
Matahari mulai terbenam, langit berwarna merah terlihat sangat jelas di pinggir laut. Deburan ombak terdengar sangat jelas menghembas batu karang, buih-buih dilautan terlihat indah.
Meera duduk di pinggir pantai bersama Nisa, di temani secangkir teh. Nisa sangat suka melihat sunset di sore hari, apalagi duduk di pinggir pantai sangat jelas terlihat.
"Hai...!"
Meera dan Nisa menoleh ke asal suara ternyata Zaki berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
"Boleh bergabung tidak?" tanya Zaki.
Nisa mengangguk lalu menoleh ke arah Meera.
"Wah, jadi nyamuk gue disini? Mas Zaki aku titip Nisa, aku mau ke kamar sebentar ponselku ketinggalan," kata Meera melihat tidak ada ponsel di celananya.
"Meera, nanti kamu kesini lagi kan?" tanya Nisa tidak enak jika berduaan sama Zaki di pinggir pantai.
"Tenang, aku datang kok tapi untuk sekarang aku tidak mau jadi nyamuk, Bye," kata Meera berlalu pergi kembali menoleh ke belakang melambaikan tangan pada sahabatnya dan tiba-tiba ia tak sengaja menabrak seseorang.
Brukk...
__ADS_1
Ponsel seseorang terjatuh membuat Meera kaget, lalu ia menoleh ke depan.
"Maaf, Mas. Saya tidak sengaja,"
"Kalau jalan pakai mata gak sih, gara-gara loe ponsel gue jatuh," kata Lelaki memakai celana di bawah lutut dan baju kaos berwarna biru.
"Gue kan sudah minta maaf, kenapa masih marah?" tanya Meera menatap lelaki yang sedikit membuat moodnya berubah.
"Hello, ponsel gue jatuh karena loe. Jadi loe harus tanggung jawab," kata lelaki tersebut menatap Meera.
"Tanggung jawab apaan, Ponsel loe gak rusak kenapa gue harus ganti rugi?" Kata Meera menatap lelaki yang membuat ia kesal.
"Bodo amat," kata Meera berlalu meninggalkan lelaki berperawakan sedang dengan kulit sedikit gelap dengan hidung bangir.
"Dasar cewek aneh," kata Rafa melihat ponselnya yang tidak rusak, ia berjalan ke luar ke pesisir pantai untuk melihat suasananya.
Sementara di kamar Resort, Melur baru saja selesai shalat setelah beberapa jam tertidur sedangkan Firdaus sedang berdiri menatap pantai dari jendela kamarnya yang mengarah ke pantai.
Melur berjalan ke arah Firdaus, ia memeluk suaminya dari belakang. Merasa tangan istrinya melingkar di pinggangnya, ia pun berbalik arah menatap istrinya.
__ADS_1
"Kenapa sayang, apa kamu ingin makan?" tanya Firdaus menatap wajah Istrinya.
"Tidak, aku tidak ingin apa-apa? Aku hanya ingin mas tetap ada disini," kata Melur memeluk suaminya dengan erat, bahkan ia ingin merasakan lebih dari itu.
"Mas akan selalu ada buat istri, Mas. Kapan pun itu," kata Firdaus membawa kepala Melur ke dada bidangnya.
"Apa mas tidak marah lagi sama Melur," tanya Melur, Firdaus diam menatap wajah cantik Istrinya tapi jika ia menangis bagaikan anak kecil hilang ibunya.
"Awalnya Mas marah, mas cemburu tapi mas sadar tidak semuanya istri mas yang salah," kata Firdaus.
"Jadi mas gak marah lagi sama Melur kan?" tanya Melur sekali lagi.
Firdaus menggeleng kepalanya, lalu mencium istrinya dan mendapat ciuman di bibir Melur membuat Melur ingin lebih, melihat tidak ada penolakan dari Melur. Firdaus kembali mencumbui Melur, istrinya pun hanya memejamkan mata.
"Mas, Melur lapar," kata Melur membuat suasana harus di jeda sesaat membuat Firdaus harus menahan gairah.
"Tapi nanti kita mulai lagi kan," kata Firdaus menggoda suaminya, Melur hanya mengangguk lalu kembali merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan.
Mereka turun ke bawah, menuju kafe resort untuk makan malam sedangkan Meera dan Nisa juga berada disana.
__ADS_1