
Dalam waktu 30 menit, perjalanan mereka sampai di resort daerah Jakarta Selatan. Mereka turun bersama-sama setelah sampai di resort milik Firdaus, tapi Melur tidak tahu yang dia datangi adalah milik suaminya.
Pemandangan yang tidak jauh dari pantai membuat banyak para wisatawan menyewa resort ini dalam jangka waktu seminggu, banyak juga dari perusahaan mengajak meeting di resort yang di kenal sangat bersih dan makanan yang enak-enak.
"Wah, tempat ini bagus ya? Resort disini tidak jauh dari pantai, waw sangat bagus," kata Meera terkagum-kagum dengan bangunan resort ini.
Nisa hanya diam, sesekali ia melihat pemandangan pantai yang sangat asri. Tidak ada yang sampah yang bertebaran dimana-mana.
"Kita masuk yuk," kata Firdaus masuk ke dalam resort.
Di resort ini juga mempunya lobby dan cafe untuk para wisatawan agar tidak keluar lagi dari resort jika hendak makan untuk pengunjung yang ingin bermalam menikmati suasana pantai di malam hari.
Di Resort ini terdapat fasilitas seperti area parkir, lobby resort seperti resepsionis, toilet umum dan juga lainnya.
"Melur, ini resort punya siapa?" tanya Meera duduk di meja di nomor 5 yang mengarah ke pantai.
"Gak tahu, soalnya gue gak tahu resort ini milik siapa?" Kata Melur mereka di tinggal bertiga sedangkan Firdaus masuk ke dalam sedangkan Zaki baru saja kembali dari kamar mandi.
"Mas Zaki, resort ini milik Mas Zaki ya?" tanya Meera bar-bar membuat Melur dan Nisa menatap ke arahnya tak percaya.
"Bukan tapi milik Firdaus suaminya Melur," kata Zaki santai.
Mereka bertiga menatap ke arah Zaki, seakan ingin mendapat jawaban yang pasti bahwa yang dia katakan itu benar.
"Kalian tidak usah menatap ku begitu, aku tidak bohong. Dialah pemilik resort ini," kata Zaki menunjukkan ke arah Firdaus yang datang lalu duduk di samping istrinya.
"Kalian kok menatap ku seperti itu, memangnya ada apa sayang?" tanya Firdaus.
__ADS_1
"Kata Mas Zaki, Resort ini milik Mas! Apa benar itu?" tanya Melur.
Firdaus menatap Zaki dengan tajam, sebenarnya ia tidak ingin Melur tahu tentang dirinya karena ia ingin hidup sederhana tapi Zaki membuat ia harus memgakui kalau resort itu miliknya.
"Benar sayang, resort ini di kelola oleh sepupunya Mas selama 5 tahun ke belakang," kata Firdaus.
"Wah, Mas Firdaus hebat. Selain tampan, mas juga seorang pengusaha," lagi-lagi Meera bar-bar dengan mulut embernya, ia membuat suasana menjadi lucu.
"Tidak kok, kalian mau pesan apa?" tanya Firdaus membuka percakapan ke arah lain.
"Mmm... Kita pesan apa ya?" Kata Meera melirik buku menu yang ada di atas meja.
"Mbak.....!" Panggil Zaki dengan melambaikan tangannya pada waiters.
"Mbak, aku dan Nisa pesan jus alpukat dua sama spaghetti, kalau kamu Melur?" tanya Meera memberikan buku menu padanya.
"Samain aja sama pesanan Kamu?" Kata Firdaus duduk di sampingnya.
"Mbak, aku pesan mie goreng sama jus jeruk dua mbak, kalau Mas Zaki mau pesan apa?" Tanya Melur melihat Zaki asik dengan ponselnya.
"Samain sama kepunyaan Nisa dan Meera," kata Zaki, Nisa dan Meera suling melirik satu sama lain, lalu kembali diam tidak berani bertanya pada Zaki terlihat sedikit pendiam.
Sepuluh menit menunggu, pesanan mereka di antar oleh pelayan. Terlihat Meera kehausan sehingga dengan menyurumput segelas minuman miliknya.
"Meera, pelan-pelan jangan sikap bar-bar kamu bawa kesini?" Kata Nisa.
Bukannya diam, Meera tidak memperdulikan perkataan Anisa sehingga ia memilih diam.
__ADS_1
"Mas Zaki sudah punya pacar belum?" tanya Meera langsung membuat Anisa menoleh ke arahnya lalu tak sengaja pandangan mereka bertemu.
"Belum, memang kenapa?" tanya Meera.
"Wah, cakep nih. Teman saya juga jomblo," kata Meera melihat ke arah Zaki.
"Siapa?" tanya Zaki terus menatap Anisa.
"Ada di samping saya, Anisa?" Kata Meera spontan membuat Anisa menginjak kakinya, ia merasa kesal karena Meera menjodohkannya dengan Zaki yang selama sekali tidak ia kenal.
"Boleh, Anisa cantik?" Kata Zaki spontan memuji Anisa, baru kali ini dia melihat Anisa berbeda dengan perempuan yang lain. Tidak banyak bicara, cara berpakaiannya sama dengan Melur.
Firdaus dan Melur sama-sama lalu Melur membisikkan sesuatu di telinga suaminya.
"Mas, bantu comblangin mereka berdua ya?" Kata Melur membisikka sesuatu.
"Kamu yakin sayang, Zaki playboy kelas kakap loe," ujar Firdaus dengan mimik wajah serius.
"Aku yakin mas Zaki lelaki baik, cocok sama Anisa. Kayaknya mas Zaki suka sama Anisa," kata Melur.
"Baiklah...!" Kata Firdaus.
"Kok kalian bisik-bisik, ada apa?" tanya Anisa.
"Tidak ada bestie, ayo makan. Setelah ini baru kita main ke pantai," kata Melur tersenyum.
Mereka menyantap santapan mereka dengan nikmat, Meera yang bar-bar membuat suasana menjadi riang, menceritakan tentang mereka sehingga membuat Zaki dan Firdaus tertawa lepas.
__ADS_1