Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 3 - Malam Sunyi


__ADS_3

Kala malam menyelimuti petang. Suasana hening kembali menerpa rumah mewah Mika berlantai tiga itu. Penghuni di dalamnya tidaklah banyak, hanya Mika, Sekar - Mamanya, Mbok Inah - pembantunya, dan Mang Yadi - sopir pribadi sekaligus tukang kebun. Sedangkan Papanya sudah menghadap sang Ilahi karena stroke yang dideritanya tiga tahun lalu.


Mika terus menuliskan kisah yang tak pernah ada di hidupnya. Tanpa di sadari Mika meneteskan air mata karena mengingat suatu hal di diary-nya. Pada akhirnya dia harus merasakan kehilangan kembali. Rasa hampa menyinggahi kalbunya.


“Non, ayo makan,” teriak Mbok Inah yang sudah merawatnya sejak kecil menghampiri Mika tenggelam saat mencatat diary.


Sebuah lengkungan setengah lingkar menghiasi wajah oval Mika. Beralih di meja makan, dentingan sendok dan garpu berantuk dengan piring keramik dua jiwa yang tengah menyantap hidangan malamnya. Ya, Sekar dan Mika. Dua individu yang ikatannya tidak berpaut. Mamanya selalu saja sibuk mengurus pekerjaan dan tidak mengacuhkan kehadiran Mika di rumah. Bahkan semenjak kematian Papanya, Mika ibarat hidup sebatang kara.


Mika mencoba memecahkan kesunyian. "Mama...."


Sekar melenggak ke arah Mika. Kunyahan di mulutnya mulai melambat, seakan-akan menyudikan putrinya bercakap. Sedangkan Mika terlihat resah, lantaran ia tidak tahu harus bercakap seperti apa.


"Emm ... Mama ... Ah itu, nggak kemana-mana, 'kan?" tanya Mika berusaha merangkai perkataan yang tepat untuk Mamanya. Namun, sinar netra Sekar membuat nyali Mika menyusut untuk mengambil hati melewati percakapan.


"Mendingan nggak usah ngomong kalo nggak penting!" sahut Sekar ketus yang meninggalkan meja makan.


Mika hanya bisa mengap memperhatikan perilaku Mamanya. Sebenarnya, perilaku Mamanya yang demikian sudah menjadi makanan harian selama ini baginya. Sekar acap dingin saat bertemu Mika. Ataukah mungkin pada semua orang seperti itu? Entahlah. Mika pun tidak tahu kepribadian Mamanya secara terperinci. Buatnya, Sekar ibarat hidup tanpa jiwa. Ada tapi semu.


Selama ini juga, Mika selalu berusaha mengambil hati dengan cara apa pun, hingga ia pernah nekat jatuh dari tangga dengan sengaja untuk meraih perhatian Mamanya. Namun, Sekar sama sekali tidak acuh dengan kondisinya. Mamanya justru melanjutkan keberangkatannya ke luar kota, mungkin saja harus bertemu klien pentingnya.


Mika masih termenung di kursi meja makan. Ia tidak melanjutkan makannya yang hampir habis. Pikirannya melayang saat kenangan pahit bersama Sekar.


"Non ... Kok makanannya nggak dihabisin?" suara Mbok Inah mengenyahkan lamunan Mika.

__ADS_1


"Eh Mbok, udah nggak nafsu makan," Tanpa diperintah cairan bening meluncur di pipi mulus Mika.


Mbok Inah spontan mendekap Mika. "Yang tabah ya, Non. Mbok selalu ada untuk Non."


Bagaimanapun perilaku Mama, aku tetap mencintaimu seperti dulu, Ma. Sangat mencintai Mama ... Sama seperti cintaku ke Papa.


Tidak terasa sudah tiga tahun Papanya pergi. Kedamaian dan kehangatan ditinggalkan begitu saja di rumah ini. Papanya selalu membela saat Mika dimarahi Sekar, menemani saat Mika kesepian, dan tidak pernah sekalipun mencueki Mika seperti yang dilakukan Mamanya.


"Mika izin nginap di rumah Naisha boleh?"


Mbok Inah mengangguk dan dengan sayangnya mengelus pucak kepala Mika. Sang empunya membalas pelukan dengan erat untuk menumpahkan tangisnya. Tidak disangka Nyonya di rumah itu menangkap pemandangan itu.


Kuterdiam terpaku bersama malam


Termenung sendiri menanti dini hari


Larut dalam kenangan bersama kalut di kepala


Tenang dan dalam didalam rasa


Rembulan melayang tinggi separuh muka


Sunyi bersama sang bintang yang begitu cemerlang

__ADS_1


Rindu dalam rasa, rapuhkan jiwa tanpa makna


Terbang menerawang jauh bersama sang awan


Bayangan kelam mengikuti bersama sang malam


Hanya malam yang setia menemani hati yang tersakiti


Hanya malam yang berikan ketenangan dalam kegalauan


Bersabar atas takdir bersama rindu alam semesta


Malam hari merenung atas diri sendiri


Melihat yang belum pasti, menjadikan sebuah imaji


Ditemani angin dingin membara menerpa jiwa


Nikmat malam penuh kesunyian


Bersama sang bintang terangi alam pikiran


__ADS_1


__ADS_2