
Mendapatkan angin segar membuat Firdaus bagaikan memenangkan lotre, tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka larut dalam hasrat yang menggebu, keduanya mulai memercikkan api cinta di bawah redupnya lampu malam.
Pelan-pelan tapi pasti, Athar mulai melakukan kewajibannya sebagai suami. Melur yang notabene baru pertama kali merasa gugup begitu juga dengan Athar,hawa panas mulai terasa meski AC menyala di dalam kamar tapi tetap saja terasa panas, peluh keringat mulai keluar di saat sang Joni menerobos masuk ke sarangnya.
Melur menggenggam seprei kuat-kuat dan menggigit kedua bibirnya agar ia suaranya tidak keluar, Air mata Melur jatuh menahan rasa sakit meskipun setelah itu ia merasa kenik matan yang tiada malam.
Setelah berpetualang sehingga mengeluarkan keringat, Firdaus membaringkan tubuhnya di samping Melur sedangkan ia masih dengan nafas ngos-ngosan. Nafas keduanya masih memburu, ia memejamkan mata.
"Sayang, kenapa kamu diam! Apa kau menyesal?" tanya Firdaus melihat ke arah istrinya yang kini sedang menatapnya.
"Tidak sayang, aku bahagia? Memangnya aku gak boleh memperhatikan suami aku yang tampan ini?" tanya Melur menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal sedangkan di bawah sana sama-sama dalam keadaan tidak ada sehelai pun baju yang melekat.
"Ya sudah, ayo kita tidur," ujar Firdaus memejamkan mata sedangkan Melur memiringkan tubuhnya lalu melingkar tangannya ke pinggang suaminya.
Melur sudah terbawa ke alam mimpi mungkin lelah setelah dua jam bertarung untuk mencapai kenikmatan begitu juga dengan Athar mencoba untuk tidur meski Joni di bawah sana kembali berontak.
_________________&&&&&&__________________
Azan subuh berkumandang, terdengar lantunan Azan begitu merdu jika siapa saja yang mendengarkannya. Firdaus bangun dan merenggangkan otot-ototnya setelah itu menoleh ke arah istrinya yang masih tertidur, ia tersenyum lalu turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Setelah mandi wajib, Firdaus melaksanakan shalat subuh sebagai kewajibannya sebagai umat muslim.
"Sayang, bangun?"
Firdaus membangunkan istrinya setelah ia melakukan shalat subuh, Melur menggeliat lalu bangun dan baru sadar jika tidak ada pakaian di tubuhnya. Ia mencari baju yang dia pakai semalam lalu memakainya.
"Aduh...!" Melur meringis kesakitan saat hendak berjalan karena terasa nyeri setelah pertempuran semalam.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Firdaus saat ia mengaduh sakit di bawah sana.
"Gak papa, sayang! cuma perih sedikit kok?" ujar Melur malu-malu, ia berjala pelan-pelan menahan perih dan ngilu di bawah sana.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Melur.
"Mas cuma bantu kamu ke kamar mandi, atau kamu mau mas mandiin,"
Firdaus menggoda istrinya membuat Melur malu-malu.
"Dasar suami mes*m," ujar Melur.
__ADS_1
"Ya, sudah! kamu mandi dan habis itu sholat, mas keluar dulu," ujar Firdaus menuruni Melur lalu menutup pintu kamar mandi, ia pun melihat tempat tidur yang masih berantakan dan berniat untuk menggantikannya.
ia mengambil selimut lalu melipatnya, Firdaus tersenyum saat melihat bercak darah ada di sprei lalu menggantikannya agar nanti bisa di cuci.
Firdaus membuka lemari, mencari seprei yang baru dan memasang kembali ke tempat tidur, ia mengambil seprei yang kotor lalu masukkan ke keranjang agar nanti bisa di cuci.
"Mas, Lagi ngapain! biar Melur saja yang beresin nanti?" ujar Melur yang baru saja keluar mandi hanya memakai handuk membuat Firdaus kembali menelan ludah saat melihat istrinya hanya memakai handuk.
"Sayang, apa kau ingin menggoda iman suamimu ini?" tanya Firdaus berjalan ke arah Melur, ia yang tidak tahu apa-apa mengerutkan kening tidak mengerti.
Firdaus melepaskan handuk kecil yang di pakaikan di kepalanya lalu baru sadar jika.ia keluar hanya menggunakan handuk saja.
"Mas, Aku mau---!"
Cup....
Firdaus mencium bibir ranum Melur, harum bau sampo menyeruak ke hidung Firdaus membuat ia ingin melakukan lebih tapi ia sadar jika hari sudah pagi, tentu saja orang akan menanyakan jika mereka terlambat turun ke bawah.
"Pakai baju dan setelah itu kita turun!" ujar Firdaus, Melur hanya mengangguk lalu membuka lemarinya.
__ADS_1
"Ck... untung saja aku tidak kebobolan, batin Melur,"