
Lelaki tersebut semakin dekat dengan Melur, lebih tepatnya berada di belakangnya.
"Melur....!" Seseorang menyebut namanya, merasa namanya dipanggil ia pun menoleh ke belakang.
"Arkhan....!"
Melur kaget melihat Arkhan berada di belakang, ia melihat ke segala arah. Tidak ada yang melihat Arkhan, sedangkan Anisa sangat jauh dari mereka sementara Meera belum keluar dari kamar mandi.
"Kok kamu kaget begitu?" tanya Arkhan membuka kaca mata hitamnya, ia berjalan mendekat ke arah Melur tapi Melur semakin mundar ke arah pantai. Bajunya basah terkena percikan air laut.
"Tidak apa-apa! Maaf aku mau pergi dulu," kata Melur menghindari Arkhan yang berada di depannya, jika Firdaus melihat mereka maka dia tidak akan tahu bagaimana nasibnya ke depannya.
Firdaus yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya melirik ke arah jam, ternyata ia sudah setengah jam meninggalkan Melur di pantai bersama temannya. Ia segera menyusul istrinya ke pantai setelah meletakkan berkas di atas meja kerjanya.
Saat hendak keluar dari resort, ia tak sengaja bertemu dengan Meera yang baru saja dari arah kamar mandi.
"Meera, dimana Melur?" tanya Firdaus saat berpapasan dengan Meera.
"Disana, tadi aku ke kamar mandi sebentar," kata Meera menunjukkan Melur berada di ujung pantai, Firdaus mengangguk lalu berjalan. Ia ingin sekali menemui istrinya, seakan ia sudah beberapa hari tidak melihatnya padahal masih beberapa menit.
__ADS_1
Firdaus terus berjalan ke arah pantai, ia melihat Zaki dan Anisa sedang tertawa karena tidak ingin mengganggu mereka, ia melewati begitu saja.
"Hai sayang, tunggu dulu? Apa kamu takut jika kita di lihat oleh suamimu," kata Arkhan tersenyum melihat Melur ketakutan.
Saat ia mengetahui kalau Melur sudah menikah, ia sangat marah dan sakit hati, ia tidak rela jika Melur bahagia.
"Dari kamu tahu kalau aku sudah menikah?" tanya Melur melihat kesana kemari, hatinya berdegup kencang tak karuan.
Firdaus terus berjalan dalam keramaian, mencari Melur istrinya. Tiba-tiba Arkhan mengetahui jika Firdaus sedang mencari Melur, ia pun mencari akal untuk bisa membuat Melur jatuh ke dalam pangkuannya agar terlihat Melur seperti memeluknya.
Melur yang tidak tahu siasat Arkhan, mencoba berjalan tapi sayang, Arkhan menahan kakinya sehingga dengan sengaja menangkap Melur jatuh ke pangkuannya.
Refleks Melur menoleh dan kaget melihat suaminya berada tidak jauh dari mereka. Sadar akan dirinya dalam pangkuan Arkhan, ia mendorongnya lalu berlari mengejar suaminya yang sudah memutar balik kembali ke resort.
"Mas, tunggu! aku bisa jelaskan semuanya, semua itu tidak seperti kamu lihat," kata Melur mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya tapi Firdaus yang sudah di selimuti amarah tidak mendengar ucapan Melur.
Dia terus berjalan, hatinya sakit. Dia pikir Melur mulai membuka hati untuknya tapi nyatanya dia masih bertemu dengan Arkhan.
"Tunggu, Mas ! tolong dengarkan penjelasan aku," kata Melur dengan air mata yang sudah menanak sungai.
__ADS_1
"Penjelasan apa? kamu ingin menjelaskan jika kamu masih mencintainya begitu, kamu ingin memperlihatkan pada ku jika kamu tidak mencintaiku. Ah, kenapa aku terlalu bodoh mengharapkan cinta mu, ternyata aku salah,"
Firdaus menatap nyalang dengan mata merah ke arah Melur, kukunya memutih dan giginya bergemelatuk menahan amarah yang sudah memuncak.
Anisa dan Zaki melihat pertengkaran mereka langsung bangun menghampiri Melur, begitu juga dengan Meera.
"Mereka kenapa? aku harus kesana," kata Anisa tidak tega melihat Melur sudah menangis.
"Jangan Nisa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka," kata Zaki melihat Firdaus berjalan kembali ke resort, kemudian Melur mengejarnya.
karena tak enak hati melihat sahabatnya menangis, Anisa tidak peduli jika itu adalah masalah dalam rumah tangga mereka. Dia tidak sengaja melihat Arkhan berjalan ke parkiran.
"Arkhan, apa semua ini karenanya," gumam Anisa, ia terus berlari mencoba mengejar Melur.
Firdaus berjalan ke lantai 5, dimana ruang kerjanya berada. Dia mengunci pintu, bayang-bayang Melur berada di dalam pangkuan Arkhan terekam jelas di mata dan pikirannya.
"Aaaaa...,"
Firdaus berteriak lalu meninju tembok membuat tangannya Memar, rasa sakit tak sebanding dengan luka di hatinya.
__ADS_1