
Selesai membenahi kamar yang tadinya berantakan, Naisha pun masih sibuk bermain-main dalam imajinasinya tentang isi buku itu. Rasa penasarannya memang luar biasa membuncah, namun masih ada keraguan dan kesungkanan saat melirik buku diary berwarna biru tua itu. Hatinya berdetak kencang dan sekelumit kecemasan menghampirinya.
Mendung kembali melukis angkasa hari ini. Sebentar lagi titik air dari angkasa akan jatuh bertaburan membasahi bumi. Belakangan ini memang cuaca sedang tidak bersahabat. Mungkinkah mengikuti perasaan orang-orang yang tidak menentu? Kadang hujan dan kadang panas. Tidak jelas kapan datangnya. Semua terjadi secara kentara.
Tangannya gemetar kala ia membuka lembar pertama buku diary itu. Sebuah tulisan yang jelas khas tulisan Mika. Sebenarnya ia cukup terkesiap mengingatkan itu milik sahabat baiknya, namun Niasha fokus membaca kalimat demi kalimat yang sahabatnya rangkai dalam buku itu. Entah kenapa, ia hanya menemukan keresahan di sana. Tidak ada kisah manis yang Mika tulis.
Naisha terus menjelajahi lembar demi lembar separuh kisah hidup Mika yang terabadikan. Ia akhirnya sampai di lembar terakhir Mika terakhir kalinya menulis di buku itu.
Naisha....
Naisha....
Naisha....
Bagai mendengar petasan di siang bolong. Naisha masih mematung dengan lembaran yang barusan.di baca. Mulutnya ternganga, tidak memahami tulisan Mika yang menonjol itu.
"Jadi selama ini...?" Naisha menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sungguh tidak percaya dengan kebenaran yang tidak pernah inginkan ini.
Gue kecewa sama lo, Ka. Gue kecewa....
"ARRGHH....!!!"
__ADS_1
Naisha menjerit menghadap angkasa yang kini sudah rintik-rintik, mengiringi kekecewaan yang mendekap hatinya. Menjerit sekecang-kencangnya hingga urat di lehernya terlihat. Kini ia tidak peduli badai yang menghantam dirinya, yang terpenting ia ingin kebebasan. Kebebasan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini.
***
Beberapa detik terlewat seperti itu saja tanpa suara. Naisha masih bungkam dengan wajah hidung yang berkerut, menandakan marah. Meski Mika sudah lama terbiasa dengan keadaan sunyi, namun ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapat kepastian tentang masalah yang tidak ia ketahui apa.
"Lo ngomong dong, Nai. Tolong, udah lama lo diamin gue kayak gini." Mika akhirnya membuka mulut.
"Ini punya lo, 'kan?" Naisha menunjukkan diary milik Mika yang sekarang berada di genggamannya.
Seketika tubuh meledak sekaligus terasa lunglai secara berbarengan. Takut, marah, dan kaget, berbaur menjadi satu seakan itulah bom yang dalam waktu sekejap menggempur tubuhnya.
"Oh, jadi ini alasannya kenapa lo jadi ngejauh dari gue sama Alhan? Karena perasaan abnormal lo sama gue?" Penuturan Naisha dilontarkan menikam ulu hati Mika.
"Lo mikir nggak sih, Ka? Perasaan lo itu bakalan menghancurkan persahabatan kita!!" nada Naisha meninggi.
"Nai ... gue minta maaf, gue udah ngecewain kalian. Maaf...."
Naisha hanya tersenyum masam. "Sejak kapan... lo kayak gini?"
"Nai ... gue nggak tau kenapa perasaan ini muncul dalam hati gue. Tapi, semenjak lo hadir di kehidupan gue jadi temen gue terus mengubah pribadi gue rasa itu tumbuh sendiri, Nai ... Gue udah coba buat ngilangin ini, tapi nggak tau kenapa makin lama makin kuat. Gue nggak ... nggak tau...."
__ADS_1
"Cukup!" jerit Naisha. "Gue muak denger itu berulang-ulang. Sorry, Ka. Tapi, gue kecewa banget sama lo!" Naisha segera bangkit dan langkahnya membawa pergi menjauh dari tempat itu. Perlahan bayangan punggung Naisha mengabur dari pandang Mika. Tinggallah seorang cewek menitikkan hujan sendu yang mencoba menghilangkan rasa sakit hatinya.
Selamat tinggal terpuruk
Pahitmu cukup tuk kurasa
Indahmu cukup tuk kucinta
Wahai rasa...
Aku yang menciptakanmu
Maka aku pula yang akan membunuhmu
Wahai cinta...
Datanglah lain waktu
Bukan hari ini, bukan kali ini
__ADS_1