
Sepanjang perjalanan, Melur hanya diam begitu juga dengan Firdaus. Bukan ia tidak ingin menjelaskannya tapi suasana di mobil membuat Firdaus mengurungkan niatnya untuk menjelaskan siapa Naya yang sebenarnya.
Mobil berhenti di supermarket, Melur hanya diam tak ingin menatap suaminya.
"Sayang, mas ke dalam dulu. Kamu tunggu di mobil ya?" Kata Firdaus namun enggan di jawab oleh Melur.
Firdaus menghembuskan nafas dengan gusar lalu masuk ke supermarket untuk membeli beberapa Snack untuk mereka makan sampai di tempat yang ingin di datangi nanti.
Tiga jam perjalanan, mereka sampai di pantai yang asri yang tidak jauh dari pusat kota Jakarta. Melur membuka mata dan melihat keindahan pantai yang sangat bersih, pasir putih dan air yang jernih memberikan ketenangan.
Mereka berdua turun, Melur tak berkedip menatap pantai yang tak pernah ia datangi selama ini.
"Mas, kita ke pantai! Wah, indah banget?" Kata Melur berlari ke arah pesisir pantai.
Meninggalkan Firdaus sendrian di mobil, Ia mengambil kantong kresek berisi Snack yang dia tadi di beli di supermarket. Melur terus bermain dengan air, raut bahagia terpancar dari wajahnya. Seketika moodnya hilang.
"Mas, ayo kesini?" Teriak Melur, Firdaus hanya mengangguk. Ia tidak pernah melihat Melur sebahagia ini, ia berjalan ke arah istrinya yang sedang bermain dengan pasir putih bersih. Tidak ada sampah yang berserakan disana.
"Sayang, jangan lari-lari nanti jatuh," kata Firdaus mengingatkan istrinya yang berlari sambil merentangkan kedua tangannya lalu kembali ke arah firdaus yang duduk di atas pasir.
__ADS_1
Matahari pagi ini tak terlalu bersinar, di tutup oleh awan hitam. Hujan tadi yang sempat turun kini sudah berhenti.
"Apa kamu senang?" tanya Firdaus.
Melur mengangguk" aku senang banget, kok mas tahu tempat ini bagus banget,"
Melur menatap suaminya yang memakai kaca mata hitam, begitu tampan. Semilir angin membuat pashmina yang di pakai oleh Melur berterbangan.
"Mas sering datang kesini, nanti setelah dari sini mas mau mengajak kamu ke suatu tempat," kata Firdaus lagi.
Melur mengangguk, ia sangat senang menatap laut biru nan indah. Mereka duduk di bawah pohon untuk beristirahat, sementara Melur mengambil foto beberapa kali. Ada juga foto bersama dengan Firdaus.
Ponselnya bergetar mengganggu aktivitas yang sedang berpose, ia melihat seorang mengirim pesan ke nomor WhatsAppnya. Ia pun membuka dan melihat pesan tersebut.
@062546xxxx
[ Mas, bisakah kita bertemu nanti malam ]
Membaca pesan tersebut, ia tahu siapa yang sudah mengirim pesan padanya. Karena dia sengaja memberikan nomornya pada Naya agar dia tahu apa yang ingin Naya lakukan.
__ADS_1
Dengan wajah cemberut, Melur melempar ponsel itu ke arah Firdaus lalu berjalan menjauhi suaminya.
"Sayang, kamu kenapa? Kok ngambek," kata Firdaus terkejut tiba-tiba Melur melemparnya dengan ponsel membuat ia kaget. Bukannya menjawab Melur semakin menjauh berlari di pesisir pantai.
Karena penasaran, ia pun membuka ponsel lalu membulaykan mata membaca pesan masuk lalu menscrol foto tersebut. Ia mengejar Melur yang terus berlari jauh.
"Sayang, berhenti," Melur menghentikan langkah kakinya, ia tak sadar jika kakinya berdarah karena tidak memakai sadar menginjak karang yang tajam.
"Jangan menciptakan api jika kamu tidak ingin terbakar di dalamnya, mas tahu kamu marah karena Naya tapi bukan berarti kamu bisa seperti ini. Kamu adalah istri Mas," kata Firdaus memeluk istrinya dari belakang, air mata Melur seketika jatuh. Bukan pesan itu yang membuat ia marah tapi ia hanya takut jika suaminya akan memilih wanita itu.
"Kamu adalah istri Mas, orang yang paling mas cintai dan sampai kapan pun mas akan selalu bersama mu," kata Firdaus membalikkan tubuhnya istrinya. Entah mengapa, ia merasa rapuh jika berada di dekat suaminya.
"Mas janji gak akan ninggalin Melur demi mbak Naya," tanya Melur menatap suaminya.
"Janji, kamu adalah istri satu-satunya bagi Mas," kata Firdaus kembali.
"Sekarang sudah siang, kita istirahat dulu," kata Firdaus mengajak istrinya untuk istirahat.
"Aww.....
__ADS_1