
Jam sudah menuju pukul 02:00 pagi tapi Melur tidak bisa tidur, untuk memejamkan mata susah sekali. Ia beringsut dari tempat tidur lalu ke luar kamar, iseng-iseng ia membuka pintu kamar Firdaus padahal orang yang di cari berada di belakangnya yang baru saja keluar dari arah dapur.
Melihat Melur mengintip seperti anak-anak membuat Firdaus ingin tertawa, padahal ia baru saja shalat tahajud. Ia juga tidak bisa tidur di saat ia jauh dari istrinya.
"Sayang... Kok belum tidur?" Suara seseorang mengangetkan Melur lalu ia menoleh ke belakang dan melihat suaminya berada di luar kamar membuat ia malu, dengan memutar otak ia mencari alasan agar suami tidak berprasangka yang tidak-tidak padanya.
"Eh, Mas belum tidur juga. Melur gak bisa tidur Mas," kata Melur tidak ada alasan yang keluar dari kepalanya.
"Bilang saja kalau istri Mas tidak bisa tidur sendiri lagi," kata Firdaus menggoda istrinya sudah malam begini.
"Maksud Mas apa?" Kata Melur polos.
Firdaus berjalan menatap istrinya, Melur berada di depan kamar Firdaus. Merasa terpojok, Melur berdiri di samping pintu kamar Firdaus.
Cup....
Ciuman kembali mendarat di bibir Melur, ia memejamkan mata menikmati sentuhan yang begitu lembut. Firdaus terus meneruskan aksinya yang membuat Melur melambung ke awan, ia membuka pintu kamar membawa Melur masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Melur terus mengeluh mencoba menahan Firdaus agar tidak terlalu jauh tapi batinnya menginginkan semua itu tapi pikirannya mencoba untuk menolak. Firdaus terus mendarat kecupan- kecupan indah di leher Melur yang jenjang membuat hasrat keduanya terbakar.
Tak ingin memaksa, nafas keduanya memburu membuat Firdaus tahu kalau istrinya berhasrat tapi ia tahu tidak mungkin memaksa tanpa seizin dari istrinya. Firdaus melepaskan ciuman tersebut lalu menggendong Melur membawanya ke atas ranjang membuat Melur sangat takut jika ia akan melakukan malam pertama malam ini.
"Tidurlah, karena besok kita akan jalan-jalan," kata Firdaus tersenyum mengerjai istrinya yang hampir saja kelepasan, Melur menatap suaminya dengan kecewa. Ia berharap lebih tapi ia tidak berani.
Melur mengangguk, lalu Firdaus mematikan lampu kamar mereka dan menarik selimut menutupi kepala keduanya, ada hasrat yang terpaksa ia tahan meski ia benar-benar tak sanggup.
______________&&&&&&_______________
Jam 05 pagi, Firdaus bangun lebih awal karena semalam ia bermimpi berhubungan dengan istrinya sehingga ia terpaksa bangun lebih awal sedangkan Melur masih tidur karena semalam sudah larut malam ia tidur.
Firdaus mengambil terong memotongnya dadu, ia akan menggorengnya dan mengambil tempel, ia akan menggorengnya dengan menggunakan tepung. Masakan sederhana tapi cukup membuat ia bahagia karena bisa menikmati bersama istrinya.
Melur keluar dengan rambut yang basah, ternyata ia sudah bangun. Melihat suaminya memasak di dapur, ia ikut membantu menggoreng tempe dengan tepung.
"Mas, kok gak bangun aku?" tanya Melur.
__ADS_1
"Semalam kan istri Mas gak bisa tidur, jadi gak mas bangunin takutnya kamu ngantuk nanti waktu kita jalan-jalan," kata Firdaus sibuk menggoreng tempe.
Melur menatap suaminya, "Mas gak bohong kan tapi kok sprei kita basah ya," kata Melur fokus pada tempe goreng, Firdaus yang mendengarnya langsung ke kamar untuk melihat sprei tadi.
"Sprei tadi mana sayang?" tanya Firdaus.
"Sudah aku masukkan ke dalam keranjang baju kotor, lagian sudah aku bersihkan kok Mas. Mungkin air menumpahkan kasur Mas," kata Melur polos.
"Baiklah, untung saja istriku polos kalau tidak bisa malu aku," kata Firdaus lirih.
"Tidak usah sayang, biar nanti mas cuci spreinya. Kita jemur di balkon saja nanti," kata Firdaus.
"Terserah Mas saja," kata Melur selesai menggoreng tempe kesukaannya.
"Ya sudah, ayo makan sebentar lagi kita akan berangkat loe," kata Firdaus, Melur hanya mengangguk lalu ia mengambil nasi di dalam penanak nasi dan memberikannya pada Firdaus suaminya.
"Maaf ya sayang, kita cuma makan yang ini," kata Firdaus melihat terong balado dengan tempe goreng.
__ADS_1
"Sudah mas, terongnya enak lagian yang masak untuk mas itu aku bukan Mas," kata Melur menyantap terong masakan suaminya cukup enak, mereka makan bersama tertawa dengan penuh bahagia.