
Cup....
Firdaus mencium bibir ranum Melur, harum bau shampo menyeruak ke hidung Firdaus membuat ia ingin melakukan lebih tapi ia sadar jika hari sudah pagi, tentu saja orang akan menanyakan jika mereka terlambat turun ke bawah.
"Pakai baju dan setelah itu kita turun!" ujar Firdaus, Melur hanya mengangguk lalu membuka lemarinya.
"Ck... untuk saja aku tidak kebobolan," batin Melur.
Melur memakai baju sedangkan Firdaus turun ke bawah dan menunggunya di meja makan, Hari ini mereka berdua akan kembali ke Jakarta dan Melur mulai masuk kuliah desainer seperti keinginannya.
Melur turun dengan berjalan sedikit pelan-pelan karena ************ miliknya masih sakit, umi yang melihat cara berjalan putrinya hanya tersenyum dan yakin jika putrinya sudah memberikan haknya pada Firdaus.
"Melur, kamu kenapa sayang? kok jalannya begitu, apa kaki mu sakit,"
Pertanyaan ibu membuat Melur membulatkan mata dan melihat ke arah firdaus yang kini sudah berada di meja makan.
"Ngak papa kok, Umi! Sepertinya kaki ku kram," kata Melur duduk di meja samping suaminya, sedangkan Firdaus mengulum senyum menoleh ke arah istrinya.
Mereka makan pagi bersama dan pagi ini mereka berangkat kembali ke Jakarta, Abah pun sudah sembuh dan sehat-sehat saja. Usai makan, Firdaus Kembali ke kamar untuk membereskan baju mereka.
Semua sudah di persiapkan, Apalagi mulai besok Melur sudah masuk kuliah. Sementara Firdaus harus mengurus resort miliknya.
__ADS_1
"Umi, Abi, pagi ini kami berdua mau kembali ke Jakarta," kata Firdaus membuat Abah berhenti mengunyah makanan.
Kok cepet banget kenapa?" tanya umi.
"Besok Melur sudah mulai masuk kuliah desainer Umi, jadi gak mungkin hari pertama kuliah aku gak masuk," ujar Melur memberikan jawaban pada Uminya.
"Ya sudah! Tapi ingat, sampai di sana kamu harus telepon Umi," kata Umi tersenyum, meski ia masih ingin bersama putrinya tapi ia sadar jika putrinya sudah menikah dan kini menjadi milik suaminya.
"Iya Umi! Aku pasti telepon jika sudah sampai kesana," kata Melur.
Sementara Firdaus hanya mengangguk tersenyum, ia terus melanjutkan sarapan paginya karena menuju Jakarta membutuhkan waktu yang panjang sehingga ia harus makan banyak agar kuat menyetir.
"Udah, nanti kamu juga ada temannya," kata Melur memencet hidung adiknya.
"Aduh, sakit tahu," kata Devia mengelus hidungnya yang sedikit memerah. Abah menggelengkan kepala melihat tingkah kedua putrinya.
"Sudah, Melur jangan gangguin adik mu," kata Abah menghentikan Melur.
Hehe, maaf Abah!" Kata Melur.
Sedangkan Firdaus hanya tersenyum melihat tingkah adik kakak ini.
__ADS_1
"Oh ya Bah! Kapan acara pernikahan Devia di adakan?" Tanya Firdaus, ia tidak ingin di anggap menantu kurang hajar karena tidak ikut andil dalam pernikahan adik iparnya.
"Bulan depan, Abah harap kalian pulang," kata Abah.
"Tentu Abah, mana mungkin aku tidak pulang," sahut Melur dengan cepat.
"Kalau aku menikah, mbak Melur dan mas Firdaus mau kasih kado apa?" Tanya Devia tanpa malu di depan Abang iparnya.
"Devia...," Ujar Umi tidak enak hati pada menantunya.
"Tidak apa-apa, Mi! Lagian aku sudah persiapkan kado pernikahan Devia dan calon suaminya," kata Firdaus mengukir senyum di bibirnya.
"Kado apa, Mas?" Tanya Devia penasaran.
"Surprise dong, nanti akan mas berikan saat hari pernikahan kamu," kata Firdaus.
"Yah, Mas Firdaus bikin penasaran saja," kata Devia kesal.
"Kalau mas kasih tahu sekarang, bukan kejutan lagi dong," kata Firdaus Kembali membuat Devia kesal.
Sementara Abah dan Umi hanya bisa tersenyum melihat Firdaus perhatian pada adik iparnya yang baru saja ia kenal.
__ADS_1