
Arkhan mematikan puntung rokok yang hampir habis, ia kaget mendengar ucapan Leo. Dia tidak tahu jika suami Melur berperan penting dalam hidupnya, apalagi dia sudah lama bekerja dengan stasiun televisi tersebut dan kini kontrak di batalkan saja, ia pun selama ini tidak tahu pemilik stasiun televisi yang sebenarnya, hanya kaki tangan dari mereka sedangkan sang CEO ia tidak pernah tahu.
Selama ini, Firdaus hidup sederhana dan memilih tinggal di apartemen karena ia tidak ingin orang lain tahu tentang dirinya. pewaris harta pak Rahman yang tidak akan habis sampai tujuh ke turunan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" ujar Arkhan frustasi.
"Entahlah, aku rasa kamu harus membersihkan nama Melur agar tidak terbawa-bawa oleh media mungkin semua itu bisa menyelamatkan kamu dari kehancuran," ujar Leo kembali, ia tidak menyangka jika temannya agar mendapatkan masalah seperti ini.
Apalagi dia baru saja tahu kalau Firdaus berkecimpung dalam dunia entertainment tapi ia selalu menyembunyikan identitas asli, ia mempercayakan keluarganya sekaligus temannya untuk mengurus bisnisnya.
"Kamu tahu siapa, Pak Afandi?" tanya Leo.
"Siapa?"
"Beliau adalah kaki tangan juga keluarga terdekat Firdaus, aku rasa kamu sudah salah memakan mangsa," kekeh Leo melihat raut wajah Arkhan yang semakin menegang, wajahnya terlihat pucat pasi mendengar perkataan Leo.
"Apa, kau tahu dari mana?" tanya Arkhan kembali tak percaya dengan perkataan Leo.
"Sudah, kamu tidak perlu tahu dari mana? Intinya Loe harus memperbaiki nama baik istrinya, mungkin saja dengan begitu akan ada orang yang mengajak kamu untuk bekerja sama," kata Leo memberi pendapat.
Pembatalan kerja kontrak dengan salah satu stasiun televisi membuat Arkhan kehilangan emas yang berharga pasalnya hanya dengan begitu ia bisa menjadi aktor terkenal meskipun di luar sana ia masih menjalankan bisnis tapi ia tidak ingin di cemo'oh oleh penggemarnya.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kita adakan konferensi pers dan ajak wartawan juga untuk meluruskan semua ini?" Perintah Arkhan pada managernya, Leo hanya mengangguk lalu meninggalkan kediaman Arkhan.
Naya yang baru saja pulang dari kantor melihat Arkhan sekilas lalu kembali berjalan menaiki tangga satu persatu, hari ini dia pulang saat siang hari karena tugasnya sudah selesai.
Setelah mengganti baju, ia turun kembali untuk menyiapkan makanan untuk Arkhan sementara orang yang sedang dipikirkan kini sedang stres dan kacau dengan masalah yang dia hadapinya.
Ia tidak menyangka jika suami Melur bukanlah orang sembarangan karena selama ini dia hanya melihat orang dari penampilannya tanpa mencari seluk beluk orang tersebut.
Ia mempunyai ide untuk menghubungi Melur dan meminta tolong padanya, ia pun mengambil ponsel mencoba menghubungi Melur tapi tidak tersambung membuat Arkhan semakin murka.
Arrggghhh.....
Arkhan melempar gawainya, ia merasa kesal. Naya yang baru saja turun dari tangga menghampiri suaminya yang kini berada di ruang keluarga.
Naya mencerca suaminya dengan pertanyaan yang membuat kepala Arkhan pecah, bukannya menjawab Arkhan malah pergi meninggalkan Naya yang sedang berdiri di depannya.
"Kamu tidak perlu tahu, lagian jika pun kamu tahu! Apa kamu bisa membantu, sebaiknya kamu masak yang enak," Arkhan kembali melanjutkan berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Naya mengelus dada melihat sikap Arkhan kepadanya, kadang ia baik kadang juga ia bisa bersikap kasar. Rumah tangga yang dia impikan selama ini tak sesuai dengan harapan, tapi dia tidak mungkin meninggalkan Arkhan karena akan membuat murka Mamanya.
Selama ini, setiap bulan Arkhan selalu mengirim uang pada mertuanya yang gila akan harta asalkan Naya tidak bercerai dengannya, Apalagi Naya wanita sangat cantik mungkin saja ia bisa di jadikan Artis dengan bantuan Leo.
__ADS_1
🌷
🌷
Bulan dan Bintang mulai bersinar, menyinari gelapnya malam. Melur menyandarkan tubuhnya, ia merasa baikan. Firdaus masuk ke kamar dengan membawa makanan di atas nampan.
"Makan dulu setelah itu baru minum obat," Firdaus berkata dengan lembut, hanya anggukan yang berikan oleh Melur.
Firdaus mulai menyuapi Melur dengan wajah tampak pucat, Melur menerimanya dengan senang hati. Ia menatap suaminya dengan perasaan malu-malu, Tak terasa nasi yang berada di atas piring habis karena terus menatap wajah suaminya.
"Ayo, sekarang minum?" ujar Firdaus memberikan segelas air pada Melur.
"Minum Air," tanya Melur.
"iya, minum air kan nasinya sudah habis?" ujar Firdaus tersenyum.
"Berarti aku makan banyak dong, Mas?"
"Memang gak sadar makan banyak, udah habis kok! sudah, kamu istirahat saja, mas bawa turun ini dulu," ujar Firdaus mengambil piring yang sudah kosong.
"Jangan lama-lama, Mas?" ujar Melur manja, Firdaus hanya mengangguk lalu turun ke bawah.
__ADS_1
Padahal hari ini, ia harus kembali ke Jakarta karena ada beberapa proyek yang harus id tangani tapi ia tidak bisa meninggalkan Melur sendiri dalam keadaan sakit, terpaksa ia harus menghubungi orang kepercayaannya untuk menghandle semua pekerjaannya.