Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 6 - Kerikil


__ADS_3

Pagi sekali Naisha sudah memasang wajah masam. Dosen yang sekarang tengah khusyuk menjelaskan mata kuliah pagi ini dengan begitu bersemangat. Berbeda dengan para mahasiswanya yang setengah sadar, termasuk Naisha yang ngantuk berat. Sepanjang waktu dosen hanya mengoceh tanpa henti membuat mata yang segar menjadi layu.


Naisha hanya mencoret-coret binder-nya untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Sayang sekali, kejenuhannya semakin bertambah. Suara dosen semakin melengking dan membuat suasana makin melelapkan. Alhasil, Naisha berinisiatif untuk minta izin ke toilet.


Awalnya memang tidak diizinkan, namun karena Naisha berusaha meyakinkan dosennya, ia mendapatkan izin. Ia menghela napas setelah keluar dari kelasnya. Naisha berjalan sampai akhirnya langkah kakinya membawa dirinya berada di depan perpustakaan.


Namun, sebelum ia melangkahkan kaki masuk ke perpustakaan matanya menangkap perawakan Mika turun dari mobilnya. Wajahnya merengut. Naisha seperti melihat potret dirinya tadi saat sedang mata kuliah berlangsung. Akan tetapi ini lebih akut, ia mendeteksi jika sahabatnya itu tertimpa masalah. Tetapi apa?


***


"Ini, Nai. Hp lo," ujar Mika seraya menyerahkan ponsel milik sahabatnya itu.


Kebetulan Mika dan Naisha tidak ada mata kuliah siang ini. Hanya saja, Naisha sengaja menunggu sahabatnya untuk meminta Mika untuk menceritakan keresahannya.


Naisha mengerjapkan mata tidak percaya. "Wah, ketemu di mana ini, Ka."


"Dasar pikun. Itu ketinggalan di dasboard-nya Alhan kemarin. Tadi sebelum berangkat ngampus gue ambil," terangnya seraya memangku ransel yang terlihat berat.


"Oh ya, sekarang anaknya mana? Tadi gue liat di kelas nggak ada."


"Ngapain lo cari-cari dia, hah?" Mika mendengus kesal.


"Kok sewot? Lo kenapa sih, Ka? Gue liat lo beda dari hari biasanya."


"Ya, emang! Liat nih sekarang gue bawa ransel, bukan sling bag lagi," ujar Mika memasang wajah datar.


Naisha menyikut tangan sahabatnya itu. "Ih bukan itu, Ka. Lo itu kenapa? Apa ada masalah lagi di rumah lo?"

__ADS_1


"Gue berencana kabur!"


"What? Mau kabur ke mana?"


"Entahlah ke bulan mungkin!"


Naisha masih mematung. Gurauan Mika barusan tadi itu sama sekali tidak lucu. Kabur? Apa dia tidak waras dengan kata yang baru saja diucapkannya?


"Mending lo cerita di rumah gue aja. Atau lo mau ke mall aja buat makan atau shopping?" tawar Naisha.


Mika mengangguk lesu. Ia langsung bangkit dan menuju parkiran. Sedangkan, Naisha mengekorinya dari belakang seraya merasa ganjil dengan perilaku yang tidak sewajarnya ini.


***


Hari sudah mulai sore. Sementara Mika dan Naisha belum mengisi perut mereka dengan apa pun karena macet yang tidak bisa dielakkan. Alhasil, mereka memutuskan untuk makan cilor di gerobak pinggir jalan. Beberapa kali Mika sudah pernah ke situ, rasanya sangat enak dan memang tidak patut di pertanyakan lagi.


Beberapa lama kemudian, penjual cilor itu datang membawa dua piring cilor yang baru saja matang. Semerbak aroma wanginya menusuk hidung, membuat cacing di perut mereka semakin gaduh. Mangkok kecil plastik berisi sambal diambil oleh Naisha. Empat sendok kecil sudah cukup dicampur ke cilornya. Diimbuhi sedikit kecap menjadi pelengkap santapannya.


