Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 29


__ADS_3

Mereka menyantap santapan mereka dengan nikmat, Meera yang bar-bar membuat suasana menjadi riang, menceritakan tentang mereka sehingga membuat Zaki dan Firdaus tertawa lepas.


"Hahahaha,"


Zaki dan Firdaus tertawa lepas membuat Melur dan Anisa memicingkan mata satu sama lain, sementara Meera yang suka bar-bar tertawa ngakak.


"Apa ceritanya lucu?" tanya Melur dengan kesal membuat Firdaus berhenti tertawa begitu juga dengan Zaki.


"Maaf sayang, sudah kalian mau kemana?" Tanya Firdaus dengan serius.


"Melur sama teman-teman ke pantai boleh," tanya Melur.


"Boleh tapi mainnya jangan terlalu jauh," kata Firdaus memperingati istrinya bagaikan anak kecil.


"Oke, suamiku," kata Melur.


Mereka berjalan ke arah pantai, Firdaus memantaunya dari jauh. Ia memberikan kebebasan pada istrinya saat bersama teman-temannya, sedangkan Zaki hanya diam menatap punggung Anisa.


"Jika menyukai dia, kejarlah dia," kata Firdaus membalikkan badan untuk kembali ke dalam.


"Loe mau kemana?" tanya Zaki.


"Gue ada pekerjaan sebentar, loe main saja sama mereka. Gak lama kok hanya sepuluh menit," kata Firdaus melirik jam di tangannya.


"Oke, baiklah,"Kata Zaki.


Melur dan teman-temannya bermain di tepi pantai menggunakan pasir, berkejar-kejaran layaknya bagaikan anak kecil. Mereka tertawa lepas seakan tidak ada beban yang selama ini mereka pikul, Zaki yang melihat mereka tersenyum.

__ADS_1


Apalagi pandangannya selalu ingin menatap Anisa, dia tidak tahu kenapa dia seperti itu tapi ia tahu kalau ini bukankah rasa seperti biasanya.


"Sudah lama kita gak seperti ini?" Kata Meera duduk di atas pasir di bawah pohon besar.


"Hooh, loe beruntung memiliki suami sebaik suami loe," kata Anisa.


"Memangnya kenapa?" tanya Melur.


"Lihatlah, dia begitu baik memberikan loe kebebasan meski dia tahu, kamu adalah istrinya tapi ia tidak pernah mengekang kamu," kata Anisa berkata bijak pada sahabatnya.


Dia hanya diam, ia membenarkan apa yang di katakan sahabatnya. Selama ini, Mas Firdaus memang tidak pernah melarangnya.


Zaki berdiri tidak jauh dari Melur dan teman-temannya, ia memberi kode pada Melur untuk membiarkan Anisa sendirian agar dia bisa mengenal lebih jauh lagi.


Melur dan Meera bangun pelan-pelan tanpa sepengetahuan Anisa yang sedang menatap air laut yang sangat bersih, banyak orang yang weekend ke tepi pantai. Sementara Zaki berjalan dsn berdiri di belakang Anisa.


Anisa menoleh ke asal suara dan melihat Zaki ada di belakangnya sementara Melur dan Meera sudah berlari melambaikan tangan padanya.


Kelakuan mereka membuat Anisa kesal, ingin beranjak tapi dia tidak enak hati dengan Zaki yang berada di sampingnya.


"Boleh, silahkan?" tanya Anisa dengan degup jantung tak karuan.


Zaki duduk di samping Anisa, ia hanya diam lidahnya terasa Kelu. Dia bingung harus menanyakan apa? Ia berasa tidak punya keberanian untuk berbicara.


Melur dan Meera berlari cukup jauh dari tempat Anisa agar mereka tidak mengganggu waktu Zaki dan Anisa untuk mengenal satu sama lain.


"Pasti gue kena imbasnya nanti sama Anisa," kata Meera berhenti berlari, mereka duduk beristirahat di pesisir pantai, hembusan angin membuat ingin tidur karena matahari tak terlalu panas.

__ADS_1


"Gak apa-apalah, kita kan mau comblangin Anisa dan dokter Zaki biar cepat nikah dan setelah itu baru elo," kata Melur menoleh ke arah sahabatnya.


"Gue, gak ah! Gue belum mikirin buat nikah," kata Meera menolak ajakkan Melur.


"Karena belum menemukan lelaki yang tepat untuk Loe, makanya loe bilang begitu," kata Melur tertawa.


Namun dari jauh, seseorang lelaki berperawakan tinggi dengan kacamata hitam dan jaket hitam tersenyum melihat Melur berada di pantai, ia memang sudah sangat rindu bertemu dengannya. Apalagi mereka sangat jauh dari orang-orang, ia berjalan ke arah Melur dengan memakai kecamata hitam.


"Aduh, kayaknya gue kebelet pipis ini. Loe tunggu disini sebentar, gue gak lama kok," kata Meera berlari ke resort untuk mencari kamar mandi umum karena ia kebelet pipis, Melur hanya mengangguk menikmati suasana pantai yang sangat indah.


"Di Jakarta tinggal dimana?" tanya Zaki basi basi.


"Aku ngekos di Jakarta, aku kesini untuk bekerja tapi ya, namanya belum rejeki mungkin belum ke terima ya," kata Anisa tersenyum memainkan pasir putih yang berada di sampingnya.


"Memang dulu kuliah di jurusan apa?" tanya Anisa.


"S1 keperawatan," kata Anisa.


Dulu Anisa kuliah S1 keperawatan di kota Bandung, ia sengaja ke Jakarta untuk bekerja mana tahu ijazahnya bisa di pakai sampai di Jakarta. Karena di Bandung banyak perempuan mengangguk setelah selesai kuliah.


"Besok bawakan saja kertas lamarannya ke saya biar saya bisa ajukan kamu kerumah sakit Budi sentosa," kata Zaki agar lebih dengan Anisa.


"Baik, Mas!" Kata Anisa.


Lelaki tersebut semakin dekat dengan Melur, lebih tepatnya berada di belakangnya.


"Melur....!" Seseorang menyebut namanya, merasa namanya dipanggil ia pun menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Arkhan....!"


__ADS_2