
Kamu bukan anak kandung Mama....
Kamu bukan anak kandung Mama....
Maaf kita nggak bisa berhubungan....
Biarin gue pergi dari hidup lo....
Sosok Mama Sekar terlihat jelas mendatangi Mika. Rautnya menunjukkan kemarahan yang tidak berkesudahan. Seketika Mama Sekar menjatuhkan tubuh Mika ke dasar jurang. Mika terpental dan masuk ke mulut jurang. Ia melayang-layang, tubuhnya berputar membuat kepalanya pusing. Seketika muncul sosok siluet di sampingnya.
Gue sayang banget sama dia, Ka. Maaf....
Bisikan sosok siluet itu terdengar jelas di telinga Mika. Perlahan sosok itu menghilang dari pandangnya. Mika semakin pusing. Saat ia hampir sampai ke dasar jurang sosok Mamanya datang lagi.
Kamu bukan anak Mama!
"MAMA!!!" pekik Mika yang sudah terbangun.
Tubuhnya kaku seakan terkunci, tidak dapat bergerak sedikit pun. Jantungnya masih berdetak sangat cepat. Mika berusaha mengatur napasnya yang terputus-putus.
"Mama...." lirihnya tanpa terasa pipinya telah basah.
Matanya terpejam rapat. Mimpi yang baru dialaminya membuatnya teringat akan perdebatannya dengan Mama Sekar beberapa hari yang lalu. Mika bangkit dari tempat tidurnya. Ia menyeret langkahnya dengan lunglai ke jendela kamarnya. Dibukanya jendela kamar seketika belaian angin menerpa wajahnya. Senyap ... Hampa ... Mika duduk termangu di dekat jendelanya. Ia tidak acuh tanpa permisi.
__ADS_1
"Kenapa semua orang yang gue sayangi ninggalin gue?"
Isak tangis mulai terdengar, meretakkan keheningan malam itu. Mika memeluk lututnya dengan loyo. Pandangannya menyapu angkasa yang masih setia menyinari. Gemintang yang bertaburan seakan-akan memberi semangat untuk Mika, menyinari hatinya yang muram. Selagi purnacandra juga masih bersinar meskipun separuhnya ditutupi mendung.
"Papa lagi apa di sana?" Mika menatap langit terus-menerus, seakan Papanya sedang memperhatikan dari sana.
"Apa bener, Pa. Aku bukan anak kandung Papa sama Mama?"
Mika melaung kuat-kuat. Gerimis sendunya memecahkan kesunyian. Kali ini ia benar-benar sendirian lebih sendiri dari yang pernah dialaminya. Tidak ada lagi Mbok Inah atau Naisha yang menemani. Sedangkan Mama Sekar semakin lama membencinya. Mika pun sadar penyebab kebencian Mama Sekar padanya.
"Gue berharap banget sama lo ... kenapa? Kenapa lo lebih milih berhubungan sama dia!!!"
Ditumpahkannya segala rasa kecewanya hingga bulir air mata itu meluncur deras membasahi pipinya lagi. Rasa kehilangan yang masih mendekap erat membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
Jiwa ini telah mati
Detak waktu pun berlalu
menyisakan perih masih terasa
Dua hati dan dua jiwa tak lagi bicara
Kini yang tertinggal hanya rasa sakit dan duka
__ADS_1
***
Tidak adanya dosen adalah hal yang diharapkan kebanyakan mahasiswa, termasuk juga Alhan dan Naisha. Mereka kini tengah mengobrol ngalor ngidul karena dosen yang akan memberi materi tidak masuk. Suasana kelas agak sepi hanya beberapa anak cewek yang sedang bergosip dan dua anak cowok yang sedang berdiskusi entah apa.
"Aku SMS Mika kok nggak dibales, ya?" Naisha terlihat memainkan ponselnya.
"Jangankan kamu, aku aja dari tadi nelefonin nggak ada respon. Ke mana ya itu anak?" Alhan tengah berpikir.
"Aku jadi khawatir. Kamu bisa ke rumahnya nggak liat kondisi dia gimana, soalnya aku kemarin ketemu dia buat ngasih undangan pernikahan kita, tapi keliatannya dia marah sama aku. Tolong ke sana, ya?"
Alhan yang sedari tadi tengah bermain ponsel pun akhirnya mengangguk. Tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya karena Alhan buru-buru pergi ke rumah sahabatnya itu. Entah kenapa perasaan Naisha tidak enak tentang keadaan Mika, namun ia mencoba berpikir positif.
***
Alhan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidurnya. Rasa penatnya masih melekat karena baru saja ia menghabiskan setengah harinya untuk mempersiapkan pernikahannya. Matanya mulai berat dipaksanya untuk tetap terbangun. Ia masih penasaran dengan benda yang ditemukannya kemarin saat berkunjung ke rumah Mika.
Alhan dengan segera bangkit dan meraih ranselnya. Ia mencari-cari sesuatu di dalamnya yang tidak lain adalah benda berbentuk persegi. Ya, sebuah buku diary berwarna biru tua milik sahabatnya itu. Ia menemukannya saat menunggu Mika di ruang tamu. Buku itu tergeletak manis tepat di bawah bangku tempat dirinya duduk. Alhan yang sebelumnya pernah melihat buku itu dengan cepat menyambarnya sebelum sang penghuni rumah melihatnya.
Kini buku itu sudah ada di genggaman Alhan. Permulaannya ia bimbang untuk mengambil dan membawa pulang, tapi rasa penasaran yang besar mengalahkan kebimbangan itu. Tangannya membuka lembar demi lembar buku itu dengan hati-hati. Hati Alhan bedetak bagai ia sudah melakukan dosa besar. Ya, memang Alhan melakukannya karena sudah membaca tulisan yang seharusnya tidak ia kerjakan.
Oh lo lagi jatuh cinta, Ka....
Alhan terkikik ketika membaca kalimat demi kalimat yang sahabatnya tuliskan untuk mengekspresikan isi hatinya. Ketika ia bahagia, cemburu ataupun jengkel. Lembar-lembar itu pun telah dibukanya hingga tersisa satu lembar terakhir. Dan tidak hanya itu saja ia menemukan sebuah foto bertiga : Alhan, Naisha & Mika.
__ADS_1
Eh, kok dari semua tulisan Mika cenderung ke gue sama Naisha, ya? Masa sih dia suka sama gue? Terus kenapa juga ada foto ini di buku diary Mika? Apa maksud dari semua ini?