
Nai... Kami di sini...
Bayangan kedua orang tuanya terlihat jelas. Nyata. Mendekat ke arah Naisha yang terlihat lemah. Naisha tersenyum, bahagia dan berlari ke arahnya.
Maaf kami udah nggak bisa bersama lagi... Kami cinta kamu, Nai...
Tiba-tiba kedua orang tuanya semakin menjauh, sedangkan Naisha terus belari mengejarnya. Sebisa mungkin ia harus mendapatkan mereka dan tidak akan membiarkan orang yang disayanginya pergi. Namun, bayangan kedua orang tuanya semakin memudar. Sulit bagi Naisha untuk menggapainya.
"AYAH!! BUNDA!!" pekik Naisha tersadar dari mimpi buruk.
Napasnya tersengal-sengal. Keringatnya bercucuran deras dari wajahnya. Kepalanya pening akibat respon dari tubuhnya yang tiba-tiba bangun seketika.
"Non, udah bangun. Badan Non Naisha panas. Non sakit?" tanya Mbok Sari mulai panik.
Naisha masih merintih tak jelas. Badannya panas dan menggigil. "Mbok, bikinin bubur, ya? Aku laper," pintanya.
"Iya, Non." Mbok Sari melangkah ke dapur untuk membuatkan bubur kesukaan Naisha.
Ponsel Naisha yang berdering sama sekali tidak menyita perhatiannya untuk diambil. Badannya meriang dan menggigil, ditambah kepalanya rasanya berputar-putar. Naisha meraih selimut dan meringkuk di dalamnya.
"Non... Ini buburnya. Yuk dimakan dulu?" Mbok Sari datang dengan membawa nampan berisi bubur dan segelas teh hangat.
__ADS_1
"Dingin banget, Mbok..." kesah Naisha seraya mendekap gulingnya.
"Sini, Non. Mbok suapin dulu biar Non punya tenaga. Yuk, Non." Mbok Sari melayangkan suapan pertama yang disambut oleh Naisha.
Suapan demi suapan terasa menyiksa bagi Naisha. Bubur buatan Mbok Sari memang tidak ada tandingnya, tapi kali ini Naisha kehilangan selera makannya. Meskipun sudah beberapa sendok bubur yang masuk dan mendarat ke dalam perutnya. Ia tetap merasa tidak nyaman. Jika dilanjutkan, rasanya ia semakin mual dan ingin muntah.
***
Matahari sudah tepat di atas kepala orang-orang yang beraktivitas. Sinar matahari semakin menyengat kulit. Naisha yang sebelumnya sakit, kini sudah sedikit lebih baik karena perawatan yang dilakukan Mbok Sari. Naisha sangat bersyukur mempunyai Mbok Sari, pembantu yang sudah dianggapnya sebagai nenek sendiri. Memang karena Mbok Sari telah bekerja dengan keluarganya sejak ia berumur 8 tahun.
Naisha terbangun dari tidurnya sejak tadi pagi. Begitu nyenyak, hingga Naisha lupa jika dirinya sedang sakit. Jam menunjukkan pukul 12.03. Perutnya sudah meraung-raung, tapi masih tidak punya tenaga untuk bangun dan memanggil Mbok Sari.
"Makan dulu, Non," ujar Mbok Sari.
"Loh kok bukan bubur, Mbok?" Naisha kecewa dengan sepiring nasi yang dibawa Mbok Sari.
"Kan Non udah baikan. Mbok masakin nasi biar Non cepat sehat sama cepat pulih juga tenaganya. Mbok masak sayur sop juga loh." Mbok Sari menuangkan sayur sop dari mangkok kecil di samping piring. Sontak mata Naisha berbinar-binar melihat sayur kesukaannya. Ia mulai menikmati makan siang yang disajikan Mbok Sari.
"Oh ya, Non nggak ada kuliah hari ini?" tanya Mbok Sari.
"Ada sih, Mbok. Entar jam siang. Bolos sekali-kali juga nggak papa, 'kan? Hehehe..." Naisha terkekeh.
__ADS_1
"Nggak boleh gitu, Non. Dulu Mbok kepengin banget bisa kuliah, tapi kessampaian karena nggak ada biaya. Maklum, Non. Orang tua Mbok itu petani terus ada 2 adik-adik Mbok, ya akhirnya Mbok ngalah. Non itu beruntung loh, bisa sampai kuliah. Jadi jangan pernah sia-siain, Non," jelas Mbok Sari.
Naisha mengangguk-angguk seperti mencerna penuturan Mbok Sari barusan. Mbok Sari kemudian memeluk hangat Naisha. Mereka terhanyut dengan keadaan dalam beberapa saat. Mbok Sari membereskan nampannya lalu bangkit menuju dapur.
Naisha mulai mencari-cari ponsel yang dari tadi pagi tidak dipegangnya. Ternyata tergeletak manis di bawah tempat tidur, pasti semalam ia tidak sengaja menjatuhkannya. Sangat jelas, banyak sekali panggil dan SMS yang masuk. Matanya mendelik saat ada duapuluh panggilan tak terjawab dari Alhan dan enam belas SMS dari Mika.
Naisha geleng-geleng kepala karena Mika berhasil meledakkan ponselnya dengan bermacam pertanyaan. Pasti sahabatnya itu kebingungan karena dirinya tidak terlihat di kampus.
***
Pukul 12 siang ke atas, suasana kampus mulai menjadi sepi. Banyak mahasiswa yang sudah pulang, namun tidak sedikit mahasiswa yang datang karena mata kuliahnya pada siang hari, salah satunya Naisha. Ia datang bersama dengan Alhan yang menjemputnya.
Setelan Alhan memarkir mobil, dari arah belakang mobil muncul mobil Mika. Naisha pun segera menghampiri Mika saat mobilnya berhenti.
"LO KEMANA AJA, NAI!!" pekik Mika kegirangan seraya mendekap erat sahabatnya.
"OY! Kuping gue sakit nih," Naisha menggerutu sembari melepas pelukannya.
Mika akhirnya larut dalam obrolannya dengan Naisha dan melupakan keberadaan Alhan yang berada di samping sahabatnya itu. Alhan pun dibuat heran dengan raut Mika yang terkadang senang, sesaat kemudian murung, dan sesekali melihatnya dengan pandangan tidak suka. Tidak ada pembicaraan antara Alhan dan Mika. Entah kenapa, Alhan mencium gelegat aneh dari Mika. Sepertinya ada sesuatu yang Mika sembunyikan dari Alhan dan ia sangat ingin mengetahui itu.
__ADS_1