
Mereka turun ke bawah menuju cafe, terlihat Zaki, Nisa dan Meera ada disana. Melur mencolek suaminya lalu menunjukkan mereka sedang duduk di meja paling pojok.
"Mas, mereka disana? Kita makan bersama mereka,"
"Baiklah," kata Firdaus.
Sepasang suami istri itu menghampiri mereka bertiga sehingga Meera hanya bisa jadi nyamuk di antara mereka sedangkan Anisa lebih dekat dengan Zaki, mereka sering berbicara meskipun Nisa banyak diam.
"Wah, pengantin baru sudah baikan Nih?" Kata Meera bar-bar, Nisa melihat kearahnha menginjak kaki Meera di bawah.
"Jangan buat suasana semakin buruk, lihatlah wajah Melur kembali kusut," bisik Nisa di telinga sahabatnya.
"Gue lupa, tapi kenapa loe injak kaki gue," kata Meera meringis kesakitan.
"Kalian kenapa? Kok bisik-bisik?" tanya Melur duduk di samping suaminya.
"Gak bestie, gue cuma bilang cuma bisa jadi nyamuk di antara kalian," Meera kembali membuat ulah sehingga Nisa ingin sekali menjitak kepalanya.
"Apa Nisa sama Zaki, kalian...!"
Melur menatap keduanya, Nisa hanya diam seakan meminta Zaki untuk memberikan jawaban pada Melur.
"Gak kok, kami lagi pendekatan mana tahu secepatnya ke pelaminan," kata Zaki membuat Nisa kembali terkejut, bukan jawaban seperti itu yang ingin di dengarkan oleh Nisa.
"Wah, bagus kalau begitu. Lebih cepat lebih baik," kata Melur antusias.
Firdaus hanya diam melihat istrinya kembali tersenyum, meski tadi pagi mereka sempat terjadi cekcok.
__ADS_1
"Tinggal Meera yang belum?" Kata Firdaus.
Semua menatap ke Meera, ia merasa terpojok di lihat sepeti itu. Seakan dia adalah buronan.
"Kalian kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Meera risih.
"Gak sih, kita heran aja kok bestie gue yang satu ini betah ya jadi jombloe akut," kata Melur menjahili Meera.
"Wah, gue bukan jombloe tapi belum ketemu aja yang cocok sama kiteria gue apalagi gue penampilan seperti ini," kata Meera menyayangkan penampilannya yang tomboi jauh sekali dengan Melur dan Nisa.
Hahahaha.....
Mereka tertawa bersama melihat Meera, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.
"Firdaus....!" Seseorang memanggil Firdaus.
Meera yang sedang menyantap makan malam tak melihat ke arah begitu juga dengan Rafa, Meera yang ingin mengambil meminum tidak sengaja menumpahkan minuman di bajunya Rafa karena kakinya hampir saja terpeleset.
Syur...
"Maaf, Mas. Gue gak....!"
"Loe lagi...loe lagi... Kok gue apes Mulu ketemu sama cewek kayak loe," kata Rafa kesal bajunya basah.
"Apa loe bilang, dengar yang ada gue yang apes ketemu sama cowok tapi mulut kayak ember. Baju murahan aja belagu," sindir Meera.
Firdaus menepuk jidatnya sedangkan Nisa, Melur dan Zaki bingung melihat ke arah mereka.
__ADS_1
"Kalian saling kenal," tanya Melur.
Meera dan Rafa saling menatap lalu kembali membuang wajah masing-masing.
"Gak, mana mungkin gue ketemu cowok seperti dia," kata Meera kesal.
"Gue pun ogah kenal sama cewek kayak loe," Balas Rafa menatap Meera, ia menghempaskan nafas dengan kasar.
Firdaus yang dari tadi menonton pertengkaran mereka angkat bicara, mencoba menengahi sahabatnya dengan teman istrinya.
"Sebaiknya duduk aja dulu, Fa. Semuanya itu bisa di bicarakan secara baik-baik," kata Firdaus mengambil kursi lalu menduduki Rafa di antara mereka.
Semua hanya diam, Wajah Meera semakin kusut. ia terlalu ceroboh sehingga dua kali ia harus bertemu dengan orang yang tidak ingin ia temui.
"Gue ke toilet dulu sebentar," kata Meera bangun, Nisa dan Melur hanya mengangguk membiarkan Meera sendiri. Jika sudah begini, Nisa dan Melur hanya diam. Tidak bisa membujuk untuk moodnya kembali seperti semula.
Bukannya ke toilet, Meera malah keluar dari resort malah berlari ke pantai dengan pencahayaan lampu-lampu di sekitarnya. Dia berdiri di bawah langit malam, bintang dan bulan ikut bersinar.
Deburan ombak dan suara hantaman air laut terdengar jelas di telinga, angin berhembus kencang masuk dalam pori-pori kulit. ia duduk di pinggir pantai di temani sunyinya
malam.
Satu jam sudah dia berada disana, tak ingin beranjak ia masih kesal dengan Rafa. Sedangkan Firdaus dan lainnya baru saja selesai menyantap makanan.
"Kok Meera gak balik-balik ya?" kata Melur khawatir.
"Iya, katanya tadi ke toilet sebentar kok udah sejam gak balik-balik," Nisa ikut menimpalinya, Mereka saling menatap.
__ADS_1
"Biar Gue cariin dia...?"