Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 11 - Pahitnya Kebenaran


__ADS_3

Mobil Feera, teman sekelas Mika meninggalkan dirinya yang masih memperhatikannya. Kakinya baru melangkah saat mobil Feera sudah tidak terlihat lagi. Akhirnya Mika kesepian lagi. Rumah sebesar itu tidak seperti dulu lagi saat masih ada Papanya. Mika berjalan loyo ke dalam rumahnya. Tidak ada siapa-siapa, seperti biasanya membuat dirinya bad mood.


"Hah...." Mika menumbangkan tubuhnya ke kursi gantung. Tangannya mengambil sebuah novel yang tergeletak di atas meja dan membaca khusyuk.


"Non...." panggil Mbok Inah lirih hampir tidak terdengar.


"Iya Mbok. Ada apa?" Mata Mika berbinar-binar melihat kedatangan Mbom Inah. Artinya, dirinya tidak akan kesepian lagi jika sudah ditemani Mbok Inah.


"Mbok harus pergi, Non...." Mbok Inah mendekat ke arah Mika.


"Mau pulang, ya? Tapi, jangan lama-lama Mbok. Aku butuh Mbok...." Mika memeluk erat Mbok Inah.


Mbok Inah mengelus puncak kepala Mika dengan halus. Mika pun merasakan kehangatan seorang ibu yang tidak pernah didapatkannya lagi. "Mbok mau pulang ke kampung selamanya, Non. Anak Mbok sering sakit dan nggak bisa Mbok tinggalin. Maaf ya, Non," jelas Mbok Inah parau.


"Mbok ... kalo pergi terus aku sama siapa di sini?" Mika mulai sesenggukan.


Beberapa saat, mereka larut dalam pelukan perpisahan. Mika masih merasa tidak percaya jika secepat ini Mbok Inah akan meninggalkan dirinya selamanya dengan keadaan seperti ini.


***


Mika melangkah ke dapur untuk memasak, karena perutnya sejak tadi meronta kelaparan. Mbok Inah sudah menyiapkan macam-macam sayuran dan ikan agar Mika tidak kesusahan jika ingin makan. Meskipun, Mika tidak pandai masak, tapi keadaan memaksa Mika untuk lebih mandiri.


Mika bingung harus memasak apa. Kemudian ia memutuskan membuka ponselnya mencari resep makanan yang tidak perlu lama untuk membuatnya. Akhirnya, pilihan Mika jatuh pada nasi goreng ampela.


Ia menumis bumbu-bumbu itu terlebih dahulu. Aroma yang lembut, lalu perlahan berkembang menjadi kuat dan menyengat. Kemudian, ampela yang tadi dimasak sebentar dimasukkan kembali ke dalam wajan, tapi kali ini ditambahkan campuran rempah. Mika mulai mengaduk-aduk ampela itu.


Perubahan gradasi warna daging yang mulai menyerap unsur-unsur bumbu dan rempah tersebut. Ia memasukkan nasi putih pada ampela itu. Tidak sampai di situ, ia menambahkan rempah-rempah lagi. Tidak tertinggal ia campurkan kecap manis dan kembali mengaduknya. Lalu, Mika menghidangkan nasi goreng ampela di atas piring keramik itu.


"Mama!" jerit Mika saat baru saja meletakkan piring itu di meja makan.


Mika dan Mama Sekar masih terkesiap karena keduanya bertemu, tidak seperti biasanya yang hanya sekedar berpapasan. Sekar sebelumnya ingin mengambil minum di kulkas, akhirnya mengurungkan niatnya dan keluar dari dapur tanpa mengucapkan apapun.


Mika selalu merasa diabaikan oleh Mamanya, ia tergerak untuk mengejar Sekar. Kali ini, ia harus meminta penjelasan yang sangat jelas dari sikap cuek Mamanya selama ini.


"Ma...." panggil Mika sembari mendekati Sekar yang kini tengah duduk di meja makan.


Mamanya melongok tanpa menyahuti panggilan Mika. Tapi, Mika mengartikan hal itu sebagai isyarat jika Sekar masih mengizinkannya untuk bercakap.


"Mama mau makan nasi goreng?" Kali ini Mika sudah duduk di hadapan Mamanya.


Mama Sekar menggeleng-geleng mantap. Ia tetap fokus pada aktivitasnya sekarang yaitu melepaskan blazer yang cukup membuatnya kegerahan. Sekar sama sekali tidak mengindahkan Mika yang terlihat sedih.


