
Meera dan Nisa menghampiri Melur yang sudah menangis, ia tidak tahu harus melakukan apa-apa. Semua serba tiba-tiba, bertemu dengan Arkhan bukanlah keinginannya. Semua itu hanya kebetulan.
"Melur, kamu kenapa?" tanya Anisa menghampiri sahabatnya.
"Mas Firdaus, Nis. Dia melihat aku bersama Arkhan tapi semua yang terjadi tidak seperti yang dia lihat, mas Firdaus sudah salah paham. Dia tidak mendengarkan penjelasan aku," kata Melur menangis, wajahnya sembab. Dia terus menangis sedangkan di lantai 2 di dalam kamar yang luas Firdaus terus mengutuk kebodohannya.
"Sudah, kamu tenang? Kamu ceritakan bagaimana kamu bisa ketemu dengan Arkhan nanti masalah suami kamu biar kami yang tangani," kata Meera, Nisa menoleh ke arah sahabatnya lalu menatap ke arah Zaki agar mereka bisa berbicara dengan Firdaus.
Melur menceritakan semuanya pada Nisa dan Meera, mereka diam sesekali saling menatap satu sama lain.
"Sepertinya Arkhan memang sengaja deh agar Firdaus salah paham tentang kalian berdua, sehingga membuat pertengkaran ini," kata Meera setelah mendengar Melur menceritakan semuanya, Melur terus menangis untuk menemui Firdaus saja dia tidak tahu ada di kamar berapa. Ia menoleh ke arah Zaki berdiri tidak jauh darinya.
"Mas Zaki, apa mas tahu ruangan Mas Firdaus?" tanya Melur berjalan ke arahnya.
"Lantai 2 sebelah kanan, ruangannya bertulisan direktur." Kata Zaki.
Ia hanya berharap jika ini bukanlah akhir dari pernikahan mereka, Melur langsung berjalan masuk ke dalam menaiki lift menuju lantai 5 lalu mencari ruangan yang di katakan Zaki.
__ADS_1
"Mas...!" Panggil Melur melihat suaminya duduk dengan sebatang rokok di tangannya, asap mengepul ke udara. Firdaus diam menganggap jika istrinya tidak berada di sampingnya.
"Pergilah, aku ingin sendiri?"
Firdaus menyuruh Melur pergi, karena ia tidak sanggup melihat air matanya jatuh apalagi kejadian tadi membuat ia merasakan sakit hati.
"Tidak Mas, kamu harus dengar penjelasan aku dulu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya, dia tiba-tiba beradang di belakang ku. Saat aku ingin pergi, ia terus menghalangi jalan ku."
Melur mencoba untuk menjelaskan semuanya tapi Firdaus hanya diam. Bahkan ia enggan untuk menatapnya.
"Aku mohon jangan diam seperti ini, Mas. Bicaralah," kata Melur merasa tersiksa, seakan separuh jiwanya hilang melihat sikap Firdaus seperti ini.
Bruukk......
"Melur....!
Brukk
__ADS_1
"Melur...!"
Teriak Firdaus melihat istrinya pingsan ke lantai langsung membopongnya ke kamar, ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada istrinya. Ia mengambil minyak kayu putih lalu mengolesnya di hidung Melur.
Tak lama kemudian, Melur sadar dan pertama yang dia tatap adalah suaminya, lelaki yang sudah dia buat hatinya terluka. Ia langsung memeluk Firdaus dengan air mata kembali jatuh perlahan, ia memeluk erat suaminya dengan segugukan.
"Aku tidak melakukan apa-apa, dia tiba-tiba datang," kata Melur menangis kembali di pelukan suaminya, Melur mengelus pucuk kepala istrinya. Dia tidak tahu kenapa istrinya seperti sangat terluka.
"Sudah, jangan berkata apapun lagi. Sekarang kamu istirahat,Mas mau keluar dulu," kata Firdaus ingin beranjak keluar.
"Jangan pergi, aku mohon," kata Melur menatap suaminya, ia begitu takut jika Firdaus pergi meninggalkannya.
"Iya, Mas tidak akan pergi! Sekarang kamu tidur ya," kata Firdaus.
Melur hanya menganguk, perlahan ia mulai terlelap mungkin lelah karena kejadian tadi. Sementara Nisa, Meera dan Zaki masih duduk di luar.
"Kalian istirahat, kita menginap disini semalam. Tidak mungkin kita pulang dalam keadaan Melur seperti ini," kata Firdaus memberikan kunci resort untuk Zaki dan Nisa, mereka hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamar mereka.
__ADS_1
Nisa dan Meera berjalan menuju lantai bawah kamar 10 bersebelahan dengan kamar Zaki. Mereka masuk lalu merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang empuk.