Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 15 - Kelabu Menoreh Luka


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga bulan usia pernikahan mereka. Alhan meminta untuk tinggal berdua dengan Naisha. Membangun rumah tangganya sendiri. Mereka sudah tinggal di rumah yang Alhan beli dari jerih payahnya dalam mengelola kedai kopi. Alhan disibukan dengan bisnis dan kuliahnya, sedangkan Naisha sibuk kuliah dan mengurusi pekerjaan rumah membuat keduanya kurang komunikasi. Tak ayal membuat pasutri itu kerap cekcok meskipun permasalahannya hal sepele. Selain itu hal inilah yang membuat mereka hanya bersua saat malam tiba.


Usai melaksanakan solat Isya, Naisha memilih mengurung diri di kamar untuk menghilangkan penat seharian ini. Dirinya tidak ingin ada yang mengganggu waktu me timenya lagipula suaminya itu pasti pulang larut malam seperti biasanya. Kadang Naisha merasa ada perubahan dalam diri Alhan sesekali menjadi temperamental, sesekali menjadi dingin, dan sesekali juga menjadi manja.


Naisha baru saja menumbangkan ke atas kasur lembutnya. Matanya sudah terpejam rapat-rapat. Mulutnya bergumam tidak jelas. Beberapa detik kemudian, suara ketukan pintu kamar terdengar jelas. Hal itu membuat Naisha jengkel karena suaminya lagi-lagi pulang malam.


"Sayang, bukain pintunya!"


Dengan malas Naisha melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar. "Sabar ya, ini mau aku bukain."


Alhan datang dengan wajah lesu langsung masuk kamar dan menumbangkan tubuhnya di ranjang. Naisha hanya menggeleng-geleng kepala melihat perilaku suaminya. Entah sampai kapan perilaku Alhan seperti itu, Naisha ingin sekali Alhan-nya yang dulu kembali, sebenarnya hal apa yang membuat cowok itu seperti ini?


"Mas, mandi dulu sana itu udah aku siapin."


Cowok itu masih betah pada posisinya. "Diem. Aku capek, Nai."


"Iihh... Bau, Mas. Cuma mandi bentar kok males banget sih?" Naisha mendekati suaminya itu dan mengguncang tubuhnya.


Alhan bangkit dan melangkah ke arah kamar untuk menyegarkan tubuhnya. Namun, langkahnya terhenti saat di depan pintu kamar mandi. Ia berbalik dan menatap ke arah istrinya.


"Sebaiknya kamu jauhi, Mika. Sekarang!!"


Mendengar hal itu membuat Naisha mengernyit bingung. Atas dasar apa yang membuat Alhan menyuruhnya melakukan hal itu. Dirinya tentu saja tidak akan melakukan apa yang baru saja diminta suaminya itu. Ya, dari sekian banyak perilaku Alhan yang berubah setelah menikah ada beberapa yang masih ditolerir, namun tidak dengan kali ini.


"Nggak mau!!" jawab Naisha lantang.


"Kamu harus nurut. Ingat aku suami kamu!!" hardik Alhan tersulut emosi.


"Cukup, Mas! Kamu itu kenapa sih selama ini bentak-bentak aku?! Orang tuaku aja nggak pernah bentak aku. Kamu berubah Mas! Dasar egois!! Aku benci kamu!!!" Naisha berlalu ke luar kamar dengan jengkel.


Alhan menghela napas kasar. Ia sangat sensitif jika berkaitan dengan Mika. Dirinya merutuki karena tidak bisa mengontrol emosinya. Ia tidak ingin jika istrinya itu ... Ah! Sudahlah sampai kapan Alhan sanggup menyembunyikan rahasia Mika. Bukankah ada pepatah 'sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga' begitu juga yang terjadi pada Alhan. Untuk saat ini Alhan boleh saja merasa aman, tapi pasti esok atau di lain Kesempatan kebenaran akan Tuhan tampakkan.

__ADS_1


***


"Duduk aja, Ka." Mama Sekar menepuk-nepuk sofa yang didudukinya.


Mika mengangguk dengan menampilkan senyum. "Mama tumben ngajakin aku bicara gini?"


Mama Sekar tertawa renyah. "Sebenarnya sih udah lama Mama pengin kayak gini, Ka."


Mika terkesiap mendengar penuturan barusan. Apakah dirinya tengah bermimpi? Sudah lama? Maksudnya apa? Bukankah selama ini Mama Sekar membencinya?