"Aku yang masak loh, Ma," ujar Mika semangat.


"..."


"Mama dengerin aku nggak, sih?"

__ADS_1


"Mama capek, mau tidur!" Mama Sekar bangkit dari tempat duduknya.


Dada Mika saat ini berguncang hebat. Wajahnya mulai memanas. "Mama!" jeritnya.


Mama Sekar menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Mika. Mamanya memberi dirinya kesempatan untuk bercakap, meski tidak akan diacuhkannya lagi. Lagi. Dan lagi.


"Kenapa dari dulu Mama nggak pernah penduli sama aku? Kenapa Mama sepertinya nggak pernah meganggap aku ada di rumah ini? Sebenarnya aku anak Mama bukan sih!!" Mika berusaha semaksimal mungkin agar air matanya menetes di depan Mamanya. "Ini udah bertahun-tahun Mama acuhin aku. Anak-anak lainnya selalu dimanja sama Mamanya, sedangkan aku? Aku iri sama mereka, Ma!! Aku itu butuh disayang Mama, bukan disodori materi! Aku sering kesepian di rumah ini...." Mika mulai sesenggukan.


Mama Sekar masih mematung. Namun, pancaran matanya tetap memperhatikan Mika yang kini larut dalam hujan sendunya. Mamanya mendesah, kemudian berlalu meninggalkan Mika.


Mika menggigit bibirnya melihat Mamanya yang berjalan menuju kamar tanpa merespon perkataannya. Air matanya sudah meleleh deras dari kedua kelopak matanya. Diambilnya ponsel yang berada kantong di jumpsuit-nya. Ia mencari nomor yang ingin ditelefonnya. Naisha. Ya, ia memerlukan Naisha untuk tempat berbagi.


Nomor yang Anda tuju sedang di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.


"Gue butuh lo, Nai..." lirih Mika.


Naisha tidak pernah meninggalkan ponselnya, bahkan ke kamar mandi pun ia bawa. Katanya, Naisha tidak ingin mengecewakan orang-orang yang menghubunginya. Apa alasan yang kenapa Naisha tidak menerima panggilannya? Satu jam sudah berlalu, namun Mika belum bisa menghubungi sahabatnya itu.


***


"Tadi ada temen kamu ke sini," ujar Mama Sekar tanpa melirik ke arah Mika yang baru saja datang.


Mika tidak menyahutinya. Ia masih tercengang karena Mama Sekar bercakap padanya. Mika mendekat dengan hati-hati tempat Mamanya yang tengah membaca majalah di ruang tamu.


"Siapa, Ma?"


"Naisha."


"Ma, tunggu!" Mika dengan cepat memanggil Mamanya.


"Kenapa?"


"Mama ... masih marah sama aku?" tanya Mika lirih.


"Kamu nggak perlu tahu." Mama Sekar berbalik arah dan berlalu menuju ke kamarnya.


"Mama tunggu!" Mika melangkah ke arah Mamanya.


Kini mereka berdiri membatu selama beberapa detik larut dalam kebisuan. Jarak mereka tidak lebih dari satu meter. Baru saat ini Mika berada sedekat itu dengan Mama Sekar. Terlihat kerutan di wajah Mamanya, namun tidak mengurangi kadar kecantikannya. Mika kini semakin menyadari ada sebuah kesedihan terlukis dalam sorot matanya yang tengah menatapnya.


"Aku ini sebenarnya penting nggak sih buat Mama?" Bibir Mika mulai bergetar.


"Buat apa kamu tanya hal itu?"


Sekar mengusap wajahnya gusar, kemudian membuang napas. Ia muak. Muak dengan keadaan yang sekarang menghimpitnya untuk menjawab pertanyaan Mika.


"Mendingan kamu masuk kamar dan jangan pernah tanyakan hal itu lagi!" tegas Mama Sekar.

__ADS_1


Mika menggenggam kuat tangan Mamanya. "Kenapa sih Ma? Mama udah nggak sayang lagi sama aku? Jangan jadiin aku musuh! Aku itu anak Mama ... Apa ada yang Mama sembunyiin dari aku?" Raut Mika mulai berubah sendu.


Mamanya menampik tangan Mika yang tengah memegang lengannya. "Kamu bukan anak Mama, Mika. Bukan anak Mama!!"


