
Jam dua siang, Firdaus sampai ke apartemen miliknya dengan menenteng bungkusan makan siang untuknya dan Melur, ia tidak ingin makan tanpa Naya.
Ceklek....
Firdaus menekan handle pintu dan membuat pintu apartemen terbuka, ia menatap ruang tamu yang kosong mungkin saja Melur belum bangun dari tidurnya. Ia meletakkan makanan tadi di atas meja lalu berjalan ke kamar yang ditempati Melur berniat untuk membangunkannya.
Namun, Melur sudah bangun semenjak 30 menit yang lalu saat seseorang mengetuk pintu apartemen mereka yang dia pikir suaminya pulang tapi ternyata seseorang mengantarkan kertas berbentuk amplop padanya berwarna coklat.
Karena penasaran dia pun membukanya dan kaget saat melihat foto Firdaus bersama Naya di cafe tadi dua jam yang lalu.
"Sayang, kamu sudah bangun. Maaf ya, tadi mas keluar sebentar untuk membeli makanan," ujar Firdaus tak sepenuhnya berbohong, Melur yang sudah merasa sakit hati dan kecewa turun dari ranjang lalu menatap suaminya.
Wajahnya sembab akibat terlalu menangis melihat foto suaminya bersama Naya, ia merasa di bohongi.
"Benarkah hanya untuk membeli makanan, atau baru saja bertemu dengan perempuan lain," kata Melur membuat wajah Firdaus pias.
Pasalnya dari mana Melur tahu jika ia baru saja bertemu dengan Naya padahal ia tidak memberi tahu istrinya sama sekali.
"Sayang, aku...!"
"Cukup, Mas. Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi karena foto ini cukup menjelaskan dengan siapa kamu bertemu,"
__ADS_1
Melur keluar dari kamar, hatinya sakit tidak pernah ia merasakan sakit seperti ini meski dulu Arkhan meninggalkannya demi wanita lain.
Firdaus kembali membulatkan mata mendengar ucapan istrinya lalu mengambil lembaran foto yang berada di depan dadanya, ia melihat foto tersebut kembali membuat ia terkejut.
"Siapa yang sudah mengambil foto ku, apa semua ini rencana Naya. Kurang hajar kamu Nay, apa kamu ingin menghancurkan hubungan ku dengan istriku," gumam Firdaus meremas foto tersebut yang berada di dalam genggamannya.
Merasa Melur tidak lagi berada di dalam kamar, dia pun berjalan keluar mencari istrinya yang sedang berada di meja makan. Membuka bungkusan tadi yang di bawa oleh suaminya.
"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan," kata Firdaus takut kalau Melur akan pergi meninggalkannya.
"Kita makan dulu dan setelah itu baru kita bicara," ujar Melur karena perutnya sudah lapar melihat rendang dan ayam panggang kesukaannya.
Firdaus menelan ludah, ia tidak pernah setakut ini pada perempuan tapi melihat Melur tidak tersenyum membuat ia kikuk bahkan untuk meminum air saja tidak bisa.
"Apa mas hanya berdiri saja sampai nanti?" tanya Melur dengan datar melihat suaminya bengong, Firdaus duduk lalu mengambil piring dan menyendok nasi beserta kawan-kawannya. Ia makan dengan perasaan tidak menentu, sesekali ia menatap Melur yang asik menikmati makan siangnya.
"Apa kau sudah melakukannya?" tanya seseorang lelaki yang sedang menghubungi seseorang di telepon.
"___""____,"
"Bagus, kamu pantau terus kemanapun dia pergi. Kamu harus selalu memberikan informasi padaku,"
__ADS_1
"____"""_____,"
"Sudah kalau begitu, ingat jangan sampai ketahuan,"
Tit....
Ponsel tersebut ia matikan, senyum menyeringai dan sorot mata yang tajam membuat orang akan takut melihatnya.
"Kamu akan hancur, Fir!"
Gumam lelaki tersebut, lelaki yang memendamkan api dendam karena ia kalah bersaing dalam bisnis dengan Firdaus. Lelaki yang penuh dengan ambisi tersebut tak lain adalah Saudara tiri Firdaus pada perempuan lain.
Entah apa yang terjadi 25 tahun yang lalu, orang tuanya membuat kesalahan dan meninggalkan Lelaki tersebut bersama ibunya dan menikah dengan Bu Fatma ibundanya Firdaus kini api balas dendam itu muncul.
"Farid, kamu sedang apa sayang?" Seseorang perempuan cantik memanggil anak semata wayang dari suaminya, kini mereka tinggal bersama dan menetap di Jakarta, ia hidup menjanda setelah suaminya pergi meninggalkannya karena pada masa itu hidup dalam kemiskinan.
"Tidak, Bu. Aku baru saja berbicara dengan seseorang," kata Farid.
"Oh ya, Siapa?" tanya Bu Julia.
"Bukan siapa-siapa, Ma. Ya sudah, aku mau balik ke kantor lagi dan ingat, Mama istirahat saja," kata Farid mencium wanita yang begitu dia sayang, selama ini dia bekerja mati-matian untuk menghidupi Mamanya karena mereka tinggal berdua.
__ADS_1
"Kamu hati-hati Farid, ingat umur kamu sudah 28 tahun. Kapan kamu akan mencari istrinya Farid," tanya Bu Yulia melihat putra semata wayangnya belum juga menikah di saat umurnya sudah menginjak 28 tahun.
"Aku akan menikah jika sudah bertemu dengan wanita yang tepat Bu!," kata Farid tersenyum. ia pergi meninggalkan ibunya yang sedang pusing memikirkan dirinya yang belum menikah.