
Kilauan sinar mentari mulai menampakkan cahayanya yang mulai cerah. Kamar Naisha yang tertutup tirai pun tidak luput dari kilauan yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamarnya.
"Ka ... bangun! Lo nggak pulang, Ka...." Naisha mengguncang tubuh Mika untuk membangunkannya. "Beneran lo nggak mau pulang ke rumah, Ka...." tambahnya lagi.
Mika hanya menggeliat kecil dan menarik selimut menutupi wajahnya. Naisha menggeleng-gelengkan kepala melihat perilaku Mika yang sulit bangun pagi.
"Liat aja kalo lo masih bisa tidur nggak?" gumam Naisha seraya membuka tirai dan pintu teras di depan kamarnya.
Sekejap, pancaran cahaya itu pun menyinari tepat di wajah cewek yang terlelap tidur. Kedua matanya sedikit silau terkena serangan sinar matahari itu akhirnya membuka secara perlahan. Mulutnya menguap beberapa kali. Mika akhirnya bangkit dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
***
Hari masih pagi. Jam dinding di ruang tamu Mika menunjukkan pukul 8 pagi. Mika sudah selesai bersiap-siap ke kampus beberapa menit yang lalu. Namun, langkahnya terhenti saat melewati pintu rumah melihat Mamanya muncul dari luar rumah.
"Mama habis dari mana? Baru pulang kerja, ya?" tanya Mika.
Sekar hanya bergumam.
Mika berbalik arah dan mengekori Mamanya. "Ma, ayo makan! Nanti aku masakin loh," tawar Mika.
"..."
“Ma..." rengek Mika seraya bergelayut di tangan Mamanya.
“Lepaskan! Mama capek! Sana kamu makan sendiri aja. Mama mau istirahat!" sergah Sekar sangat sukses membuat tangan Mika lemas hingga melepaskan penggangannya. Sekedip kemudian Mamanya pun pergi ke kamarnya.
"Sampai kapan Mama mau kayak gini?" lirih Mika seraya menitihkan air mata.
***
Suasana restoran itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang makan atau sekedar minum di sana. Dua insan itu memilih duduk di tempat yang agak pojok. Mereka berdua telah memesan milk tea dan bebek betutu. Sesaat kemudian, Naisha pun mulai memasukkan sedikit demi sedikit bebek berbumbu itu. Sesekali menambahkan nasi agar lebih mantap.
Tidak lama kemudian, sebuah tangan mengelus puncak kepalanya. Sedikit mengagetkannya dan membuatnya tersedak.
"Eh, ngagetin gue aja. Lo nggak dimakan, Al?" Yah, siapa lagi pemilik tangan itu adalah Alhan.
"Nanti gue makan kok. Lo punya pacar nggak?" tanya Alhan tiba-tiba.
"Ngapain lo tanya soal itu?"
__ADS_1
"Gue cuma berusaha kenal lo lebih jauh lagi," jawab Alhan santai.
"Maksudnya?" Naisha mengernyit bingung.
"Nggak jadi deh. Yuk, kita balik aja."
Sementara di dalam mobil Alhan terasa hening. Naisha dan Alhan sama-sama diam. Naisha yang asyik memainkan ponsel-nya tidak sadar jika sejak tadi ia diperhatikan dengan penuh arti oleh Alhan. Sebisa mungkin Alhan menyusun kalimat yang akan dilontarkan pada Naisha. Tapi, lidahnya terasa kelu.
"Udah sampai, Nai," ujar Alhan membuyarkan lamunan Naisha.
"Thanks, Al. Udah ngajak gue jalan-jalan sama traktir makan."
Tanpa menunggu jawaban dari Alhan, ia mengambil langkah seribu untuk masuk ke dalam rumahnya. Sampai ke kamarnya, matanya perlahan terpejam karena sedari tadi menahan kantuk. Naisha tertidur dengan memeluk boneka kesayangannya. Hingga ia tidak sadar, ponsel yang tadi dimainkannya di mobil Alhan sudah tidak digenggamnya lagi.
***
Alhan bimbang untuk menyetuh ponsel yang sekarang tergolek di kasurnya. Berulang kali ponsel itu selalu berdering. Akhirnya, Alhan memutuskan untuk mengangkat telefon dari Mika.
"Halo, Nai? Lo ada dimana?"
Alhan masih bungkam. Mendadak timbul ide jail yang muncul di otaknya.
"Loh, Om, siapa?"
"Saya kekasih yang punya hp ini. Siapa kamu?"
Tidak ada sahutan dari seberang sana. Hanya terdengar suara kekehan dari Alhan yang tidak bisa ditahan lagi.
"Alhan!!"
"Hehehe... Kok bisa tau ini gue?" tanyanya polos.
"Ya, iyalah. Gue itu hafal suara sahabat-sahabat gue. Sekarang mana anaknya? Kok hp-nya lo yang angkat? Lo apain Naisha? Awas lo macem-macem!"
"Aduh! Tanyanya satu-satu dong. Naisha abis jalan sama gue sekarang udah ada di rumah dengan kondisi selamat. Gue aja baru tau hpnya ketinggalan di dasboard mobil gue pas sampai rumah. Pengin sih gue balikin, tapi gue capek. Ada yang bisa saya jawab lagi, Mbak?" kelakar Alhan.
"Eh, bentar deh. Tadi lo bilang abis jalan sama Naisha itu dalam rangka apa? Kok Naisha nggak ngajak gue sih!"
"Ada deh..."
__ADS_1
"Ish, pelit!"
"Udah dulu, ya? Baterainya mau habis nih," ujar Alhan.
"Yaudah, Al. Gue tidur dulu. Bye...." Mika memutus telefon seketika.
Cewek di seberang sana itu merasakan letupan-letupan panas di dadanya kala mendengar jika seseorang yang ia cinta malah pergi dengan orang selain dirinya.
Riuh gemuruh rasa memenuhi rongga-rongga
Kala secuil laku membeku
Gurau senda lesap terbawa ego
Seakan menjadi saksi luapan terpendam
Bermanja dalam kata
Waktu bersama tak mampu mengurai
Segala duka kini menekan
Memaksa sesak menyeruak
Perlahan rindu menyusup
Rasakan debar sepanjang hening
Cemburu tak terucap menyambar
Cengkrama pun jadi serasa hambar
Mengapa terjadi?
Hilang ceria saat bersama
Masihkah percaya?
Cemburu memporak-porandakan cinta
__ADS_1