKIN!!"
Buku diary Mika masih tergeletak di bawah kaki Alhan. Tulisan-tulisan di dalamnya tidak pernah salah. Buktinya tidak ada sedikit pun coretan di sana. Hanya saja ia bimbang apa yang harus dilakukannya. Apakah ia akan mengatakan hal itu pada Naisha? Tidak mungkin, nanti sudah pasti Naisha terguncang, kecewa, atau bahkan membenci sahabatnya sendiri.
Cinta dalam sebait kata
Semua tak seperti yang diharapkan
Cinta yang terungkap dalam tulisan ini
__ADS_1
Meski baitku tak romantis
Kuharap inilah jerit tangis
Yang bebaskanku dari teralis
Agar aku bisa menatapmu tersenyum manis
***
"Aduh, Non Naisha pancen ayu tenan¹," puji Mbok Sari. "Mbok nggak nyangka Non Naisha udah resmi punya suami. Serasa baru kemarin ngerawat Non yang masih kecil." lanjutnya.
"Muga-muga diparingi kabegjan donya akherat nggih, Non. Sing dados kulawarga Sakinah, Mawaddah, lan Warrohmah.²"
"Aamiin, matur sewun,³ Mbok." Naisha tersenyum merekah.
Ngomong-ngomong soal suami, Naisha belum berbicara sedikit pun pada Alhan, cowok yang telah resmi mempersuntingnya itu. Pandangannya menyisir seluruh ruangan untuk menemukan sosok cowok itu, namun hasilnya tidak ditemukan. Apa Alhan tidak bersungguh-sungguh menikahi Naisha?
Masih dalam mode mencari, mata Naisha menangkap postur cowok yang telah menjadi suaminya itu. Alham tengah berjalan menuruni tangga dengan santai. Bahkan saking santainya, cowok itu sudah mengenakan t-shirt dan celana jeans selutut.
Enak sekali dia. Sepertinya ia tidak mengacuhkan Naisha yang tengah kerepotan menggunakan kebaya dengan riasan yang hampir berantakan.
__ADS_1
Apalagi dia? Alhan seenaknya melenggang ke arah meja makan tanpa sekalipun acuh di mana keberadaan Naisha. Tentu saja hal itu membuat Naisha jengkel sendiri. Perasaan waktu itu Alhan lah yang ngebet nikah. Coba lihatlah sekarang?
"Mas, Naisha ganti baju dulu ya?"
Alhan hanya mengangguk dan masih sibuk dengan sepupu-sepupunya, hal itu sudah jelas membuat Naisha semakin jengkel.
Naisha membanting pintu kamarnya keras. Rasanya jengkel sekali melihat Alhan seakan membuangnya. Apa cowok itu berencana menjadikan dirinya janda kembang?
Dengan hati yang jengkel, Naisha membersihkan wajah ber-make upnya dan mengganti kebaya dengan pakaian santainya. Cewek itu lantas memilih stripe trim racer back romper yang hanya ia gunakan di rumah, karena dirinya tidak berpikir ke lantai dasar. Ia lebih memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur lembutnya sembari memeluk boneka kesayangannya.
Naisha memiringkan tubuhnya melingkarkan tangan dan kakinya pada boneka yang besar itu. Kemudian, menenggelamkan wajahnya di balik benda empuk halus itu dan entah butuh beberapa waktu hingga akhirnya ia terlelap karena kepenatan.
_______
¹. Sungguh cantik sekali.
². Semoga diberi kebahagiaan dunia akhirat ya, Non. Menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Warrohmah.
³. Terima kasih.
__ADS_1