"Mama sadar selama ini yang Mama lakuin ke kamu itu salah." Mama Sekar memecahkan keheningan. Mika terlihat serius mendengarkan setiap kalimat yang terlontar dari mulut Mamanya.


"Mama bingung harus mulai jelasin dari mana. Tapi, yang jelas Mama sangat sayang kamu lebih dari kebencian Mama."


"Mama ... sayang aku?" Mika menatap tidak percaya.


"Kamu nggak percaya, 'kan? Mama juga nggak percaya kenapa bisa sayang sama Mika yang bukan anak kandung Mama."


"Begini, Mika ... Dulu, sebelum Mama menikah sama Papamu, Mama mencintai seorang pria. Kami udah pacaran selama 2 tahun. Tapi, sewaktu Mama minta dia nikahi Mama, tiba-tiba dia mengutarain kalo dia ... dia mencintai adik Mama sendiri." Mama Sekar membuang napas kuat-kuat. Mika merasakan kekecewaan yang tengah dirasakan Mamanya.


"Loh kok bisa gitu, Ma?" Rasa penasaran Mika tidak dapat dibendung lagi.


"Kamu tau cinta, 'kan? Mencintai itu harus memilih antara bertahan atau melepaskan...."


Cinta? Mika memang mengetahuinya namun tidak membuatnya melangkah lebih dalam lagi. Melangkah sedikit saja membuat hatinya sakit. Sudahlah mengingatnya saja membuat bayangan Naisha muncul seketika sudah sangat menyakiti Mika.


"Dari rautmu kayaknya udah pernah jatuh cinta. Tapi, Mama saranin kalo orang yang kamu cintai itu udah punya pilihannya sendiri jangan pernah kamu teruskan perasaanmu. Hilangkan rasa itu!! Mama nggak mau ada orang yang tersakiti seperti Mama lagi."


Seketika muka Mika berubah pias. Bagaimana Mamanya tahu? Inikah kekuatan feeling seorang ibu? Mungkinkah di wajahnya terpampang sangat jelas hingga membuat Mama Sekar mengetahuinya? Terlepas dari semua pertanyaan yang muncul dalam benak Mika, Mama Sekar terkekeh melihat perilaku putri angkatnya.


"Oke, lanjut ke topik pembahasan kita. Mereka berdua menikah tanpa memikirkan perasaan Mama yang sakit hati. Akhirnya Mama memutuskan pindah ke Jakarta dan ketemu sama Papamu. Mama udah bertekad buat melupakan semua. Sampai Mama tahu kalo mereka punya buah hati, yakni kamu, Mika!"

__ADS_1


"Jadi ... aku anak mereka? Terus orang tuaku mana, Ma?"


"Mereka udah meninggal, Ka...." lirih Sekar.


Mika terkesiap. Rautnya yang semula antusias mendengar kisah Mama Sekar, kini menjadi sendu.


"Mereka meninggal karena kecelakaan mobil ... Mobil mereka tertimpa truk, kedua orang tuamu meninggal di tempat cuma kamu yang selamat. Papa langsung terbang ke Surabaya buat melihat kondisi kalian dan Papa jatuh cinta sama kamu." Mama Sekar menatap sendu melihat Mika yang sesegukan.


"Dengarin Mama, Ka. Nggak ada setitik pun di hati Mama kebencian buat kamu. Waktu kamu masak nasi goreng, Mama seneng banget. Setelah kamu selesai makan, nasi goreng yang masih ada di wajan udah Mama habisin. Ternyata masakan kamu enak juga lain kali kita masak bareng mau?"


Mika mematung, pandangannya mengabur, matanya mulai menghangat. Akhirnya, butiran bening yang berkelok-kelok di pipinya. Mama Sekar mendekap erat dan mengecup Mika berulang kali. Hujan air mata Mika pun pecah dalam dekapan hangat Mamanya. Sekarang, tembok kokoh pemisah antara keduanya sudah hancur. Mereka terikat erat menjadi satu.


Aku ingin


menghirup hawa yang kau hirup


Melangkah


di tempatmu melangkah


Berteduh


di tempatmu berteduh


Dan terlelap di atas pangkuanmu


Ibu…


Aku hanya inginkan selalu bersamamu


sepanjang waktuku

__ADS_1



__ADS_2