Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 23


__ADS_3

"Aw....!"


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Firdaus melihat Melur meringis kesakitan.


"Kaki ku sakit, Mas," kata Melur.


"Coba Mas lihat, kaki mu berdarah sayang," kata Firdaus melihat telapak kaki Melur yang putih mengeluarkan darah.


"Uhh, sakit Mas," Kata Melur tidak bisa berjalan.


"Sepertinya kaki mu terkenang karang, kita ke mobil saja buat ngobatin luka kaki kamu," kata Firdaus lalu menggendong istrinya agar tidak sakit saat mesjid.


"Mas, apa yang kau lakukan! Aku bisa berjalan Mas," kata Melur kaget melihat Firdaus membopong dirinya ke mobil.


"Sudah, diam. Mas gak mau lukanya semakin besar lagian aku ini suamimu jadi tidak perlu malu jika aku menggendong mu paham," kata Firdaus terus berjalan ke mobil, lalu membuka pintu mobil depan dan menduduki Melur disana.


Ia mengambil air Aqua di jok belakang mobil dan membukanya, membersihkan kaki istrinya yang terkena pasir tadi. Setelah membersihkan kakinya, ia mengambil pasti yang ada di dalam mobil karena ia tidak membawa P3K.


"Untuk sementara pakai ini aja dulu kalau tidak, gimana kalau kita pulang," kata Firdaus mencoba bernegosiasi dengan istrinya.

__ADS_1


"Tidak Mas, aku mau tetap disini? Nanti sore kita pulang ya," pinta Melur dengan manja membuat Firdaus mengangguk.


"Ya sudah, karena kaki kamu sakit. Mas akan gendong kamu menuju suatu tempat, kamu pasti suka," kata Firdaus mengambil sandal milik Istrinya dan kresek hitam lalu menyuruh Melur untuk memegangnya setalah itu baru ia menggendong istrinya.


"Tidak usah, Mas. Aku bisa jalan kok," kata Melur mencoba menolak karena ia tidak enak hati merepotkan suaminya.


"Baiklah kalau begitu," kata firdaus berjalan duluan sementara Melur berjalan tertatih karena kaki sebelahnya sakit.


"Mas jangan cepet-cepet, kaki aku sakit loe," kata Melur memanggil suaminya yang sudah berjalan ke depan.


Merasa kakinya sakit, Melur berhenti sebentar sedangkan Firdaus kembali memutar ke belakang, pelan-pelan ia berdiri tepat di belakang istrinya lalu menggendong istrinya.


"Tapi istriku ini senangkan, di gendong sama suami sendiri," kata Firdaus membopong Melur lalu Melur mengeratkan pegangannya di pundak suaminya.


Melur mengangguk lalu menatap wajah suaminya berjambang tipis dan bermata hazel itu, hidung mancung di hiasi dengan bulu mata hitam dan bibir sedikt tebal menambahkan ketampanan tiada dua.


Ia terus menatap suaminya tanpa sadar jika Firdaus memperhatikannua dari tadi.


"Apa suami mu sangat tampan sehinga kamu terus memperhatikannya," ucapan Firdaus membuat ia sadar karena sudah terlalu lama menatap suaminya, ia mengalihkan pandangan menatap ke arah lain.

__ADS_1


"Mas, apa boleh aku tanya sesuatu?"


tanya Melur.


"Boleh sayang, mau nanyak apa?" tanya Firdaus terus menggendong Melur.


"Ada hubungan apa Mas sama Mbak Naya," tanya melur


"Nanti Mas jelaskan, sebentar lagi kita akan sampai," kata Firdaus.


"Memangnya kita mau ke tempat mana sih, Mas," tanya Melur penasaran.


"Udah sampai kok, tuh!"


Firdaus menunjukkan rumah pohon dengan ekornya, ia pun mengalihkan pandangannya lalu langsung turun melihat rumah pohon. Ia hanya bisa melihat rumah pohon hanya di film tapi kali ini dia melihat langsung rumah pohonnya.


"Mas, Melur mau naik rumah itu boleh?" tanya Melur tersenyum.


"Boleh, ayo kita naik. Dari atas sana kita bisa melihat keindahan laut," kata Firdaus membantu Melur naik ke atas rumah pohon. Dari atas kita bisa melihat leluasa betapa luasnya ciptaan tuhan.

__ADS_1


______________&&&&&&&&&_______________


__ADS_2