
Selesai Mandi, ia keluar dari sana dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Melur yang tidak tahan lagi menahan rasa sesak di dada langsung memeluk suaminya, Firdaus yang melihat itu semua hanya diam lebih tepatnya ia merasa syok karena Melur memeluknya dalam keadaan bertelanjang dada.
"Lepaskan, Melur! Aku tidak bisa bernapas jika kamu peluk terus,"
Firdaus mencoba melepaskan pelukan melur di tubuhnya pasalnya tangannya sangat perih karena luka lecet saat kecelakaan tadi sore.
"Aku tidak mau mas! aku nggak mau melepaskan pelukan ini sebelum kamu memaafkan kesalahanku".
"Kamu tidak salah! aku yang salah karena telah mencintaimu. Aku tahu bahwa aku memang tidak pernah ada di hatimu,"
firdaus mencoba melepaskan pelukan melur di tubuhnya, tangan Melur mulai mengendur di tubuh Firdaus sehingga ia bisa bernafas lega karena si joninya mulai memberontak, ia berjalan ke lemari untuk memakai baju dan setelah itu mengambil obat P3K untuk mengobati luka lecet di siku tangannya.
"Biar aku obati, Mas?" Ujar Melur seakan meminta Firdaus untuk tidak menikah permintaannya, Firdaus hanya diam lalu Melur mulai mengobati luka lecet di siku Firdaus yang sedikit perih.
Air matanya kembali deras saat ia membayangkan jika dialah penyebab suaminya kecelakaan meskipun ia tahu Firdaus tidak akan pernah mengatakannya.
Firdaus menampung air mata istrinya yang jatuh dengan tangannya sebelah kanan, melihat semua itu membuat Melur kembali terisa
"Aku mohon jangan menangis lagi, cukup hapuslah air matamu! Mas minta maaf karena sudah bersikap kasar kepadamu,"
Firdaus menatap istrinya dengan lekat, pandangan mereka saling beradu seakan ingin mengatakan bahwa saling merindukan
"Sekarang cuci lah wajahmu tanpa setelah itu kita atur untuk makan malam kamu pasti lapar," pinta Firdaus.
__ADS_1
Melur mengerutkan keningnya lalu menatap suaminya heran. kenapa suaminya tahu jika dia belum makan sama sekali padahal ia tidak pernah mengatakan sebelum.
"Kok mas tahu kalau aku belum makan! padahal aku tidak bilang loh!"
"Mas tahu karena perutmu itu pasti kamu belum makan dari tadi siang dan sekarang kamu pergi dengan kamar mandi, mas juga lapar, mas tunggu kamu di luar ya?"
Melur mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya karena matanya bengkak akibat karena terlalu lama menangis.
Tak lama kemudian melur keluar dari kamar mandi dan berjalan keluar menuruni tangga satu persatu terlihat firdaus sedang menata makanan di atas meja makan sementara Umi sudah tidur hanya mereka berdua yang masih belum tidur.
"Ayo, kita makan! mas sudah lapar banget ini."
"Baiklah! biar Melur yang siapin makanan untuk mas, Mas duduk saja biar Melur mengambil piring dan nasi untuk Mas," ujar Melur.
Di sela-sela makan tidak ada pembicaraan di antara mereka, keduanya larut dalam menikmati makanan lezat dan hidangan di atas meja begitu juga dengan Melur dari tadi memikirkan bagaimana cara berbicara dengan suaminya agar tidak ada lagi keributan ataupun kesalahpahaman di antara mereka berdua. Melur tahu jika dia sudah terlalu banyak menyakiti suaminya hanya untuk menolong seseorang yang telah menyakiti dirinya.
Sedangkan Melur menggantikan bajunya dengan lingerie, malam ini ia harus melakukan kewajibannya sebagai istri. Melur membayangkan bagaimana perkasanya Firdaus jika menggagahinya nanti pasti akan membuat keduanya melayang tinggi.
Senyum malu-malu terbit dari bibir Melur lalu ia berjalan ke kamar mandi untuk menggantikan pakaiannya.
"Mas, kok masih berdiri di luar?" tanya Melur membuat Firdaus kaget di peluk oleh Melur, gundukan itu terasa di punggung Firdaus membuat si Joni yang sedang tidur terbangun.
Merasakan itu semua membuat Firdaus mematikan rokok yang belum habis, ia membalikkan badan dan terkejut membulatkan mata melihat istrinya dengan pakaian seksi.
__ADS_1
Firdaus menelan ludah dengan susah payah, melihat belahan dada yang sangat putih dan kenyal membuat ia tidak tahan jika terus menatap Saida.
"Mas, kok kamu diam?" tanya Melur menggoyangkan bahu suaminya.
"Gak sayang, Mas hanya--,"
Cup....
Melur mencium bibir suaminya sekilas lalu berlari ke kamar karena malu, sedangkan Firdaus masih bengong melihat istrinya yang begitu cantik dan rambut tergerai panjang. Hawa panas mulai mengalir di tubuh Firdaus di saat ia melihat tekuk Melur yang putih dan membuat ia ingin lebih memandangnya.
Firdaus menutup kaca pembatas balkon dan kamar, ia melihat Melur membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah membangun macan yang sedang tidur.
Cup...cup...
Kecu pan demi kecu pan mendarat di leher istrinya membuat ia geli sedangkan Firdaus terus mendaratkan bibirnya, si Joni yang ada di bawa sana mulai menunjukkan kekuatannya. Melur menatap suaminya dengan penuh gairah, ia ingin memberikan yang terbaik untuk Firdaus.
Ia mengecup kening suaminya.
"Kenapa kamu seperti ini?" tanya Firdaus.
"Kenapa, apa aku tidak boleh atau mas tidak suka?" Tanya Melur menatap suaminya.
"Bukan itu, aku sudah lama mendambakan hal ini. Apa kau ikhlas," tanya Firdaus tangannya mulai men jelajahi kemana saja.
__ADS_1
"Aku ikhlas karena kamu adalah suamiku, lakukan kewajiban mu atas diriku." Ujar Melur.
Mendapatkan angin segar membuat Firdaus bagaikan memenangkan lotre, tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka larut dalam hasrat yang menggebu, keduanya mulai memercikkan api cinta di bawah redupnya lampu malam.