Kalimat itu bagai pedang yang menikam tubuhnya. "Mama bilang apa?" Sebenarnya Mika tidak mampu ia tanyakan, namun entah kenapa pertanyaannya itu spontan meluncur dari mulutnya.


Mama Sekar tidak mengacuhkan pertanyaan Mika. Ia melangkahkan kakinya ke luar rumah dan pergi. Deru mesin mobil Sekar sudah menjauh, hingga Mika tidak mendengarnya lagi.


Mika masih mematung di tempat, tidak sanggup bergerak sedikit pun. Lututnya melemas, badannya bergetar, dan keringat dingin mulai membasahi keningnya. Hujan air mata telah berjatuhan sejak tadi karena dirinya sudah tidak bisa membendungnya. Mika merosot terduduk di lantai yang dingin. Meringkuk dan menumpahkan gerimis air matanya di sana sendirian. Tanpa ada siapa pun.


***


Naisha membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Menghilangkan kepenatan yang akhir-akhir ini ia rasakan dari persiapan menuju hari sakralnya hingga Mika yang menjauh darinya dan terasa berbeda. Sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatnya itu sehingga dia menjaga jarak dengannya?


"Nai ... Udah tidur?" Bunda Hazlinda memanggil Naisha dari balik pintu.


"Masuk aja, Bun. Nggak dikunci." Naisha membereskan tempat tidurnya yang berantakan.


Wajah Bunda Hazlinda tertentang dari balik pintu. Di tangannya sudah membawa sebuah nampan yang berisi keripik dan segelas susu. Naisha segera bangkit untuk membantu Bundanya yang kesusahan membawanya.


"Bunda kok repot-repot gini sih?" Naisha mengambil alih nampan yang tengah dipegang Bunda Hazlinda, kemudian meletakkannya di meja samping tempat tidurnya.


"Kamu kenapa, Sayang? Dari tadi nggak keluar kamar. Ayo dimakan dulu," ujar Bunda lembut.


"Aku nggak papa. Bunda nggak perlu khawatir." Naisha duduk berdampingan dengan Bunda Hazlinda di pinggir tempat tidur. "Oh iya. Ayah mana, Bun?" Naisha mengalihkan pembicaraan.


"Ayah lagi di kantor, Sayang. Kayaknya harus lembur."


"Lembur lagi? Kenapa sih Ayah sering lembur? Bunda nggak berantem sama Ayah, 'kan?" selidik Naisha.


Bunda Hazlinda tersenyum sembari mengelus rambut putrinya dengan lembut dan kasih sayang. "Kamu jangan mikir macem-macem. Ayah sama Bunda baik-baik aja cuma Ayah lagi ada proyek baru jadi agak sibuk. Ini semua demi kamu, Sayang. Gimana kuliahnya lancar?"


"Ya, Ma. Lancar kok. Emm... Ma, aku boleh nggak nanya sesuatu?"


"Apa, Sayang?"


"Kalo semisalnya...." Naisha berhenti sesaat, ia mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Semisalnya aku suatu saat nanti ngecewain Bunda. Apa Bunda masih sayang sama aku?"


Kening Bunda Hazlinda mengkerut mendengar pertanyaan Naisha. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud itu. "Bunda nggak ngerti maksud kamu itu apa?"


"Naisha cuma takut suatu saat Bunda kecewa dengan aku."


"Bunda masih nggak ngerti, tapi apa sih yang kamu lakuin sampai Bunda kecewa sama kamu? Dengerin ya Nai, kamu itu anak yang Bunda sama Ayah cintai. Berkat kamu, kami nggak jadi pisah. Gimana pun kamu, Mama sangat mencintaimu. Kamu adalah anugerah yang terindah buat Bunda." Dipeluknya Naisha yang matanya mulai meneteskan cairan bening, begitu pun dirinya yang telah berderai air mata.


Entahlah, suatu saat nanti pasti aku ngecewain Bunda...


"Udahlah jangan cengeng gini. Dimakan dulu, Sayang." Bunda Hazlinda melepas pelukannya dan menghapus air mata Naisha.

__ADS_1


Malam itu, Naisha dapat melupakan kerisauan berkat Bundanya. Segala topik dan candaan tidak lepas dari pembicaraan mereka kala itu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mau tidak mau, akhirnya Bunda Hazlinda tidur di kamar putrinya. Itu karena permintaan Naisha yang ingin bermanja ria dengan Bundanya. Jadilah malam itu tidaknada kerisauan bagi Naisha. Pikirnya terasa fresh.



__ADS_2