
Mika masih betah duduk di kerangka jendelanya sembari menggenggam buku diary-nya. Matanya menerawang jauh ke angkasa. Sejak tadi ponselnya bergetar sebab ada telefon dari Naisha. Ia berusar tidak mengacuhkannya karena tidak ingin mengingat lagi kedekatannya bersama Alhan yang membakar hatinya. Mika benar-benar cemburu dan melupakan jika orang yang dicemburui itu adalah sahabatnya.
Naisha ... lo emang sahabat gue yang paling baik sedunia. Kenapa hati ini nggak bisa bohong kalo gue cemburu sama lo yang sering bareng sama Alhan? Nai ... andai gue bisa bilang kalo gue....
Mika tidak melanjutkan tulisannya yang sempat terhenti. Ia sedikit meremas kertas diary-nya kemudian membuangnya. Ia duduk bertekuk lutut seraya menahan air mata. Beberapa detik kemudian, sebuah telefon dari Naisha mengejutkannya. Mau tak mau kali ini ia mengangkatnya.
“Hallo, Nai. Kenapa?”
“Lo dimana? Gue mau ajak lo ke caffe tempat kita dulu biasa nongkrong bareng. Gue tunggu jangan kelamaan.”
“Gue di rumah kayak biasanya. Dalam rangka apa nih? Tumben biasanya sibuk banget sama doi."
“Ouhh ... sewot amat sih Neng.”
“Udah ya, gue mau siap-siap. Dasar bucin!”
Mika mematikan teleponnya secara sepihak. Ia langsung bersiap-siap untuk menemui Naisha sahabatnya yang satu ini dengan perasaan bahagia. Mika berharap ini awal untuk merekatkan hubungan mereka kembali seperti dulu lagi. Memang benar selama ini meraka hanya sebatas sahabat, namun Mika sudah menganggap Naisha seperti keluarganya.
Dilihatnya cermin kali ini Mika hanya memakai oversized sweater dan jeans. Kakinya melangkah ke luar rumah untuk melajukan mobil. Semoga saja tali persahabatan kembali dan dirinya bisa selamanya bersama Naisha seperti dahulu.
***
"Makasih lo udah mau dateng," ujar Naisha tersenyum.
"Ngapain lo ngajak gue ke sini?" Mata Mika mulai mengedarkan mencari sosok cowok itu, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan di sekitarnya.
Sesaat kemudian, pelayan resto cafe datang membawa daftar menu makanan yang akan dipesan. Naisha mengambilnga dam mulai memilih-milih menu di sore ini.
"French fries sama minumnya milkshake cokelat. Kalo lo, Ka?"
"Sama kayak lo aja."
__ADS_1
Pelayan resto itu pun berlalu sesudah menulis pesawat mereka berdua. Mika masih memperhatikan Naisha yang tidak kunjung membuka suara.
Mika membuka keheningan saat melihat Naisha yang bungkam dan sesekali melihatnya membuat dirinya penasaran. "Jadi ada hal penting apa yang mau lo omongin sampai lo yang biasanya sibuk sama dia rela ke sini?" Mika menekankan kata 'dia'.
"Gue mau ngasih ini dan gue harap lo datang," tutur Naisha mengeluarkan sesuatu dari tas.
Cewek yang di hadapannya menyodorkan sebuah kertas berwarna pink dengan hiasan-hiasan khas undangan pernikahan yang terdapat gambar dua kupu-kupu di pinggir kotak putih bertinta yang betuliskan 'Adzin Farzan Alhanan & Farheen Laiba Naisha'. Arti dari dua kupu-kupu itu adalah dua orang sepasang kekasih.
Mika mengerutkan dahi, detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Rasanya ia ingin mengeluarkan cairan hangat di sudut bola matanya sekarang juga. Perih itulah yang kini di rasakannya, bertahun lamanya ia memendam perasaannya dan kini orang yang dicintainya akan menikah dengan orang lain? Pernahkah kalian merasakan ini?
"Lo serius mau nikah? Ini nikah loh, Nai!!" tanya Mika.
"Ya, seriuslah. Coba lo lihat ini cincin dari Alhan loh cantik, 'kan? Gue juga nggak nyangka bakalan secepat ini hehehe....” Naisha memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Selamat ya, semoga kalian bisa bahagia." Mika mencengkeram sweaternya kala mengatakannya.
"Eh, iya kenapa lo kayak jauhin gue? Apa gue punya salah sama lo? What's wrong?"
"Nggak! Gue cuma pengin sendiri aja, Nai."
"Lo nggak perlu tau. Dan nggak usah tau apa pun yang gue rasain!"
Mika berlalu meninggalkan Naisha yang mematung tanpa membiarkan sahabatnya itu membalas perkataannya. Naisha semakin tidak mengerti dengan sikap Mika. Sebenarnya ada apa dengan Mika? Lagi-lagi pertanyaan itu kembali muncul benaknya.
Aku tak tahu sampai kapan
rasa ini terus tumbuh di dalam dada
rasa yang begitu bergemuruh
rasa yang begitu indah
__ADS_1
yang membuatku
selalu tersenyum sendiri
memeluk sepi
setiap malam
Bayangmu,
selalu hadir
saat hari beranjak gelap
Bersama dengan rindu
yang datang menyergap
bagai hawa dingin kala subuh
Kepadamu dambaan hati
cinta ini adalah cinta yang sepi
cinta yang bisu
yang tak sanggup kusampaikan kepadamu
Entah
sampai
__ADS_1
kapan...