
Hoek....Hoek....
Melur terjaga kala mendengar seseorang muntah, ia mengerjap matanya beberapa kali dan melihat suaminya tidak ada lagi di sampingnya, ia langsung turun berjalan ke kamar mandi.
"Mas.... Kamu kenapa?" Kata Melur melihat wajah suaminya sangat pucat, ia begitu lemah. Ia membantu suaminya untuk berjalan ke tempat tidur.
"Mas berbaring saja dulu,"
Melur mengambil bantal untuk menyangga punggung Firdaus.
"Tolong ambilkan obat magh di bawah laci itu?" Kata Firdaus menunjukkan laci paling bawah, Melur langsung mengambil nya lalu memberikan pada Firdaus.
Melur mengambil air di samping nakas dan memberikannya pada Firdaus, setelah meminum obat firdaus kembali beristirahat. Melur melirik jam menuju pukul 02:00 pagi, ia berjalan ke kamar mandi setelah menyelimuti Firdaus untuk mengambil air wudhu untuk shalat tahajud.
Ia meninggalkan Firdaus sebentar untuk shalat karena mukena ada di kamar sebelah, sedangkan Firdaus sudah terlelap kembali.
______________&&&&&&&&&&______________
Suara ayam berkokok mulai terdengar, Firdaus bangun jam 05:00 pagi. Keadaannya membaik setelah minum obat tadi malam, Melur masih tidur di sampingnya. Firdaus hanya tersenyum melihat istrinya tidur, ia beranjak ke kamar mandi untuk menunaikan kewajibannya.
__ADS_1
Seusai shalat subuh, sambil menunggu sang fajar terbit. Firdaus membaca Alqur'an melanjutkan Juzz yang belum di baca, ia sangat suka duduk di balkon kamar, bisa menatap mentari langsung.
Cahaya lampu masih terlihat di sekitar apartemennya, bangunan-bangunan menjulang tinggi membuat keindahan kota Jakarta semakin indah. Melur bangun, ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dan menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Mas, ini tehnya," kata Melur memberikan teh pada suaminya, firdaus yang batu saja selesai membaca Alqur'an mengambil teh di tangan istrinya.
"Maaf ya, tadi mas shalat duluan tanpa kamu," kata Firdaus.
"Tidak apa-apa, apa mas sudah baikan" tanya Melur menatap suaminya. Mereka duduk di sofa, udara pagi sangat dingin membuat mereka kembali masuk yang dari tadi berdiri di balkon
"Alhamdulillah, sudah sayang!" Kata Firdaus meminum secangkir teh buatan Melur. Kulkas masih kosong melompong, mereka belum sempat belanja karena terlalu sibuk dengan pertengkaran kecil-kecil.
"Ayo, sebentar Mas ambil jaket dulu di kamar," kata Firdaus berlalu ke kamarnya mengambil jaket lalu memakainya.
Sedangkan Melur mengganti pakaian dengan gamis tunik dan lejing di dalamnya berwarna hitam, tak lupa tas selempang ikut menemaninya meskipun tasnya kosong.
"Ayo, Berangkat Mas," ujar Melur keluar dari kamarnya, sesaat ia terpana dengan penampilan istrinya. Pasangannya fokus pada bibir tipis ranum milik istrinya, jika lelakinya bangkit seketika.
"Astaghfirullah...kuatkan imammu Fit," Batin Firdaus berkata.
__ADS_1
"Mas, Kok bengong?" tanya Melur.
"Ah, tidak. Boleh Mas katakan sesuatu?" tanya Firdaus tersenyum menggapit pinggang istrinya membuat Melur tak bisa mengelak.
Cup......
Ciuman mendarat di bibir ranum milik Melur, Firdaus kembali manatap istrinya tersengat bagai listrik.
"Dasar Mas Fir, mesum!" Melur mendorong suaminya pura-pura ngambek padahal hatinya berdegup kencang tak karuan, ia membuka pintu apartemen lalu terus berjalan menuju lift.
"Sayang.... Tunggu...! Mas minta maaf," kata Firdaus menarik tangan Melur yang hendak memasuki lift, Melur tetap ngambek.
"Mas minta maaf," kata Firdaus.
"Baik, aku akan maafkan Mas tapi mas harus ajak aku jalan-jalan hari ini," kata Melur menatap suaminya dengan wajah cemberut membuat Firdaus gemas.
"Baiklah, mas akan bawa kamu ke tempat yang sangat indah tapi sebelumnya kita makan dulu," kata Firdaus.
Melur hanya mengangguk, lalu mereka masuk ke dalam lift untuk turun ke bawah. Perasaan yang hambar kini mulai tumbuh percikan cinta, entah rasa itu hanya sekadar iba ataupun atas dasar nama cinta.
__ADS_1