
"Dari mana kamu, Mas!" seseorang wanita cantik berbalut hijab berdiri melihat suaminya yang baru saja pulang, rambut yang sedikit acak-acakan dan mata lelah seakan enggan menatap lawannya.
"Apa kamu tidak lihat kalau aku baru saja pulang, Hah," ucap Akrhan dengan lantang, seorang publik figur yang sangat di agungkan oleh wanita di sekelilingnya.
"Apa kamu tidak bisa diam saat aku pulang, aku capek jika harus meladeni mu terus," kata Arkhan pada Naya.
Arkhan dan Naya dua orang yang di jodohkan karena ibunya ingin menjadi wanita terpandang. Dengan menikahkannya dengan Arkhan yang bekerja sebagai artis akan menunjang pepolaritas keluarga mereka sehingga mereka tidak akan dipandang sebelah mata.
Gayung pun bersambut, niat mereka di terima baik oleh keluarga Arkhan karena mereka sangat menyukai Naya tapi tidak bagi Arkhan. Dia hanya menikah karena keinginan orang tuanya, pernikahan tanpa cinta membuat mereka sering bertengkar.
3 tahun menikah, mereka belum juga di karunia anak karena Arkhan selalu sibuk bekerja kadang pulang larut malam membuat waktu komunikasi mereka berdua berkurang.
Di sebuah ruangan, dua orang sedang menatap dengan kemarahan masing-masing.
"Mas, aku ini istrimu. Bisakah kamu menghargai aku sedikit saja," kata Naya menatap suaminya, Arkhan berjalan ke arahnya.
"Kamu memang istriku tapi apa guna menjadi istri jika hati kamu milik orang lain, jangan kamu pikir aku bodoh Naya," kata Arkhan dengan kilatan amarah menatap istrinya.
Naya diam, lidahnya kelu saat Arkhan mengantakan itu semua. Dia tidak menyanggah karena apa yang di katakan Arkhan ada benarnya karena sampai saat ini dia masih belum melupakan Firdaus.
________________&&&&&&&&______________
Arkhan pulang selesai magrib, Melur masih meringkuk menangis di pojok tempat tidur. Dia takut jika Firdaus akan meninggalkannya, ia merasa nyaman jika berada di dekat Firdaus meskipun rasa itu belum ada.
__ADS_1
Arkhan membuka pintu apartemen yang tidak di kunci, ia berjalan menuju kamar namun pandangannya mengalihkan pada pintu kamar Melur. Mendengar seseorang menangis, Arkhan langsung masuk lalu mencari sosok Melur yang berada di pojok tempat tidur.
"Sayang, kamu kenapa menangis? Maafkan Mas tadi membentak kamu," kata Firdaus menghapus jejak air mata yang tak mau berhenti, seakan hatinya sangat sakit. Bukannya menjawab Melur menatap Firdaus memeluknya dengan erat. Seakan ia enggan berpisah dengan suaminya walaupun sebentar.
"Jangan pergi lagi, Mas," kata Melur lirih.
Semenjak pertikaian tadi, Melur tidak sama sekali menyantap makanan yang terhidang di atas meja. Ia terus saja menangis menunggu kepulangan suaminya.
"Iya, Mas tidak akan pergi lagi. Tadi mas khilaf, maafin mas sayang," kata Firdaus lagi membawa kepala Melur di dada bidang miliknya, ia membawa Melur untuk duduk di atas ranjang menatap wajah cantik yang sembab dalam remang-remang pencahayaan lampu.
Cup....cup...cup....
Firdaus mendaratkan ciuman dikening Melur, pipi dan terakhir di bibir ranum milik wanitanya. Tidak ada penolakan dari Melur, bibirnya bergetar seakan enggan berkata.
"Aku lapar, Mas!" Kata Melur polos membuat Firdaus menahan untuk tidak tertawa. Ia berpikir kenapa Melur menangis ternyata ia kelaparan.
Kamu lapar, sudah ayo kita makan," kata Firdaus mengajak istrinya untuk makan.
"Tapi makanannya sudah dingin, Mas," keluh Melur.
"Tidak apa-apa, biar mas panaskan," kata Firdaus menggenggam tangannya, lalu mengajak istrinya keluar dari kamar dan mengajak untuk makan malam bersama.
Mereka berjalan ke dapur lalu memanaskan makanan tadi, lalu mereka menyantapnya. Hanya ada mereka di ruang tersebut. Tiba-tiba suara ponsel Melur berbunyi, melihat nomor Umi yang menelepon ia langsung berdiri di samping Firdaus.
__ADS_1
"Assalamualaikum...Umi,"
"Wa'alaikumsalam, apa kabar kamu nak,"
"Baik umi, Abah dan Umi Sehat?" Tanya Melur melakukan panggilan video call.
"Alhamdulillah, umi sehat. Kemana nak Firdaus Melur," kata Umi menanyakan tentang Firdaus.
"Ada di samping Melur, Umi," kata Melur memperlihatkan Firdaus sedang memanaskan makanan tadi siang.
"Melur, jangan menyuruh suami mu untuk memasak tidak baik sayang?" Kata Umi melihat Firdaus sedang memegang wajan.
"Tidak apa-apa, Umi. Firdaus hanya ingin membantu istri Firdaus biar sama-sama dapat pahala," Firdaus beralibi di depan umi Salma hanya ingin menjaga martabat istrinya.
"Ya sudah kalau begitu, umi matikan dulu! Assalamualaikum,"
Tit....
Pembicaraan pun berhenti, Firdaus kembali fokus dengan makanannya. Sementara Melur duduk di kursi.
"Mas, kok mas mau menolongku di depan Umi padahal kan aku gak Masak," kata Melur duduk di kursi.
"Sayang, aku adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagiku jadi tidak ada kata "Kenapa" karena suami adalah pakaian bagi istrinya jadi aku harus setiap saat menjaga mu," kata Firdaus meletakkan makanan yang sudah di panaskan tadi meja makan.
__ADS_1