
Di rumah sakit, dia duduk melamun di ruangannya. Dia masih teringat pertemuannya dengan Firdaus dan istrinya tadi pagi, ia mengecek ponsel berharap Firdaus akan membalas pesannya tapi sudah satu jam menunggu pesan itu tak kunjung di balas.
Melur keluar dari ruangannya setelah mengecek pasiennya di kamar anak-anak, kini ia berjalan ke kantin dan tak sengaja berpapasan dengan dokter Zaki.
"Zaki...!" Panggil Naya.
"Ya, Ada apa Nay?" tanya Zaki kebetulan perpapasan ingin ke kantin juga.
"Boleh aku meminta nomor Firdaus?" tanya Naya terlihat canggung, Zaki menatap Naya lekat-lekat.
"Maaf Nay, saya gak bisa karena itu adalah privasi orang lagian saya heran sama kamu, kamu sudah memiliki Arkhan lalu kenapa kamu terus menanyakan Firdaus," Heran Zaki menatap Naya.
"Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Firdaus ternyata dia sudah pulang dari khairo," kata Naya datar, menatap Zaki dengan penuh iba berharap Zaki akan menolongnya dengan memberikan nomor Zaki.
"Lalu, apa kau ingin kembali dengannya! Sebaiknya kau perbaiki saja hubungan rumah tangga kamu Nay," kata Zaki mengingatkan Naya karena gosip sering terdengar jika Naya dan Arkhan akan berpisah tapi sampai sekarang merekaasih tetap bersama.
______________&&&&&&&_____________
"Jadi Mbak Naya itu mantan pacar, Mas?" Kata Melur setelah mendengarkan cerita Firdaus meskipun tak bisa di pungkiri hatinya merasa sakit saat ia mendengar cerita suaminya.
__ADS_1
"Bukan pacar lebih tepatnya hanya teman, apa istriku ini mulai cemburu," goda Firdaus mencubit pipi istrinya.
"Ih...Mas sakit tahu!" Kata Melur memanyunkan bibirnya yang ranum membuat gairah Firdaus bangkit.
Firdaus terus menatap istrinya yang tersenyum, mereka duduk berdampingan. Melur merebahkan kepalanya di pundak Firdaus dengan kaki di julurkan ke bawah. Sudah tiga jam mereka disana tapi tak membuat Melur bosan, ia masih ingin berada di tempat yang indah yang bebas dari populasi.
"Mas, Melur lapar?" Kata Melur.
"Sebentar, Mas ambil makanan dulu?" Kata Firdaus mengambil beberapa makanan yang bisa mengganjal perutnya.
"Setelah makan kita pulang ya!" Pinta Firdaus memberikan kantong kresek pada Melur, ia pun mengambilnya memakan roti.
"Ngak ahh, aku masih betah disini," kata Melur.
"Baiklah, kita akan pulang tapi Mas harus janji kita datang kesini lagi bila perlu kita camping disini ya," kata Melur dengan semangat.
Selesai menikmati pemandangan indah pantai, mereka berdua kembali ke mobil. Ia mereka pulang lebih cepat karena tidak ingi kemalam di jalan, apalagi besok ia mulai turun langsung ke resort yang sudah di percayakan selama 5 tahun pada sahabat sekaligus sepupu dari pihak ibunya.
Hari ini mereka menghabiskan waktu bersama, rasa canggung mulai terkikis pelan-pelan hati Melur membuat Firdaus merasa bahagia.
__ADS_1
Mentari mulai terbenam, senja mulai menjelang dan hilang di gantikan oleh bulan bintang yang kembali bersinar.
Mereka sampai di apartemen jam 7 malam, Melur bangun di saat mobil berhenti di pelataran apartemen. Ia membuka mata lalu melihat suaminya berada di samping.
"Maaf Mas, aku ketiduran," kata Melur.
Sebelum pulang mereka mampir di cafe untuk makan karena perut yang terasa lapar lalu pulang ke apartemen untuk istirahat. Mereka berjalan masuk lalu menaiki lift sesuai lantai apartemen mereka di lantai 5.
Ceklek....
Firdaus membuka pintu lalu menghidupkan lampu ruang tamu. Melur berjalan ke kamarnya untuk membersihkan tubuh yang lengket begitu juga dengan Firdaus.
"Mas mau minum kopi?" tanya Melur.
"Nanti saja sayang, Mas mau mandi dulu," kata Firdaus masuk ke kamarnya, Melur hanya mengangguk dan masuk ke kamarnya.
Setelah keduanya menyegarkan tubuh dengan rambut basah begitu juga dengan Melur, ia memakai daster dengan lengan sedikit pendek dengan motif bunga kecil-kecil membuat dia terlihat seksi.
Firdaus yang baru saja keluar kamar memeluknya dari belakang yang sedang membuat kopi untuk mereka berdua,Melur kaget hampir saja membuat air kopinya tumpah.
__ADS_1
"Maaf sayang, Mas gak tahu kalau kamu lagi bikinin kopi," kata Firdaus merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Mas? Lagian kopinya gak tumpah kok, ini kopi buat Mas," kata Melur memberikan segelas kopi untuk suaminya.