Sabda Cinta

Sabda Cinta
bab 39


__ADS_3

Farid keluar dari rumahnya lalu pergi ke kantor, meninggalkan mamanya. Niat balas dendam pada keluarga Pak Rahman semakin menggelora di hati Farid, sudah lama ia menantikan waktu seperti ini hanya untuk membalaskan dendam Mamanya.


Di dalam perjalanan, Farid menatap langit yang sangat mendung. Ia menghembuskan nafas dengan kasar, rencananya untuk menguasai Perusahaan keluarga pak Rahman sudah di rancang begitu mulus.


________________&&&&&&&&______________


"Pak, sebentar lagi kita akan mengadakan meeting dengan perusahaan Winata crop," ujar sekretaris yang sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan pak Rahman.


"Winata crop, perusahaan apa itu?" tanya Pak Rahman menatap sekretarisnya.


"Iya, Pak! Perusahaan Winata Crop yang bekerja di bidang property dan perhotelan, mereka mengajak kita untuk bekerja sama dengan mereka," kata karyawan itu lagi.


"Baiklah,kamu urus saja jadwalnya kapan dan setelah itu katakan pada saya, soalnya saya mau keluar sebentar," kata Pak Rahman bangun dari kursi kebesarannya lalu meninggalkan sekretaris tersebut dan turun ke lantai bawah menuju parkiran.


🌷


🌷


"Apa kamu masih tidak percaya pada Mas?"


Firdaus masih saja membujuk istrinya yang masih diam bahkan enggan untuk bersuara, ia menatap manik istrinya.


Melur hanya mengangguk mencoba untuk tersenyum.


"Lalu, kenapa kamu diam?" tanya Firdaus lagi.

__ADS_1


"Jadi, apa yang harus aku katakan Mas?" Melur balik bertanya pada ke suaminya tersebut, meskipun ia ragu tapi ia percaya jika suaminya adalah lelaki setia.


"Cckk.. tahu ah," ujar Firdaus kesal.


Drrrrt...


Ponsel Melur berbunyi, ia melihat nama Uminya tertera di sana. Sudah dua hari dia tidak berbicara dengan uminya.


"Assalamualaikum, Umi!"


Melur mengucapkan salam setengah mengangkat ponsel.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Salma.


"Baik Umi, bagaimana keadaan Umi dan Abah, sehat?" tanya Melur pada uminya.


"Apa kalian bisa pulang, Abah mu sakit Nduk!" ujar Umi terisak.


"Apa, Abah sakit! Kok bisa Abah sakit Umi?" tanya Melur khawatir.


"Tadi pagi Abah menonton berita tentang kamu dan seketika Abah langsung pingsan?" Kata Umi membuat Melur membekap mulutnya tak percaya jika tentang sudah di Ketahui Abahnya.


"Baiklah, Umi! Aku akan pulang hari ini juga?" Kata Melur menatap Firdaus yang masih bingung.


"Ya sudah, umi tutup dulu teleponnya?" ujar Umi di seberang sana.

__ADS_1


Melur Kemabli menangis lalu berjalan ke arah Firdaus yang sedang menonton TV.


"Mas, Abah sakit! Apa kita bisa pulang?" tanya Melir sontak membuat Firdaus sakit.


"Abah, Sakit! Kenapa?" Tanya Firdaus.


"Abah sudah tahu tentang video itu?" Kata Melur Kemabli menangis.


"Sudah, jangan nangis! Kita pulang sekarang. Ayo, kita siap-siap!" udara Firdaus mengajak Melur ke kamar untuk menggantikan pakaian.


Jam sudah menuju pukul jam 4 sore, untuk sampai ke kampung butuh waktu 1 jam ke sana belum lagi rumah umi masuk ke pelosok membuat mereka harus cepat-cepat berberes.


________________&&&&&&&__________________


Matahari mulai kembali ke peraduannya, mereka baru sampai di Jawa tengah tempat kelahiran Melur. Mereka mampir di mesjid untuk menunaikan ibadah shalat magrib karena waktu shalat sudah tiba.


Mereka berdua turun lalu berjalan ke mesjid, Melur berjalan ke tempat mengambil wudhu. Setelah melaksanakan shalat magrib bersama, Melur berdoa agar kesehatan Abahnya kembali membaik sepertinya biasanya.


"Kita cari makan dulu karena untuk sampai ke rumah kita butuh waktu hampir satu jam lagi?" ujar Firdaus pada istrinya setalah keluar dari mesjid.


"Aku terserah sama Mas saja tapi aku mau pengen makan bakso," ujar Melur tersenyum.


"Boleh, Ayo naik! kita cari tempat makan dulu?" ujar Firdaus kembali dan Melur hanya mengangguk.


Mereka turun setelah mencari warung makan pecel lele, rasa lapar mulai mendera saat mencium bau harum masakan di warung tersebut.

__ADS_1


Melur mencari tempat duduk sedangkan Firdaus memesan makanan untuk mereka santap sebagai makan malam lalu kembali berjalan ke arah istrinya yang sudah duduk meja di pojok.


"Firdaus....!"


__ADS_2