
Selama mata kuliah berlangsung, tidak ada komunikasi di antara Naisha dan Alhan. Mereka saling terdiam. Naisha hanya memandang kosong punggung Alhan, mengabaikan semua penjelasan dosen di dalam kelas. Semua terasa berjalan lambat bagi Naisha, hingga tangan Alhan terulur ke arahnya dan meletakkan secarik kertas kecil di sana.
Naisha meraih kertas tersebut dan memandang sesaat kepala belakang Alhan lalu kembali menatap kertas di tangannya. Dia membaca beberapa baris tulisan di sana.
Ada festival layangan di Pantai Karnaval Ancol.
Lo mau lihat nggak?
Aku tunggu di parkiran kampus.
Naisha menggenggam secarik kertas tersebut dan menyimpannya ke saku bajunya. Ia melipat tangannya di atas meja dan memajukan wajahnya mendekati Alhan.
"Makasih karena nggak ngehindarin gue lagi," lirih Naisha mendekati telinga Alhan seraya tersenyum.
Naisha kembali menegakkan posisi tubuhnya dan mulai berkonsentrasi memahami penjelasan dosen.
***
Sepanjang mobil itu melaju melintas menuju Pantai Karnaval Ancol, Naisha tak henti-hentinya tersenyum. Suara deburan ombak mulai terdengar di telinganya. Angin sepoi laut pun terasa berembus melambaikan rambut panjangnya. Naisha menikmati masa seperti ini.
__ADS_1
Tidak lama mobil itu tiba di tanah berpasir putih. Naisha menuruni mobil Alhan dan memandang ke arah puluhan orang yang berdiri di tepi pantai dengan puluhan benda berwarna-warni dengan bentuk macam-macam menghiasi di atas langit pantai. Naisha berdecak kagum memandang kertas-kertas tersebut. Kertas itu seolah sebuah lembar kehidupan yang bertarung memerangi angin. Mereka mencoba bertahan di atas sana meski angin menggempurnya dengan sekuat tenaga. Jika dia tak kuat, maka lepaskanlah kertas itu tak berarah.
Alhan bertekuk lutut di hadapan Naisha seraya mengeluarkan sebuah cincin cantik. "Udah banyak tahun kita lewati sebagai sahabat. Berbagi suka maupun duka bersama. Aku tau hari-hari berat untukmu dan aku selalu ada di sampingmu. Untuk itu, hari ini aku akan tetap memintamu jadi sahabatku. Sehidup semati, kini dan nanti hingga selamanya. Mengarungi derasnya waktu. Jika selama ini aku mampu, ragukah kamu untuk menjadikan kebersamaan ini jadi selamanya? Aku mencintaimu, itulah alasannya. Be my wife, sahabatku!" ujar Alhan memegang tangan Naisha di mana kini matahari hampir saja terbenam.
Naisha mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.
Alhan memasangkan cincin di tangan sahabatnya itu. "Kenapa diam aja. Ayo kita ke sana!" serunya yang langsung mengajak Naisha menuju bibir pantai.
Dua insan itu kembali bergabung di tepi pantai dan ikut menerbangkan layangan kecil yang mereka beli di seorang pedang di sana. Masa terindah setelah mereka resmi memiliki status baru.
***
Gelapnya langit malam mungkin terasa biasa saja bagi beberapa orang, tapi berbeda dengan Mika yang tengah duduk di balkon kamarnya untuk memandangi bintang, ia tersenyum sembari menatap langit. Pikirannya melayang saat mengingat kenangan manis bersama sahabat terbaiknya. Ketika sedang mengamati keindahan malam yang ditaburi gemerlap bintang-bintang, sebuah suara dari ponselnya mengganggu kenikmatannya. Diraihnya benda canggih di meja sampingnya.
Dengan buru-buru Mika mengangkat panggilan itu sebelum terputus.
"Assalamualaikum, Ka?"
"Waalaikumsalam, ada apa, Nai?" Mika langsung saja to the point untuk menghilangkan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Gue cuma mau bagi-bagi kabar gembira ke lo."
Ia mulai menerka-nerka kabar gembira apa yang akan di sampaikan Naisha. "Kabar apa, Nai?"
Ada jeda beberapa detik sebelum Naisha menjawab pertanyaannya.
"Eh, Nai. Lo masih di sana, 'kan?" Ponselnya dijauhkan dari telinga untuk melihat apakah panggilannya masih tersambung. Namun, kenapa Naisha masih bungkam?
"Iya, Ka. Gue masih di sini kok. Tadi sore Alhan ngelamar gue loh!"
Tenggorokan Mika tercekat mendengar kabar itu. Entah dia harus bahagia atau menangis saat ini. Di satu sisi dirinya senang jika sahabatnya bahagia, namun ada gejolak di hatinya yang tidak bisa menerima hal ini.
"Eh, Ka. Lo masih di situ? Pasti speechless, 'kan? Gue juga sama. Masih ngerasa mungkin ini mimpi hehehe...."
Suara Naisha menginterupsinya. Segera ia tersenyum sembari menguatkan hati. "Selamat ya, Nai. Semoga langgeng! Ciee... Ciee yang udah dilamar. Gue ikut senang dengarnya. Ah, gue aja nggak nyangka."
Mika tersenyum kecut setelah melontarkan kalimat itu. Tanpa diminta satu-persatu air matanya lolos begitu saja membasahi pipi. Ia membiarkannya, sengaja tidak menyekanya agar rasa sakit di hatinya sedikit terobati. Meski, ia tau hasilnya nihil.
"Makasih atas doanya, Ka... Gue bahagia banget rasanya kalo gue punya sayap pengin terbang aja."
__ADS_1
Bibir Mika semakin bergetar mendengar penuturan sahabat karibnya itu. Ia sudah tak kuasa mendengarnya. Tidak peduli lagi, ia mematikan sambungan telfonnya dan menangis menumpahkan rasa sakit sampai puas. Entah kenapa dirinya bisa sehancur ini. Mika masih terus saja menangis menumpahkan air mata. hingga rasa sakitnya benar-benar terobati.