Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 45


__ADS_3

"Jangan lama-lama, Mas?" ujar Melur manja, Firdaus hanya mengangguk lalu turun ke bawah.


Padahal hari ini, ia harus kembali ke Jakarta karena ada beberapa proyek yang harus id tangani tapi ia tidak bisa meninggalkan Melur sendiri dalam keadaan sakit, terpaksa ia harus menghubungi orang kepercayaannya untuk menghandle semua pekerjaannya.


Firdaus Kembali ke kamarnya dan kaget melihat Melur tidak ada di atas tempat.


"Sayang, Melur kamu dimana?" Gumam Firdaus mencarinya ke balkon juga tidak ada lalu ia kembali mencarinya ke kamar mandi juga tidak orang di sana lalu kemana perginya Melur.


Ceklek..... Pintu terbuka, Firdaus membalikkan badan dan melihat Melur yang ada di belakangnya.


"Dari mana, Sayang?" tanya Firdaus.


"Dari kamar Adelia, Mas! Tadi ia memanggil aku buat ke sana?" Kata Melur menunduk tidak mau ia menantang mata Suaminya karena ia takut jika ia sedang berbohong.


Namun, Firdaus tidak percaya pasti ada yang di sembunyikan olehnya pada suaminya itu.

__ADS_1


Drrrrt.....


Ponsel yang ada di tangan Melur kembali bergetar, Melur melebarkan matanya menyembunyikan ponsel di belakangnya.


"Siapa yang menelepon, berikan ponselnya pada Mas?" Pinta Firdaus mencoba meraih di belakang tangannya tapi Melur mencoba menghalanginya.


"Bukan siapa-siapa, Mas? Kalau begitu aku angkat dulu ya," kata Melur mencoba menghindari tatapan mata Firdaus yang sangat tajam,


"Berikan pada Mas, Melur?" ujar Firdaus menarik paksa mengambil ponsel yang masih saja berdering lalu menekan tombol hijau dan mengeraskan suara.


Setelah mendengar suara tersebut, Firdaus sangat murka. Urat leher menegang menahan amarah, ia menggepalkan tangannya ternyata istrinya masih berhubungan dengan Arkhan.


Prang.... Firdaus melempar ponsel ke atas lantai lalu pergi meninggalkan Melur yang kini sedang berdiri di depannya.


"Apa aku kurang baik untuk mu sehingga kamu masih berhubungan dengannya,.oh aku tahu mungkin karena dia kamu tidak pernah mau aku sentuh,"

__ADS_1


Amarah Firdaus tak di bendung lagi, perkataan Firdaus tidak ada salahnya. Memang dulu ia masih mengharapkan Arkhan kembali tapi rasa itu mulai terkikis di hatinya.


"Bukan seperti itu, Mas. Aku bisa je---,"


"Tidak perlu, aku tahu hati kamu memang bukan untukku," kata Firdaus.


Blam....


Pintu di banting menyebabkan bunyi dengan sangat keras membuat ia kaget, pasalnya ia memang di hubungi Arkhan karena Arkhan mengatakan jika ia di pecat dari kerjaannya karena Firdaus maka dari itu ia ingin bertanya pada Firdaus tapi salah paham.


Air mata Melur jatuh bersama hilangnya Firdaus di balik pintu kamarnya, Kini Firdaus melajukan mobil sangat kencang. Hatinya sangat sakit saat tahu jika istrinya masih berhubungan dengan Arkhan padahal ia sudah berusaha membahagiakan istrinya.


Sepanjang perjalanan, ia terus memukuk setir. Rasa sakit hatinya membuat emosi tidak mereda, karena terlalu emosi dan marah, Firdaus tidak melihat jika ada mobil memotong jalan sehingga ia membanting setir ke kiri.


Braakk......

__ADS_1


Mobil Firdaus menabrak pohon yang ada di pinggir jalan, keningnya berdarah mungkin terhamtam setir. Orang yang berada di dekat itu berlari untuk menolong Firdaus dan membawanya ke rumah sakit, ia tidak kenapa-kenapa hanya kepalanya berdarah dan mobilnya yang rusak.


__ADS_2