Berbeda dengan Mika. Ia hanya cukup dengan sedikit saus yang melumurinya. Nyalinya sudah surut untuk merasakan sambal lagi karena setiap kali sambal itu masuk pasti lambungnya nyeri. Selain itu, ia pernah menjadi bahan hinaan saat SMP dirinya tidak tahan buang air besar gara-gara sebelumnya ia makan rujak bersama teman-temannya. Akibat toiletnya penuh, hingga Mika tidak bisa menahan untuk buang angin.


Mika bergidik ngeri saat mengingat kejadian memalukan itu. Ia juga tidak habis pikir kenapa hal itu menimpanya. Namun tidak masalah, itu sudah menjadi jalan takdirnya. Hikmahnya menjadikan dirinya orang yang lebih sabar dan tidak aleman lagi.


"Eh iya, gue sampai lupa. Tadi lo kenapa? Dari kampus itu mukanya ditekuk mulu?" tanya Naisha mengejutkan sahabatnya.


"Mama gue udah seminggu nggak pulang, Nai. Gue pengin kabur aja ke rumah lo," lirih Mika sendu.


"Hah? Lo serius. Memangnya mama lo nggak bilang dia pergi ke mana?"

__ADS_1


"Nggak, Nai. Gue udah bingung harus narik perhatian mama gimana lagi. Kenapa mama kayak gini ke gue? Apa mama nggak mikirin perasaan gue."


"Lo nggak boleh gitu, Ka. Gini aja deh, lo nginep lagi di rumah gue aja sampai lo tenang. Nanti lo bisa balik ke mama lo. Intinya jangan sampai kabur deh. Kasihan juga mama lo."


Mika menggeleng-geleng seraya merengkuh bahu sahabatnya itu. Naisha menepuk halus pundak Mika untuk memenangkannya. Semburat senyum terlukis di bibir Mika. Namun, sorot matanya masih tidak bisa sembunyikan kesedihan mendalam tentang mamanya. Terlintas di benak Naisha tentang kedua orang tuanya juga.


Orang tuanya akhir-akhir ini sering sekali bertengkar entah itu karena masalah kecil ataupun besar. Satu sama lain saling menyakiti. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka? Bukankah dulu mereka saling mencintai dan harmonis? Kenapa sekarang mereka tidak bisa seperti dulu? Hati Naisha sakit bila melihat kedua orang tuanya berseteru. Kadang ia merasa iri saat teman-temannya bermanja denga kedua orangnya.


Ah, Naisha segera menampik pikirannya yang sudah melayang jauh. Ia kembali memusatkan diri pada masalah sahabatnya yang mungkin lebih rumit. Kini ia harus bisa menghibur Mika sampai benar-benar tenang menghadapi semua ini. Ia tidak mau dirinya juga ikut larut dalam kesedihan yang disembunyikannya.


"Ngelamunin apa?" suara Mika menghenyakkan lamunan Naisha. "Pulang, yuk! Gue aja yang bayarin," imbuhnya.


Naisha meraih tasnya dan mengekori Mika yang pergi terlebih dulu. "Kok seharian ini Alhan nggak keliatan ya, Ka?" tanya Naisha saat mobil melaju.


Mika menengok cepat. Sorot matanya memaparkan ketidak sukaan pada pertanyaan Naisha tadi. Sahabatnya yang sadar dengan tingkah Mika tidak biasa itu segara menebaknya dengan pertanyaan.


"Kenapa, Ka? Lo kok kayak kaget gitu?" tanya Naisha keheranan.


"Nggak papa. Oh ya, kita mau ke mana?" Mika mengalihkan percakapan. Ia lantas memainkan ponselnya yang tadi berada di tas.


"Pulang aja, ya? Gue ngantuk banget," sahut Naisha.


Mika memamerkan senyumannya. "Oke deh."


Senyum yang menghiasi bibirnya itu perlahan memudar saat Mika mengingat Alhan. Ya, Alhan! Entah kenapa ia selalu saja tidak suka Alhan mendekati sahabatnya. Ia juga tidak suka Naisha selalu merisaukan keberadaannya seperti barusan. Ada rasa meletup-letup dalam hatinya masa itu terjadi, namun Mika tutup mulut. Ia tidak bisa menjabarkannya apalagi menyabdakannya. Mungkinkah?


__ADS_1


__ADS_2