
Sore yang tenang dan damai. Awan bermacam bentuk berarak-arak di angkasa, terseret oleh angin sejuk yang bertiup sepoi-sepoi. Sejoli itu tersenyum melihat langit di gazebo. Cuaca sejuk sore ini membuat mereka tidak beranjak.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil terlihat memasuki pekarangan rumah Naisha. Kebetulan ada Mbok Sari yang sedang menyiram tanaman, mobil itu dengan sukses masuk dan terparkir di dalam garasi rumah Naisha yang masih luas selama mobil orang tuanya tidak ada.
"Hei, Nai. Gue bawain martabak nih," sapa Mika saat masuk ke taman rumah sahabatnya sembari meletakkan barang bawaannya di meja. "Eh, ada Alhan juga di sini?" imbuhnya.
"Iya hehehe... Tumben ke sini nggak ngomong dulu sih?" tanya Naisha. "Lo repot-repot aja bawa ginian, Ka."
"Santai aja kayak sama siapa aja. Gue kangen makanya ke sini. Eh nggak taunya lo lagi sibuk sama doi." Mika mendengus kesal.
__ADS_1
Naisha hanya terkekeh dan mempersilakan sahabatnya untuk duduk di sampingnya. Alhan tertawa kecil saat mendengar cerita Naisha tentang kejadian SMP yang tidak tahan buang angin hingga dirinya trauma makan sambal. Kemesraan tingkat dewa antara Alhan dan Naisha entah kenapa membuat Mika mati kutu.
“Gue rasa lo butuh refreshig deh, Al. Biar bisa benerin otak lo yang sarap, perasaan dari tadi nggak ada yang lucu, tapi ketawa mulu." Dengan kesal Mika memasukkan martabak ke mulutnya.
“Gimana kalo kita ke TMII? Atau Ocean Park? Telaga warna? Kampung budaya Sindang Barang? Mau yang mana?”
Kenapa mereka malah asyik mengobrol tentang jalan-jalan? Belum lagi sepertinya mereka tidak menanggap keberandaan Mika membuat dirinya meradang, sedari tadi ia seperti obat nyamuk di antara sejoli itu. Ia sudah tidak sanggup lagi melihat pemandangan yang tersaji di depannya itu.
Mika serius harus segera pergi dari sana, padahal ia berharap kehadirannya akan mengganggu mereka. Tapi kenapa malah dirinya yang terganggu dengan tingkah mereka, ya? Sialnya mereka sama sekali tak memedulikan Mika.
__ADS_1
***
Hari sudah malam. Bintang bertaburan memenuhi cakrawala. Mika menatap cakrawala di kerangka jendelanya. Dering ponsel yang berbunyi sejak tadi tidak ia acuhkan, meskipun itu dari Naisha. Ia kembali memfokuskan pandangnya ke cakrawala setelah beberapa saat melirik ponselnya. Dering ponselnya sudah tidak lagi berbunyi.
Mika membengkalaikan jendelanya terbuka dan kembali ke tempat tidurnya. Diambilnya buku diary yang tergeletak manis di hadapannya. Keinginan untuk menulis suatu perasaan semakin menggebu-gebu. Ada rasa yang membuncah yang belum tersampaikan dan masih menggerogoti jiwanya.
Hello dear, mungkin sekarang gue adalah orang paling senewen sedunia. Orang yang gue cintai sering deket sama orang lain dan gue nggak bisa nerima itu semua. Gue sayang banget sama dia. BANGET!!! Gue udah lama kubur ini, tapi gue nggak berani utarain. Sulit banget dan nggak mungkin gue utarain, karena gue itu... Gue itu nggak punya keberanian sama sekali buat hal itu, dear. Gue udah berusaha bersikap normal, apalagi sama Naisha. Tapi perasaan ini nggak bisa gue sembunyiin terus. Mau sampai kapan? Apa gue jauhin mereka biar gue nggak sakit hati lagi? Ya, bener. Gue penakut, dear. What should i do now? T_T
Tak terasa mata Mika mulai menghangat, perlahan air matanya menetes. Ponselnya berdering lagi. Dan kali ini dari Naisha lagi. Namun, Mika sudah tidak acuh.
__ADS_1
Kenapa dia nggak peka sama apa yang gue rasain?